• Indeks Berita
  • Redaksi
  • Mitra
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber
  • Pedoman Pemberitaan Ramah Anak
  • Kontak
Bontang Post
  • Home
  • Bontang
  • Kaltim
  • Nasional
  • Advertorial
    • Advertorial
    • Pemkot Bontang
    • DPRD Bontang
  • Ragam
    • Infografis
    • Internasional
    • Olahraga
    • Feature
    • Resep
    • Lensa
  • LIVE
No Result
View All Result
  • Home
  • Bontang
  • Kaltim
  • Nasional
  • Advertorial
    • Advertorial
    • Pemkot Bontang
    • DPRD Bontang
  • Ragam
    • Infografis
    • Internasional
    • Olahraga
    • Feature
    • Resep
    • Lensa
  • LIVE
No Result
View All Result
Bontang Post
No Result
View All Result
Home Bontang

Distribusi Komoditas Jadi Penyebab Biaya Hidup Mahal

by BontangPost
10 Februari 2017, 13:02
in Bontang
Reading Time: 2 mins read
0
BELUM MANDIRI: Harga komoditas pangan di Bontang bergantung pada lancarnya proses distribusi. (FAHMI FAJRI/BONTANG POST)

BELUM MANDIRI: Harga komoditas pangan di Bontang bergantung pada lancarnya proses distribusi. (FAHMI FAJRI/BONTANG POST)

Share on FacebookShare on Twitter

 

BONTANG – Minimnya lahan produksi komoditas pangan membuat Bontang mesti mendatangkannya dari luar daerah. Hal ini berdampak pada harga-harga komoditas yang lebih mahal ketimbang daerah lainnya. Sehingga, biaya hidup di Bontang menjadi tinggi dan bahkan termahal di Kaltim berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kaltim.

Kepala Dinas Koperasi, Usaha Kecil Menengah, dan Perdagangan Bontang, Mursyid mengaku terkejut melihat data BPS Kaltim yang menyebut Bontang sebagai kota dengan pengeluaran termahal di Kaltim. Namun begitu, dia mengamini pernyataan BPS Kaltim tersebut. Pasalnya, kondisi-kondisi yang diklaim sebagai penyebab Bontang menjadi daerah termahal di Kaltim memang benar adanya.

“Pernyataan dari BPS tersebut benar. Untuk komoditas pangan, Bontang belum bisa memenuhinya secara mandiri. Biaya transportasi untuk mendatangkan komoditas tersebut juga semakin membuat harganya mahal,” kata Mursyid ditemui Bontang Post, Kamis (9/2) kemarin.

Bila dibandingkan dua kota besar di Kaltim, Samarinda dan Balikpapan, jarak distribusi barang-barang ke Bontang memang lebih jauh. Sementara bila dibandingkan Kutai Timur (Kutim), lahan pertanian di Bontang begitu minim. Karenanya wajar bila kemudian harga-harga barang di Bontang menjadi lebih mahal bila dibandingkan daerah-daerah tersebut.

Baca Juga:  Trek Ekstreme Warnai Offroad Bhayangkara Cup II 2017

“Meski secara garis besar harga-harga komoditas di Bontang lebih mahal, namun ada juga komoditas yang harganya jauh lebih murah di Bontang. Misalnya harga besar tawon, kemasan 10 kilogram dihargai Rp 126 ribu di Bontang. Di Kutai Kartanegara (Kukar), harganya mencapai Rp 132 ribu,” jelasnya.

Kendala-kendala yang dialami selama proses distribusi barang-barang ini juga ditengarai menyebabkan harga-harganya menjadi lebih mahal. Yang paling tampak yaitu kondisi laut bergelombang tinggi dan cuaca buruk yang membuat pengiriman barang dari luar Kaltim seperti Jawa maupun Sulawesi membuat pasokan berkurang yang berimbas pada meningkatnya harga.

“Kalau distribusi sedang lancar, tentu harganya menjadi stabil seperti di daerah-daerah lain. Makanya perlu juga ditekankan kapan pendataan BPS itu dilakukan. Kalau dilakukan saat kondisi distribusi buruk, ya wajar bila Bontang digolongkan sebagai yang termahal di Kaltim. Karena harga komoditas di Bontang itu naik turun sesuai keadaan,” urai Mursyid.

Baca Juga:  Peserta Tes CPNS Keluhkan Soal TKP

Pengeluaran masyarakat yang menjadi indikator biaya hidup menurut Mursyid bakal terdampak kondisi defisit keuangan yang sedang melanda Bontang. Apalagi dengan pengurangan gaji pada para pegawai negeri sipil (PNS) dan honorer dalam lingkup Pemkot Bontang. Hal ini menurutnya akan membuat masyarakat akan menyesuaikan pengeluaran dengan keadaan saat ini.

“Bila sebelumnya boros, saat ini akan mulai berhemat. Pengeluaran-pengeluaran yang tidak perlu akan dikurangi,” tambahnya.

Terpisah, Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) Bontang mempertanyakan pendataan yang dilakukan BPS Kaltim tersebut. Hipmi mempertanyakan kesimpulan BPS yang menyebut Bontang sebagai kota dengan biaya hidup termahal di Kaltim.

