• Indeks Berita
  • Redaksi
  • Mitra
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber
  • Pedoman Pemberitaan Ramah Anak
  • Kontak
Bontang Post
  • Home
  • Bontang
  • Kaltim
  • Nasional
  • Advertorial
    • Advertorial
    • Pemkot Bontang
    • DPRD Bontang
  • Ragam
    • Infografis
    • Internasional
    • Olahraga
    • Feature
    • Resep
    • Lensa
  • LIVE
No Result
View All Result
  • Home
  • Bontang
  • Kaltim
  • Nasional
  • Advertorial
    • Advertorial
    • Pemkot Bontang
    • DPRD Bontang
  • Ragam
    • Infografis
    • Internasional
    • Olahraga
    • Feature
    • Resep
    • Lensa
  • LIVE
No Result
View All Result
Bontang Post
No Result
View All Result
Home Catatan Opini

Banjir Kota Bontang sebagai Bahan Refleksi Implementasi Pendidikan Lingkungan

by BontangPost
29 November 2017, 11:13
in Opini
Reading Time: 3 mins read
0
Suyanik, M.Pd
Guru SMAN 1 Bontang
Jl. DI Panjaitan Gg Piano 11 No  59 Bontang

Suyanik, M.Pd Guru SMAN 1 Bontang Jl. DI Panjaitan Gg Piano 11 No  59 Bontang

Share on FacebookShare on Twitter

Oleh:

Suyanik, M.Pd

Guru SMAN 1 Bontang

Jl. DI Panjaitan Gg Piano 11 No  59 Bontang

Kemerosotan mutu lingkungan  di kota Bontang  telah sangat merisaukan. Banjir yang melanda di wilayah kota Bontang bagian selatan pada Selasa 21 November lalu hendaknya menjadi peringatan besar bagi semua warga Bontang. Pendidikan merupakan salah satu aspek yang berperan sangat penting dalam membina generasi muda agar selalu menjaga lingkungan. Sebagai guru Biologi, pembelajaran tentang lingkungan sangat menarik jika kita menggunakan teknik Outdoor education yang berarti pemanfaatan potensi lingkungan sebagai obyek dalam materi yang akan disampaikan. Aktivitas yang dilakukan berupa observasi atau jelajah lingkungan, mengenal kasus-kasus lingkungan, diskusi penggalian solusi dan selanjutnya melakukan aksi lingkungan,

Musibah banjir yang telah melanda kota Bontang tercinta dapat digunakan sebagai bahan refleksi tentang pelaksanaan pembelajaran topik gangguan keseimbangan lingkungan. Pembelajaran tentang lingkungan tidak hanya mengedepankan aspek kognitif dan mengesampingkan aspek pembentukan karakter dan aktivitas belajar siswa. Hal ini tentu merupakan suatu masalah dalam pengelolaan pembelajaran. Siswa harus kita ajak untuk melakukan berbagai tindakan yang dapat mendukung upaya penyelamatan lingkungan.

Dengan upaya tersebut siswa tidak hanya akan mementingkan sosok dirinya saja, akan tetapi juga masyarakat dan lingkungannya. Guru harus dapat menyadarkan siswa bahwa mereka secara individu dan bersama dapat berbuat sesuatu untuk turut membantu dalam upaya pelestarian  Sumber Daya Alam (SDA)  dan Lingkungan Hidup (LH).

Baca Juga:  Tak Hujan, Debit Air Sungai Meluap 

Untuk menjalankan amanat tersebut, penulis menggunakan model pembelajaran Science Tecnology and Society (STS). Model pembelajaran ini dimulai dengan melihat fakta yang terjadi di lingkungan kita. Banyaknya lahan kosong, terjadinya pengerasan tanah, dan banjir yang terjadi merupakan fakta yang menunjukkan ketidakseimbangan atau gangguan bahkan menuju ke arah kerusakan lingkungan. Masalah lingkungan hidup bukan hanya persoalan teknis, melainkan juga masalah moral dan persoalan perilaku manusia, karena itu perlu etika dan moralitas untuk mengatasinya.

