SAMARINDA – Badan Pusat Statistik (BPS) Kaltim mengumumkan bahwa inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) pada Maret 2018 sebesar 0,05 persen. Dengan tingkat inflasi tahun kalender sebesar 0,60 persen dan tingkat inflasi tahun ke tahun sebesar 2,59 persen.
Menurut Ria selaku Deputi Bidang Metodologi dan Informasi Statistik BPS Kaltim, dari 82 kota pantauan IHK nasional, sebagian besar kota mengalami inflasi pada bulan Maret 2018. Sebanyak 57 dan 25 kota lainya mengalami deflasi.
“Kalau kita lihat perbandingannya sama Jayapura sebesar 2,10 persen. Inflasi terendah terjadi di Sumenep 0,01 persen. Sedangkan deflasi tertinggi terjadi di Kota Tual minus 2,30 persen, terendah di Bulukumba minus 0,01 persen,” jelas Ria, Selasa (3/4) kemarin.
Di Kaltim, lanjut dia, terutama antara Samarinda dan Balikpapan pada Maret 2018 juga terjadi inflasi sebesar 0,05 persen. Pasalnya, pada Maret 2018 terjadi deflasi minus 0,12 persen di Samarinda dan inflasi 0,27 persen di Balikpapan.
Inflasi di Kaltim dipengaruhi oleh peningkatan indeks harga pada kelompok kesehatan sebesar 0,34 persen, kelompok sandang 0,23 persen, kelompok transportasi dan komunikasi 0,17 persen. “Kami menilai IHK ini kan merupakan salah satu indikator ekonomi yang digunakan untuk mengukur tingkat perubahan harga di tingkat konsumen, khususnya di daerah perkotaan,” katanya.
“Perubahan IHK ini dari waktu ke waktu menunjukan pergerakan harga dari paket komoditas yang dikonsumsi oleh rumah tangga. Kalau di Indonesia, tingkat inflasinya diukur dari presentase perubahan IHK dan diumumkan ke publik setiap awal bulan,” sambungnya.
Ria mengatakan, jika dibandingkan perkembangan IHK inflasi Tarakan pada Maret 2018, terjadi deflasi sebesar 0,03 persen. Deflasi di Tarakan dipengaruhi penurunan indeks harga pada kelompok bahan makanan sebesar minus 0,43 persen.
Selain itu, deflasi tersebut dipengaruhi kelompok transportasi dan komunikasi yang mengalami deflasi minus 0,04 persen, dan kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau minus 0,03 persen. (selengkapnya lihat infografis).
“Nah, dilihat dari kelompok sandang, inflasinya sebesar 1,34 persen. Seperti kelompok perumahan, listrik, air, gas, dan bahan bakar sebesar 0,09 persen. Inflasi itu merupakan peningkatan harga barang sehingga kemampuan orang membeli barang-barang tersebut menurun, pada suatu periode tertentu,” jelasnya.
Sedangkan deflasi merupakan penurunan harga barang-barang. Sehingga kemampuan orang membeli barang-barang tersebut meningkat pada suatu periode tertentu.
“Kita kalau belanja ke pasar misalkan tomat 1 kilogram harganya Rp 10 ribu. Dua hari kemudian harganya bisa naik jadi Rp 12 ribu. Itu tandanya inflasi lagi naik, kalau harganya turun, berarti deflasi. Ini kan sudah berdasarkan perkembangan Bank Indonesia. Yang penting jangan sampai inflasi Kaltim mencapai di atas 0.70 persen, sedangkan sekarang sudah 0.62 persen aja masih besar,” terangnya. (*/aj)
DATA INDEKS HARGA KONSUMEN DAN INFLASI KALTIM
MARET 2018
PENGELUARAN IHK IHK INFLASI ITK ITKT
Februari Maret Maret
Umum 134.85 134.91 0,05 0.60 2.59
Makanan jadi 147.14 147.20 0.04 0.50 2.68
minuman,
rokok dan
tembakau
Bahan makanan 138.56 138.37 -0.14 2.28 2.34
Perumahan
air, listrik, gas,
dan bahan bakar 131.52 131.55 0.02 0.61 3.97
Sandang 113.93 114.19 0.23 0.91 3.48
Kesehatan 132.44 132.89 0.34 0.89 2.43
Pendidikan,rekreasi 127.63 127.65 0.01 0.19 2.28
dan olah raga
Transportasi dan 133.84 134.06 0.17 -1.14 0.57
komunikasi
Sumber Data: BPS Kaltim 2018
Keterangan:
ITK: Inflasi Tahun Kalender
ITKT: Indeks Tahun ke Tahun
IHK:Indeks Harga Konsumen







