bontangpost.id – Seluruh instansi di lingkungan Pemerintah Kota Bontang menyepakati prevalensi stunting di Bontang saat ini ialah 21,8 persen.
Saat dikonfirmasi, Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Pemkot Bontang Dasuki mengatakan bahwa kesepakatan tersebut dicapai usai adanya perdebatan panjang dalam momen rembuk stunting beberapa waktu lalu.
Pasalnya, selama ini data yang dimiliki oleh beberapa instansi pemerintah beragam. Ada yang menyebutkan prevalansi stunting di Bontang sebesar 21 persen, 21,6 persen, hingga 22 persen.
“Jadi saat ini perspektif kami (pemerintah) sama. Kompak menyebutkan data prevalensi stunting saat ini 21,8 persen,” tegasnya, Kamis (10/8/2023).
Melakukan verifikasi data di lapangan, kata Dasuki merupakan langkah Pemkot Bontang untuk menekan angka stunting. Ia mengakui bahwa perbaikan data lebih gencar dilakukan pemerintah ketimbang aksi nyata.
Alasannya, apabila aksi nyata dilakukan tanpa adanya perbaikan data yang tepat, maka program pengentasan stunting tidak akan berjalan maksimal dan dianggap percuma, sebab potensi tidak tepat sasarannya cukup besar.
“Kalau datanya sudah sesuai dan akurat setelah itu bisa kami lakukan tindakan lainnya yang bersentuhan langsung dengan masyarakat. Karena sudah ada acuannya. Kalau mau program aksi nyata tanpa ada perbaikan data siapa yang bertanggung jawab kalau stunting di Bontang angkanya tetap sama,” ujarnya gamblang.
Ia meyakini stunting di Bontang seharusnya di bawah 14 persen, sebab faktor pemicu utama stunting seperti kemiskinan ekstrem di Bontang tidak ditemui alias tidak ada kasus. Prevalensi stunting saat ini diyakini adanya data ganda.
“Makanya fokus kami diperbaikan data. Masih ada waktu tahun depan untuk membuat program pengentasan stunting. Saya yakin angka stunting di Bontang di bawah 14 persen. Sebab, persoalan selama ini ialah adanya kekeliruan data saja,” tutupnya. (*)







