• Indeks Berita
  • Redaksi
  • Mitra
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber
  • Pedoman Pemberitaan Ramah Anak
  • Kontak
Bontang Post
  • Home
  • Bontang
  • Kaltim
  • Nasional
  • Advertorial
    • Advertorial
    • Pemkot Bontang
    • DPRD Bontang
  • Ragam
    • Infografis
    • Internasional
    • Olahraga
    • Feature
    • Resep
    • Lensa
  • LIVE
No Result
View All Result
  • Home
  • Bontang
  • Kaltim
  • Nasional
  • Advertorial
    • Advertorial
    • Pemkot Bontang
    • DPRD Bontang
  • Ragam
    • Infografis
    • Internasional
    • Olahraga
    • Feature
    • Resep
    • Lensa
  • LIVE
No Result
View All Result
Bontang Post
No Result
View All Result
Home Bontang

Sungai Mahakam Surut, Warga Mahulu Mendulang Emas hingga Raup Rp3,7 Juta Sepekan

by Redaksi Bontang Post
22 Agustus 2026, 17:00
in Bontang
Reading Time: 4 mins read
0
Puput, seorang pencari emas tradisional, duduk memegang dulang hitam di air dangkal untuk memisahkan butiran emas dari pasir di bantaran Sungai Mahakam, kawasan Long Bagun Ilir, Kabupaten Mahakam Ulu (Mahulu). Puput menjadikan surutnya Sungai Mahakam sebagai mata pencaharian utamanya sejak kemarau melanda. Dari aktivitas mendulang sejak pagi hingga sore hari, ia mampu mengantongi rata-rata 500 milligram emas per hari yang dijual kepada pengepul seharga Rp1,9 juta per gram. (FOTO: JODY KRISTIANTO / KALTIM POST)

Puput, seorang pencari emas tradisional, duduk memegang dulang hitam di air dangkal untuk memisahkan butiran emas dari pasir di bantaran Sungai Mahakam, kawasan Long Bagun Ilir, Kabupaten Mahakam Ulu (Mahulu). Puput menjadikan surutnya Sungai Mahakam sebagai mata pencaharian utamanya sejak kemarau melanda. Dari aktivitas mendulang sejak pagi hingga sore hari, ia mampu mengantongi rata-rata 500 milligram emas per hari yang dijual kepada pengepul seharga Rp1,9 juta per gram. (FOTO: JODY KRISTIANTO / KALTIM POST)

Share on FacebookShare on Twitter

BONTANGPOST.ID, Mahakam Ulu – Surutnya Sungai Mahakam akibat kemarau tak hanya membatasi aktivitas warga di Mahakam Ulu (Mahulu). Bagi sebagian masyarakat, kondisi tersebut justru membuka peluang untuk mencari penghasilan dari aktivitas mendulang emas di bantaran sungai.

Sepanjang aliran Sungai Mahakam di Mahulu, dari hilir hingga hulu, warga terlihat memanfaatkan bantaran yang mulai terbuka akibat surutnya air. Dengan peralatan sederhana, mereka mencari logam mulia di antara pasir, kerikil, dan batuan.

Salah satunya Taufik, Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) yang memilih mendulang emas di sela pekerjaannya.

Sudah sekitar sepekan Taufik menjalani aktivitas tersebut. Pagi hari, ia tetap masuk kantor dan melakukan absensi. Setelah pekerjaan di kantor tidak terlalu padat, ia turun ke sungai.

Menjelang siang, Taufik kembali menjemput anaknya pulang sekolah. Setelah itu, ia bersama istri dan anaknya kembali ke bantaran Sungai Mahakam untuk mencari emas.

“Seminggu sudah kami begawi (kerja) emas,” kata Taufik.

Penghasilan Sepekan Bisa Samai Gaji Sebulan

Bagi Taufik, kemarau kali ini justru membawa peluang. Dalam sehari, ia mengaku bisa mendapatkan sekitar 800 miligram emas.

Jika dikumpulkan selama sepekan, hasilnya bahkan bisa menyamai atau melampaui gaji bulanannya sebagai pegawai.

“Seminggu aku juga gajiku sebulan di kantor,” ujarnya.

Dalam sepekan, Taufik menyebut penghasilannya bisa mencapai sekitar Rp3,6 juta hingga Rp3,7 juta per orang.

Baca Juga:  Beras Tembus Rp1 Juta di Mahulu, Kemarau Putus Jalur Logistik

“Beruntung kemarau ini. Sekitar Rp3,6 juta sampai Rp3,7 juta kemarin seminggu, satu orang,” katanya.