“Kami ragu dengan pendataan tersebut. Menurut kami, Bontang belum termasuk daerah dengan biaya hidup termahal,” kata ketua Hipmi Bontang, Fachruddin Ismail.

Baca Juga:  Hebat! Bontang Post FC Lolos ke Perempatfinal Sebagai Juara Grup B

Dia menyatakan, dari pantauan Hipmi di daerah-daerah di Kaltim, biaya hidup di Bontang masih lebih murah. Misalnya, biaya sewa rumah di Bontang terbilang lebih murah ketimbang di Balikpapan atau Kutim. Hal inilah yang menimbulkan keheranan.

“Maka dari itu saya sangsi kenapa BPS bisa menyimpulkan seperti itu. Saya pikir BPS perlu melakukan pendataan lebih menyeluruh, sehingga menghasilkan kesimpulan yang lebih akurat,” tambahnya.

Diberitakan sebelumnya, BPS Kaltim merilis data pengeluaran per kapita disesuaikan (PKD) masing-masing daerah di Kaltim. Pengeluaran PKD ini menggambarkan rata-rata pengeluaran masyarakat. Dalam hal ini, Bontang memiliki rata-rata pengeluaran terbesar di antara daerah-daerah lain di Kaltim.

Berdasarkan data BPS Kaltim, rata-rata PKD Bontang mencapai Rp 15,98 juta per tahun. Jumlah ini mengalahkan kota-kota maju lainnya seperti Samarinda sebesar Rp 13,85 juta serta Balikpapan yang mencapai Rp 13,7 juta. (luk)

Print Friendly, PDF & Email
Tags: biaya hidupbontang
ShareTweetSendShare

Bergabung dengan WhatsApp Grup Bontang Post untuk mendapatkan informasi terbaru: Klik di Sini. Simak berita menarik bontangpost.id lainnya di Google News.

Ikuti berita-berita terkini dari bontangpost.id dengan mengetuk suka di halaman Facebook kami berikut ini:


Previous Post

Belasan Siswa SMA Diduga Keracunan

Next Post

Peringati Hari Pers, PWI-Bontang Post Kampanye Anti-Hoax

Related Posts

BMKG Ingatkan Potensi Hujan Menengah–Tinggi di Kaltim Sampai 20 November
Kaltim

BMKG Ingatkan Potensi Hujan Menengah–Tinggi di Kaltim Sampai 20 November

15 November 2025, 13:00
Pemkot Bontang Borong Empat Penghargaan Keterbukaan Informasi Publik Kaltim 2025
Bontang

Pemkot Bontang Borong Empat Penghargaan Keterbukaan Informasi Publik Kaltim 2025

6 Oktober 2025, 09:00
Dalami Kasus Dugaan Pelecehan Seksual, Polisi Panggil Oknum Pimpinan Ponpes
Kriminal

Dalami Kasus Dugaan Pelecehan Seksual, Polisi Panggil Oknum Pimpinan Ponpes

20 Desember 2023, 12:00
Ganti Jargon, Lampu Hias Bontang Jago Dicopot
Bontang

Ganti Jargon, Lampu Hias Bontang Jago Dicopot

23 Januari 2022, 17:23
Padat Penduduk, Berikut Protokol Penanganan Covid-19 di Rusun Api-Api
Bontang

Penghuni Rusunawa Api-Api Diduga Terpapar Covid-19 dari Pesta Pernikahan

21 Oktober 2020, 12:18
UPZ Yabis Buka Pelayanan 24 Jam
Bontang

Zakat Fitrah Wilayah Bontang Diprediksi Naik

18 April 2020, 08:00

Terpopuler

  • 2.753 Warga Bontang Tak Lagi Ditanggung BPJS Gratis dari Pusat, Ini Solusi Pemkot

    2.753 Warga Bontang Tak Lagi Ditanggung BPJS Gratis dari Pusat, Ini Solusi Pemkot

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Proyek Renovasi Rujab Kaltim Rp25 Miliar Sampai ke Pusat, Kemendagri Turunkan Tim Periksa Belanja

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Neni Beri Sinyal Mutasi Pejabat Bontang Digelar Akhir April

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kursi DPRD Bontang Kosong, PDIP Mulai Proses PAW dan Siapkan Pengganti, Ini Sosoknya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Komplotan Anak di Bawah Umur Bobol Kos di Loktuan Bontang Demi Main Game Online

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Kategori

Arsip

  • Indeks Berita
  • Redaksi
  • Mitra
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber
  • Pedoman Pemberitaan Ramah Anak
  • Kontak

© 2020 Bontangpost.id - Developed by Vision Web Development.

No Result
View All Result
  • Home
  • Bontang
  • Kaltim
  • Nasional
  • Advertorial
    • Advertorial
    • Pemkot Bontang
    • DPRD Bontang
  • Ragam
    • Infografis
    • Internasional
    • Olahraga
    • Feature
    • Resep
    • Lensa
  • LIVE

© 2020 Bontangpost.id - Developed by Vision Web Development.