Tahap  awal dari kegiatan ini adalah siswa diberi invitasi berupa gambar-gambar tentang gangguan lingkungan. Selanjutnya siswa melakukan eksplorasi dengan observasi di daerah gundul akibat kebakaran hutan dan pembuatan jalan. Pada kegiatan ini dengan menggunakan Lembar Kerja Siswa (LKS) siswa melakukan pengukuran suhu lingkungan, pH tanah, dan tingkat kesuburan tanah. Pada LKS sudah tercantum beberapa pertanyaan sebagai bahan diskusi yang memancing siswa untuk menemukan masalah dan mencari solusi pemecahannya.

Pada kegiatan tersebut siswa di latih untuk trampil menggunakan alat-alat yang berfungsi sebagai indikator tentang kondisi lingkungan yang masih bagus atau sudah terganggu. Alat pengukur kondisi lingkungan tersebut antara lain suhu lingkungan baik yang manual maupun elektrik serta tingkat kesuburan tanah. Kegiatan yang dilakukan siswa adalah mengukur suhunya, mengukur tingkat kesuburan tanah, dan mengamati struktur tanah. Siswa juga membandingkan indikator tersebut pada daerah yang banyak tanamannya.

Baca Juga:  Kisah Inspiratif Warga Bontang: Dhika Pratama Putra (286); Pesepak Bola Muda Main di Liga Nasional

Setelah observasi siswa melakukan praktikum yang membuktikan/ mengamati bahwa tanah yang gundul jika di papar oleh air hujan akan berdampak pada terkikisnya permukaan dan menyebabkan permukaan tanah menjadi kering dan tandus. Sebaliknya, permukaan tanah yang ditumbuhi oleh pepohonan dan banyak seresah daun di bawahnya, akan memecah energi  guyuran hujan sehingga tidak mengikis permukaan tanah. Akar pepohonan dan butiran tanah gembur yang berada di permukaan tanah akan mengikat air dengan baik serta menghasilkan mata air yang jernih dan kaya dengan mineral. Pada fase ini siswa dapat melihat secara nyata bagaimana kekuatan air bisa mengikis dan menyisakan tanah yang gersang. Demikian juga bagaimana pepohonan dapat menciptakan mata air yang jernih.

Selanjutnya adalah fase eksplanasi, siswa harus dapat mengkomunikasikan informasi, ide-ide, konsep-konsep, dan penjelasan baru untuk mengintegrasikan pemecahan masalah berdasarkan pengetahuan yang diperoleh. Pada fase ini siswa diberi kesempatan untuk mengaplikasikan pengetahuan dan keterampilan kedalam masalah baru yang relevan. Pada fase ini hasil belajar pada ranah kognitif dan ketrampilan dikembangkan. Siswa dibimbing untuk mampu mentransfer pengetahuan dan keterampilan sains ke dalam aspek-aspek yang terdapat pada disiplin ilmu dan realitas yang lain.

Baca Juga:  Kaligrafer Pertama yang Raih Juara di FASI Nasional 

Fase selanjutnya adalah fase aksi atau aplikasi Pada kegiatan ini siswa melakukan tindakan nyata berupa penanaman pohon di sekitar sekolah. Siswa juga di latih bertanggung jawab memelihara pohon yang di tanam secara klasikal. Pohon yang di tanam di pertanggung jawabkan pemeliharaannya oleh masing-masing kelas. Tindakan nyata juga dilakukan dengan menanam bakau di wilayah hutan mangrove. Kegiatan penanaman bakau ini dilakukan atas bekerjasama dengan pihak Balai Taman Nasional Kutai (BTNK). Dalam kerjasama ini BTNK menyediakan 400 bibit tanaman bakau untuk di tanam di wilayah mangrove yang berada di bumi perkemahan Pramuka di Salebba.

