BONTANG – Maraknya pelajar merokok menjadi perhatian khusus bagi Dinas Kesehatan dan Keluarga Berencana (Diskes-KB). Faktor kurangnya pengawasan orang tua, faktor lingkungan sekitar, hingga pergaulan yang salah menjadi faktor pemicu anak-anak usia pelajar sudah berani menghisap rokok.
Kendati demikian, Kepala Diskes-KB Indriati As’ad menyangkal jika data 20 persen anak Bontang usia pelajar sudah menghisap rokok. Kata dia, data itu merupakan data pelajar secara nasional.
“Kami sendiri belum pernah mendata sampai sejauh itu,” kata Indriati, Jumat (4/8) kemarin.
Namun demikian, Diskes-KB sudah melakukan beberapa cara agar angka pelajar yang merokok bisa ditekan. Diantaranya melakukan penyuluhan dan tes uji kadar karbon dioksida pada saluran pernafasan siswa, atau lebih dikenal dengan Screening CO2 Analysis. Untuk penyuluhan, ini rutin dilaksanakan setiap puskesmas di masing-maisng wilayah kerjanya. Namun materinya tidak hanya seputar bahaya rokok saja, tetapi juga mengenai kesehatan reproduksi hingga budaya hidup sehat, termasuk bahaya rokok di dalamnya.
“Jadwalnya tidak tentu. Karena setiap puskesmas juga harus membagi waktu dengan banyaknya sekolah di wilayah kerjanya,” ungkapnya.
Selain itu, baru-baru ini Diskes-KB juga baru saja melakukan program Screening CO2 Analysis. Program ini bertujuan untuk menguji kadar karbondioksida pada saluran pernafasan siswa. Kata Indri, program ini bisa terlaksana berkat kerjasama dengan Diskes Provinsi. Namun hingga kini, baru satu sekolah saja yang sudah dilakukan tes ini, yakni SMAN 1 Bontang.
Cara kerjanya lanjut Indri, nantinya para siswa akan dites dengan alat CO2 Analysis . Apabila hasil tes diatas 4 ppm, dapat dipastikan siswa tersebut dalam kondisi terpapar oksigen dan segera butuh penanganan khusus.
“Namun bukan berarti setiap diatas 4 ppm itu berarti perokok. Bisa jadi dia hidup di lingkungan perokok sehingga menjadi perokok pasif, ataupun hidup di lingkungan yang banyak asapnya,” terang Indri.
Untuk mengetahui apakah perokok atau bukan, nantinya tugas dari guru Bimbingan Konseling nya lah yang akan mewawancarainya.
“Tentunya guru BK nya juga telah kami beri pembekalan sebelumnya. Jikapun ada ditemukan, ada siswa yang mengaku karena rokok, maka tugas gurunya lah yang akan mencarikan solusi,” pungkasnya. (bbg)







