SAMARINDA – Permukaan Sungai Mahakam masih tenang hingga lepas salat Isya. Lalu lintas masih ramai. Jam di tangan Alimin (48) menunjukkan pukul 20.39 Wita. Warga di Jalan KH Mas Mansyur, Kelurahan Loa Bakung, Kecamatan Sungai Kunjang, tiba-tiba hening. Lalu….duaaarrr. Suara ledakan menggelegar. Seperti bom.
Ketenangan malam berganti menjadi panik. Pekikan tolong meraung-raung. Warga berhamburan keluar rumah. Ledakan yang ditimbulkan mencapai radius sekitar 3 kilometer. Selasa (5/2) malam, dua kapal motor yang tambat di Sungai Mahakam meledak.
Pria paruh baya itu bersantai di Dermaga Sei Mahakam. Berdua bersama rekannya. Alimin adalah penjaga dermaga. Sementara keluarganya ada di dalam, bersama rekannya dia melihat air Sungai Mahakam yang tenang. “Nongkrong saja, Mas. Pas di dekat dermaga ini,” ucapnya sembari menunjuk ke tempat duduk.
Melepas tawa, Alimin dan rekannya panik saat KM Amalia yang mengangkut sembako berikut tabung elpiji meledak. Kapal bercat putih biru itu lebih dulu tambat di dermaga tersebut. Sejak kemarin siang, kru kapal menaikkan barang bawaan. Bersama sembako, elpiji yang rata-rata berat 12 kg sebagian sudah muat ke kapal.
“Begitu meledak, lari semua, Mas. Saya lihat memang dari buritan kapal KM Amalia,” sambung Alimin.
Jamaludin (50), Ramadhan (20), Arman (25), Ningsih (20), dan Muchtar (20), berada dalam kapal. Semuanya istirahat. Hanya Alam (40), salah satu kru yang sempat keluar dari kapal sebelum kejadian. KM Amalia adalah kapal yang lebih dulu tambat ke dermaga. Sementara KM Tanjung Mas, baru tiba dari Tanah Hulu, tanpa muatan.
Kaltim Post sempat bertemu dengan Alam. Dia menyebut, kapal dengan muatan 50 ton itu belum jelas kapan kembali ke Bidukbiduk, Berau, Kaltim. “Tadi siang muat air mineral, tapi belum selesai,” sebutnya.
Rencananya, hari ini, kru bakal kembali memuat sembako dan lainnya. Rencana itu buyar seketika, setelah kapal meledak. Mata Alam berkaca-kaca, dua rekannya, yakni Arman dan Jamaludin belum jelas keberadaannya. Sementara Muchtar dan Ramadhan berada di RS Dirgahayu. Sedangkan Ningsih berada di RS Hermina. Mata Alam berkaca-kaca, selain dua temannya yang masih simpang siur keberadaannya, uang Rp 40 juta yang ditaruh di dalam kapal, tak jelas di mana. Namun, tas tersebut ditemukan dalam kondisi terbuka.
Ledakan berkekuatan tinggi itu juga merusak sebagian dermaga yang dihuni Alimin dan keluarganya. “Sementara mungkin tempat tetangga dulu. Khawatir dengan bangunannya,” timpal Alimin.
Dari pantauan harian ini, pria bernama Ningsih yang dirawat mengalami luka bakar cukup serius. Para korban dibawa ke RS Dirgahayu dan RS Hermina. Sedangkan dua korban lainnya, menjalani perawatan tertutup oleh tim dokter. Alimin tidak merasa, ada aroma gas. Bahkan, kabel terbakar pun tidak ada. “Kalau penyebabnya saya juga tidak tahu pasti,” sambung Alimin.
Area langsung disterilkan. Yang bisa masuk hanya relawan search and rescue (SAR), polisi, dan awak media. Dari TKP, aroma tumpahan minyak begitu menyengat tadi malam. Termasuk gas. Hingga pukul 22.15 Wita tadi malam, unsur relawan masih berusaha mencari dua korban yang menghilang. Namun, Kanit Siaga SAR Samarinda dari Basarnas Kaltim-Kaltara Dede Hariana menjelaskan, tak ada proses pencarian kemarin malam. “Kondisinya tidak memungkinkan, karena kami tidak ingin ada pencarian korban lain,” sebutnya.
Pukul 07.30 Wita hari ini, tim relawan gabungan baru mulai melakukan pencarian. “Kalau posko, di sini (Dermaga Sei Mahakam) saya pikir aman-aman saja,” tambahnya. Terpisah, Kepala Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Polresta Samarinda Iptu Hardi menjelaskan, sejauh ini penyebab kapal meledak masih ditelusuri. “Kami coba data ulang dulu, makanya pihak-pihak yang bersangkutan kami panggil,” sebutnya.
Kejadian kapal meledak di Sungai Mahakam, kembali mengingatkan peristiwa di galangan kapal milik PT Rimba Karya Rayatama. Satu orang dinyatakan meninggal dunia akibat ledakan di landing craft-tank (LCT) Rimba Raya XXXI. Ledakan tersebut mengakibatkan Muksin (41) meninggal dunia. Sedangkan ledakan kapal semalam, belum bisa dipastikan penyebabnya. (*/dra/dwi/k15/kpg)







