BONTANG – Sudah jatuh tertimpa tangga. Ungkapan tersebut yang melekat pada warga Berbas Pantai Andi Herna. Musibah terjatuh dari tangga bangunan rumahnya pada pekan lalu berbuntut panjang. Tinggi tangga sekira 3 meter berbahan kayu. Sekira pukul 13.00 Wita pada Selasa (24/12/2019) lalu.
Pasca jatuh, ia mengeluhkan adanya pendarahan, nyeri, pusing, demam, perut mual, dan pembengkakan di bagian wajah sebelah kiri. Seketika, suaminya Sakbani membawanya ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Taman Husada. Awalnya pembengkakan hanya sebesar kepalan satu tangan. Namun, perlahan-lahan membesar.
“Jadi kepala ini langsung terkena benturan keras dengan lantai. Bagian wajah ini seperti ditarik-tarik,” kata Andi Herna saat awak media Kaltim Post (induk Bontangpost.id) menyambangi ruang Edelweis 2, tempat ia dirawat.
Ia mendapatkan informasi dari tenaga medis di RSUD Taman Husada bahwa ia mengidap tumor jinak. “Di surat rujukan itu disebutkan bahwa terdapat tumor jinak,” ucapnya.
Perkembangan klinis setelah dirawat hampir tiga hari mulai membaik. Terbukti pembengkakan mulai kempes. Namun kadar hemoglobin darahnya masih di bawah kategori normal.
“Hemoglobinnya setelah di cek darah kemarin (dua hari lalu) di angka 8,3 g/dL. Padahal normalnya 10 ke atas,” sebut dia.
Ia mengaku sempat mengalami operasi pengangkatan tumor pada 2004 di bagian sama. Proses operasi dijalani di salah satu rumah sakit di Kota Makassar. Tenaga medis saat itu sempat mengatakan ada akar yang tidak diangkat. Akan tetapi itu tidak membahayakannnya.
“Memang benar, sudah 15 tahun saya tidak apa-apa. Karena jatuh jadi keras seperti ini,” terang perempuan berusia 30 tahun ini.
Rencananya, Andi Herna akan dirujuk ke Rumah Sakit Abdoel Wahab Sjahranie (AWS) Samarinda. Akan tetapi kepastian dirujuk menunggu kondisi istrinya stabil terlebih dahulu. Sehubungan dengan kadar hemoglobin darahnya.
Sakbani mengaku setuju apabila demi kesembuhan istrinya harus dirujuk. Kendati itu menjadi kekhawatiran dalam segi finansial. Terlebih, ia tidak memiliki sanak saudara di Samarinda.
“Karena biaya pengantaran, makan, dan lain-lainnya pasti tidak sedikit. Walaupun untuk pengobatan sudah ditanggung oleh BPJS,” ujar Sakbani.
Apalagi, ia baru sebulan mendapatkan pekerjaan. Setelah sekian lama melintang menyodorkan lamaran. Kini, ia berprofesi sebagai kurir salah satu rumah makan di Tanjung Laut.
Sementara, dokter umum RSUD Taman Husada Richard mengatakan kondisi pasien Andi Herna mulai membaik. Hal ini dibuktikan dengan tidak adanya keluhan saat ia melakukan visitasi ke ruang perawatan pasien. Kendati dia enggan membeberkan diagnosa dari pasien tersebut.
“Tekanan darahnya 110/80 mmHg, denyut jantung normal, hanya ada pembengkakan di bagian wajah,” kata dokter Richard.
Alasan pasien dirujuk ialah untuk membutuhkan penanganan lebih lanjut lagi. Ia belum bisa memastikan kapan pasien dirujuk. Saat ini transfusi darah masih dilakukan tenaga medis di RSUD Taman Husada agar kadar hemoglobinnya masuk kategori normal.
“Kalau sudah stabil pasti kami rujuk,” ucapnya.
Kadar hemoglobin pun telah meningkat. Sebab semula sempat di angka 5 g/dL. Selain transfusi, pasien juga mendapatkan penanganan berupa pemberian vitamin K. Fungsinya untuk membantu pembekuan darah akibat benturan. Pun demikian dengan pemberian anti nyeri ketika pasien mengeluhkannya. (*/ak/kpg)







