BONTANG – Sebagai salah satu langkah menuju target zero lost time accident, PT Pupuk Kalimantan Timur (Pupuk Kaltim) menggelar Survey Safety Culture, Selasa (29/1/2019) di Ruang Mahoni Kantor Pusat Pupuk Kaltim. Menghadirkan Konsultan Safety Culture serta tim Champion Safety Culture dari Pupuk Indonesia Grup.
Direktur Teknik dan Pengembangan Pupuk Kaltim, Satriyo Nugroho dalam sambutannya menuturkan survei ini merupakan bagian dari program Safety Culture Pupuk Indonesia yang telah dilaksanakan sebelumnya oleh anggota Holding Pupuk Indonesia lainnya. Dengan tujuan untuk menilai tingkat budaya kesehatan dan keselamatan kerja (K3) di Pupuk Kaltim.
Adapun metode pengukuran adalah dengan menggunakan kuisioner yang harus diisi oleh level top management, middle management, pelaksana dan kontraktor guna menilai tingkat budaya K3 di Pupuk Kaltim. Pada kesempatan itu, ia mewakili jajaran Direksi dan Manajemen Pupuk Kaltim juga mengucapkan terima kasih kepada seluruh karyawan Pupuk Kaltim atas pencapaian 20.758.223 jam kerja aman tanpa kecelakaan hingga Desember 2018.
“Kami berharap seluruh karyawan dapat meningkatkan pencapaian jam kerja ini dan berperan aktif untuk terus menerus melakukan berbagai uapaya di bidang K3. Karena apabila K3 terlaksana dengan baik maka kasus kecelakaan dan penyakit akibat kerja dapat ditekan. Sehingga dapat tercapai tempat kerja yang aman, nyaman, sehat, dan tercipta produktivitas,” harap Satriyo.
Ia pun mengucapkan terima kasih kepada seluruh karyawan yang telah, sedang, dan akan terus mengembangkan serta membudayakan K3 sebagai bagian dari kontribusi untuk membangun perusahaan.

Acara pun dilanjutkan dengan pemaparan terkait Key Performance Indicators Establishment (KPIs) oleh Konsultan Safety Culture, Dr Bambang Murtjahjanto, M.Sc, PE. Ia menjelaskan bahwa KPI merupakan sebuah tolak ukur untuk mengejar target. Adapun budaya menurut teknologi terbagi menjadi empat tahap yakni bersifat patologis, reaktif, kalkulatif, proaktif, dan level paling tinggi yakni generatif.
KPI merupakan sebuah target-target yang perlu diperbaiki. “KPI-nya salah, arah kerja Anda salah. KPI-nya salah, arah bisnis juga salah. Jika tidak belajar standar dengan baik maka yang akan menjadi korban pertama adalah KPI,” tuturnya. Karakeristik KPI di antaranya relevan, fokus, representatif, tepat waktu, mengerti, sepakat, dilaporkan, diatur, sumber daya, dan dinilai. Karena standar adalah sebuah bukti bahwa sudah ada rujukan.
Survey Safety Culture pun ditutup dengan pengisian kuisioner oleh sekitar 200 lebih peserta yang hadir. (ra/adv)