Namun, mencari emas bukan pekerjaan yang sekadar mengandalkan keberuntungan. Di lokasi, warga menggunakan metode semprot dan sedot. Material pasir di bantaran sungai disemprot menggunakan aliran air bertekanan, kemudian disedot untuk diproses kembali.

Peralatan yang digunakan antara lain selang berukuran besar, pompa, pipa, serta perangkat penyaring untuk memisahkan material yang mengandung emas.

“Semprot, sedot sekalian,” ujar Taufik sambil menjelaskan cara kerja peralatan tersebut.

Material pasir yang sudah diproses kemudian masih dimanfaatkan warga lain, salah satunya sebagai bahan baku bangunan.

Aktivitas di bantaran sungai juga terasa seperti ruang keluarga sementara. Taufik membawa bekal makan siang, sedangkan istri dan anaknya ikut berada di lokasi.

“Sekalian piknik sama mamanya,” katanya.

Kemarau yang membuat permukaan Sungai Mahakam menyusut juga membuat warga memanfaatkannya untuk berbagai aktivitas, mulai dari mandi hingga bermain air.

Di lokasi yang sama, seorang pengeret atau pengangkut material juga memperoleh penghasilan dari aktivitas tersebut. Dalam sehari, seorang pengeret disebut bisa mengangkut hingga sekitar 10 ret material. Satu ret pasir dijual kepada pembeli dengan harga sekitar Rp200 ribu.

Artinya, aktivitas di bantaran sungai tidak hanya memberikan penghasilan bagi pencari emas, tetapi juga warga lain yang terlibat dalam pengangkutan dan pemanfaatan material pasir.

Baca Juga:  Pria Misterius Ditemukan Mengambang di Sungai Mahakam

Untuk memulai aktivitas tersebut, warga juga membutuhkan modal. Taufik memperlihatkan berbagai peralatan yang digunakan, sebagian dirakit secara sederhana dan memanfaatkan barang bekas.

“Sekarang dalam satu unit kami membangun minimal Rp15 juta,” katanya.

Modal tersebut belum termasuk risiko kerusakan peralatan maupun biaya operasional. Hasil emas yang diperoleh pun tidak selalu sama setiap hari.

Dari Pekerjaan Sampingan hingga Mata Pencaharian

Jika Taufik membagi waktu antara kantor dan sungai, cerita berbeda datang dari Puput. Bagi dia, mendulang emas telah menjadi pekerjaan utama.

Puput sudah lebih dari sebulan mencari emas di bantaran Sungai Mahakam kawasan Long Bagun Ilir. Ia mulai bekerja sejak air sungai surut dan masih bertahan karena musim kemarau belum berakhir.

Setiap hari, Puput mulai bekerja sekitar pukul 08.00 hingga 11.00. Setelah beristirahat, aktivitas kembali dilanjutkan hingga sekitar pukul 17.00.

Dengan duduk di air dangkal, Puput mengayunkan dulang berisi pasir dan kerikil secara perlahan. Material yang lebih ringan terbawa aliran air, sementara material dengan berat jenis lebih tinggi tertinggal di dasar dulang.

Di sekitarnya terdapat sejumlah peralatan sederhana, seperti perahu rakit, selang yang terhubung dengan mesin pompa, payung, kursi lipat, ember, dan wadah air.

Baca Juga:  Nekat Berenang, Pemuda 19 Tahun Tenggelam di Bawah Jembatan Kembar Sungai Mahakam

Dalam sehari, Puput mengaku bisa memperoleh sekitar 500 miligram emas. Namun, hasil tersebut bergantung pada lokasi dan material yang didapat.

Emas hasil dulangan kemudian dijual kepada pengepul dengan harga sekitar Rp1,9 juta per gram.

Keahlian mendulang emas diperoleh Puput dari pengalaman serta belajar dari masyarakat lokal yang lebih dulu menjalani pekerjaan tersebut.

Sama seperti Taufik, Puput juga membutuhkan modal untuk menyiapkan peralatan. Biaya membangun satu unit peralatan disebut mencapai sekitar Rp12 juta hingga Rp15 juta.

Bagi Puput dan warga lainnya, sungai bukan sekadar tempat mencari emas. Sungai menjadi tempat bekerja, beristirahat, makan, hingga mandi ketika ketersediaan air bersih semakin terbatas.

Di Tengah Kabar Perusahaan Emas

Di tengah aktivitas mendulang emas secara tradisional, kabar mengenai rencana atau keberadaan perusahaan emas di wilayah Mahulu juga menjadi perhatian.

