• Indeks Berita
  • Redaksi
  • Mitra
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber
  • Pedoman Pemberitaan Ramah Anak
  • Kontak
Bontang Post
  • Home
  • Bontang
  • Kaltim
  • Nasional
  • Advertorial
    • Advertorial
    • Pemkot Bontang
    • DPRD Bontang
  • Ragam
    • Infografis
    • Internasional
    • Olahraga
    • Feature
    • Resep
    • Lensa
  • LIVE
No Result
View All Result
  • Home
  • Bontang
  • Kaltim
  • Nasional
  • Advertorial
    • Advertorial
    • Pemkot Bontang
    • DPRD Bontang
  • Ragam
    • Infografis
    • Internasional
    • Olahraga
    • Feature
    • Resep
    • Lensa
  • LIVE
No Result
View All Result
Bontang Post
No Result
View All Result
Home Kaltim

Hari Mangrove di Kutim Diwarnai Keprihatinan, Aktivis Soroti Dugaan Pembabatan di Teluk Lingga

by Redaksi Bontang Post
28 Juli 2025, 15:59
in Kaltim
Reading Time: 2 mins read
0
Bekas zona mangrove di Teluk Lingga, Kutai Timur, yang kini gundul dan berubah fungsi. (Jufriadi/KP)

Bekas zona mangrove di Teluk Lingga, Kutai Timur, yang kini gundul dan berubah fungsi. (Jufriadi/KP)

Share on FacebookShare on Twitter

BONTANGPOST.ID, Kutim – Peringatan Hari Mangrove Sedunia yang jatuh pada 26 Juli tidak sepenuhnya menjadi ajang perayaan di Kutai Timur.

Justru sebaliknya, hari tersebut menjadi momentum untuk menyuarakan keprihatinan atas kondisi pesisir, khususnya di kawasan Teluk Lingga, Sangatta Utara.

‎Aktivis pemerhati lingkungan dan kebijakan publik dari Gerakan 20 Mei, Erwin, menyatakan bahwa pihaknya menyoroti adanya dugaan pembabatan kawasan mangrove untuk kepentingan pembangunan kafe tematik dan sektor wisata tanpa dasar izin lingkungan yang jelas.

“Kami sangat prihatin atas adanya dugaan pembabatan kawasan mangrove di Teluk Lingga. Mangrove bukan sekadar pepohonan di pesisir, melainkan sistem penyangga kehidupan, melindungi garis pantai dari abrasi, menjadi habitat biota laut, sekaligus berperan penting dalam mitigasi perubahan iklim,” ujar Erwin, Minggu (27/7).

‎Ia menegaskan bahwa perlakuan terhadap ekosistem pesisir harus dilakukan secara hati-hati, berbasis ilmu pengetahuan, dan tunduk pada peraturan yang berlaku.

Menurutnya, pembangunan yang baik bukan hanya soal estetika atau ekonomi, tapi juga memastikan keberlanjutan lingkungan dan melibatkan masyarakat sebagai pemilik ruang hidup.

‎“Kami memahami semangat pembangunan dan inisiatif kreatif seperti kafe tematik. Tapi pembangunan yang baik adalah yang berjalan seiring dengan keberlanjutan lingkungan dan partisipasi warga,” tuturnya.

“Jika pembangunan dilakukan tanpa izin, tanpa dokumen lingkungan seperti SPPL atau UKL-UPL, dan tanpa koordinasi dengan pemerintah desa, maka itu bukan sekadar pelanggaran administratif, tetapi bentuk pengabaian terhadap prinsip tata kelola yang baik dan keadilan ekologis,” sambungnya.

‎Erwin juga mendorong adanya keterbukaan dokumen perizinan dan ruang dialog antara pihak-pihak yang berkepentingan.

“Kami mengajak semua pihak duduk bersama, membuka dokumen secara transparan, dan mengedepankan pendekatan korektif. Jika memang ada pelanggaran, langkah pemulihan ekologis harus dilakukan secara konkret dan terukur,” tegasnya.

“Ini bukan soal menebus kesalahan semata, tetapi bagian dari komitmen menjaga Teluk Lingga sebagai warisan alam dan ruang hidup masyarakat pesisir Kutim,” bebernya.

‎Ia menutup pernyataan dengan penekanan bahwa tidak ada bentuk pembangunan yang sepadan dengan kerusakan ekosistem.

‎“Karena itu, kami akan terus mengawal isu ini, bukan untuk menghukum, tapi untuk memastikan Kutai Timur tumbuh sebagai daerah yang adil secara sosial dan lestari secara ekologis,” pungkasnya. (*)

Print Friendly, PDF & Email
Tags: mangrove KutimPembabatan di Teluk Lingga
ShareTweetSendShare

Bergabung dengan WhatsApp Grup Bontang Post untuk mendapatkan informasi terbaru: Klik di Sini. Simak berita menarik bontangpost.id lainnya di Google News.

Ikuti berita-berita terkini dari bontangpost.id dengan mengetuk suka di halaman Facebook kami berikut ini:


Previous Post

Kutim Tempati Peringkat Tiga Pernikahan Dini di Kaltim, Ini Penyebabnya ‎

Next Post

Enggak Perlu Ngutang ke Rentenir, Program Kaltim Ini Bagi-bagi Kredit hingga Miliaran

Related Posts

No Content Available

Terpopuler

  • Modus Bujuk Rayu hingga Pemaksaan, Residivis Pelecehan Anak di Bontang Utara Akui Ada 4 Korban

    Modus Bujuk Rayu hingga Pemaksaan, Residivis Pelecehan Anak di Bontang Utara Akui Ada 4 Korban

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sekolah Swasta Bontang Tolak Penambahan Kelas di SMA 1 dan 2, Guru Terancam Menganggur

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Residivis Kekerasan Seksual Anak di Bontang Kembali Berulah, 4 Orang Diduga Jadi Korban

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Polisi Ringkus Perempuan di Jalan Parikesit Bontang, Sabu Disembunyikan dalam Dompet

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Satpolairud Polres Bontang Bongkar Jaringan Sabu di Tanjung Laut Indah, Tiga Orang Diringkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Kategori

Arsip

  • Indeks Berita
  • Redaksi
  • Mitra
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber
  • Pedoman Pemberitaan Ramah Anak
  • Kontak

© 2020 Bontangpost.id - Developed by Vision Web Development.

No Result
View All Result
  • Home
  • Bontang
  • Kaltim
  • Nasional
  • Advertorial
    • Advertorial
    • Pemkot Bontang
    • DPRD Bontang
  • Ragam
    • Infografis
    • Internasional
    • Olahraga
    • Feature
    • Resep
    • Lensa
  • LIVE

© 2020 Bontangpost.id - Developed by Vision Web Development.