Demikianlah sekelumit kegiatan yang telah penulis lakukan dalam pembelajaran sebagai upaya dan kegiatan nyata guna menyelamatkan lingkungan. Semoga terjadinya banjir di kota Bontang minggu yang lalu dapat dijadikan refleksi bahwa upaya kita ternyata belum cukup, harus terus ada upaya lain, kegiatan lain, yang mengikutsertakan segenap warga dan penentu kebijakan demi kelestarian dan kenyamanan kota Bontang di masa mendatang (yan adi w).

Tags: banjircatatanwarga bontang
ShareTweetSendShare

Bergabung dengan WhatsApp Grup Bontang Post untuk mendapatkan informasi terbaru: Klik di Sini. Simak berita menarik bontangpost.id lainnya di Google News.

Ikuti berita-berita terkini dari bontangpost.id dengan mengetuk suka di halaman Facebook kami berikut ini:


Previous Post

Ajak Peserta Tingkatkan Pengetahuan untuk Pilkada 2018

Next Post

Wartawan VS DPRD Berlangsung Sengit

Related Posts

Maafkanlah Gubernur
Opini

Maafkanlah Gubernur

13 April 2026, 18:21
Pengeluaran Warga Bontang Tertinggi di Kaltim, Capai Rp2,6 Juta Per Bulan
Bontang

Pengeluaran Warga Bontang Tertinggi di Kaltim, Capai Rp2,6 Juta Per Bulan

31 Maret 2026, 08:00
Siring Ambrol di Sungai Dekat Masjid Al Furqan Bontang Jadi Prioritas Perbaikan Drainase
Bontang

Siring Ambrol di Sungai Dekat Masjid Al Furqan Bontang Jadi Prioritas Perbaikan Drainase

10 Maret 2026, 08:00
Atasi Genangan di Belimbing, Pemkot Bontang Bangun Drainase Rp3,7 Miliar di Kawasan Masjid Al Furqon
Bontang

Atasi Genangan di Belimbing, Pemkot Bontang Bangun Drainase Rp3,7 Miliar di Kawasan Masjid Al Furqon

6 Maret 2026, 14:03
Luas Banjir 14 Februari 2026 Diperkirakan Lampaui 2025, Bapperida Lakukan Pemetaan
Bontang

Luas Banjir 14 Februari 2026 Diperkirakan Lampaui 2025, Bapperida Lakukan Pemetaan

17 Februari 2026, 18:29
Banjir Rendam Empat Kelurahan di Bontang, 5.819 Jiwa Terdampak
Bontang

Banjir Rendam Empat Kelurahan di Bontang, 5.819 Jiwa Terdampak

14 Februari 2026, 18:21

Terpopuler

  • 25 Atlet Bontang Dicoret dari Porprov Kaltim 2026, Terbukti Cabutan dari Luar Daerah

    25 Atlet Bontang Dicoret dari Porprov Kaltim 2026, Terbukti Cabutan dari Luar Daerah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bontang Berharap Masuk Daftar Penerima Tambahan Dana Rp20,5 Triliun dari Pusat

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ragam Alasan Masyarakat Pilih Golput

    2 shares
    Share 2 Tweet 0
  • Bontang Absen di Singa Cup

    1 shares
    Share 1 Tweet 0
  • Berpura-pura Belanja, Komplotan Pencuri Gasak Tas Berisi Emas 200 Gram dan Rp30 Juta di Bontang

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Kategori

Arsip

  • Indeks Berita
  • Redaksi
  • Mitra
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber
  • Pedoman Pemberitaan Ramah Anak
  • Kontak

© 2020 Bontangpost.id - Developed by Vision Web Development.

No Result
View All Result
  • Home
  • Bontang
  • Kaltim
  • Nasional
  • Advertorial
    • Advertorial
    • Pemkot Bontang
    • DPRD Bontang
  • Ragam
    • Infografis
    • Internasional
    • Olahraga
    • Feature
    • Resep
    • Lensa
  • LIVE

© 2020 Bontangpost.id - Developed by Vision Web Development.