Puput mengaku tidak terlalu mempermasalahkan kemungkinan tersebut. Jika suatu saat aktivitas perusahaan benar-benar masuk, ia memilih mengikuti perkembangan dan melihat pilihan yang dianggap terbaik.

Namun, kehadiran perusahaan berskala besar berpotensi menjadi tantangan bagi masyarakat yang selama ini menggantungkan penghasilan dari aktivitas mencari emas secara tradisional.

Untuk saat ini, Puput memilih tetap bekerja di sungai selama peluang tersebut masih tersedia.

“Masih ada peluang. Masih enak untuk makan,” ujarnya. (KP)

Tags: Mahakam UluMahulusungai mahakam
ShareTweetSendShare

Bergabung dengan WhatsApp Grup Bontang Post untuk mendapatkan informasi terbaru: Klik di Sini. Simak berita menarik bontangpost.id lainnya di Google News.

Ikuti berita-berita terkini dari bontangpost.id dengan mengetuk suka di halaman Facebook kami berikut ini:


Previous Post

Pemuda Bontang Tembus Kompetisi Internasional, Andre Nirvana Wakili Kaltim di Malaysia

Next Post

Polisi Ungkap Modus Tambang Ilegal di Bontang, Aktivitas Berhenti Saat Dicek

Related Posts

Tarung Nyawa di Pedalaman Kaltim, Mahulu Butuh Ambulans Terbang demi Pasien Kritis
Kaltim

Tarung Nyawa di Pedalaman Kaltim, Mahulu Butuh Ambulans Terbang demi Pasien Kritis

14 September 2026, 15:01
Gas 3 Kg Tembus Rp250 Ribu, Bupati Mahulu Ancam Pihak yang Mainkan Harga Saat Bencana
Kaltim

Gas 3 Kg Tembus Rp250 Ribu, Bupati Mahulu Ancam Pihak yang Mainkan Harga Saat Bencana

20 Agustus 2026, 16:00
Kedalaman Sungai Kurang dari 1,5 Meter, Mahulu Tetapkan Status Siaga Darurat
Kaltim

Kedalaman Sungai Kurang dari 1,5 Meter, Mahulu Tetapkan Status Siaga Darurat

19 Agustus 2026, 10:39
Beras Tembus Rp1 Juta di Mahulu, Kemarau Putus Jalur Logistik
Kaltim

Beras Tembus Rp1 Juta di Mahulu, Kemarau Putus Jalur Logistik

10 Agustus 2026, 10:00
Cekcok dengan Pasangan, Perempuan di Tenggarong Tercebur ke Sungai Mahakam
Kaltim

Cekcok dengan Pasangan, Perempuan di Tenggarong Tercebur ke Sungai Mahakam

7 Agustus 2026, 07:10
Pemprov Kaltim Kebut Jalan Kubar-Mahulu, Siapkan Anggaran Rp90 Miliar
Kaltim

Pemprov Kaltim Kebut Jalan Kubar-Mahulu, Siapkan Anggaran Rp90 Miliar

24 Maret 2026, 13:16

Terpopuler

  • Jalan yang Dibangun dengan APBD Rp13 Miliar Ditutup Seng, Warga Kampung Gotong Royong Bontang Terdampak

    Jalan yang Dibangun dengan APBD Rp13 Miliar Ditutup Seng, Warga Kampung Gotong Royong Bontang Terdampak

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seng Penutup Jalan Gotong Royong Dibongkar Paksa, Wali Kota Neni; Fasilitas Publik Tidak Boleh Ditutup

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabar Jasad Bayi Ditukar Bantal Gegerkan Warga Bontang, Polisi Lakukan Penelusuran

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Polisi Pastikan Isu Jasad Bayi Ditukar Bantal di Bontang Rekayasa, Perempuan Akui Tak Hamil

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Akses Jalan Gotong Royong Ditutup, Warga Klaim Belum Terima Ganti Rugi Lahan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Kategori

Arsip

  • Indeks Berita
  • Redaksi
  • Mitra
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber
  • Pedoman Pemberitaan Ramah Anak
  • Kontak

© 2020 Bontangpost.id - Developed by Vision Web Development.

No Result
View All Result
  • Home
  • Bontang
  • Kaltim
  • Nasional
  • Advertorial
    • Advertorial
    • Pemkot Bontang
    • DPRD Bontang
  • Ragam
    • Infografis
    • Internasional
    • Olahraga
    • Feature
    • Resep
    • Lensa
  • LIVE

© 2020 Bontangpost.id - Developed by Vision Web Development.