Penelusuran Tim Ekspedisi Penyelamatan Gambar Cadas
Jejak dan silsilah tapak tangan atau gambar cadas dalam gua Karts Mangkalihat, Sangkulirang menyimpan banyak misteri. Tim peneliti yang terdiri atas arkeolog dan geologi terkemuka Indonesia mencoba mengungkap teka-teki rock arts itu.
TANAH belum terlalu terang kala itu, tim ekspedisi sudah bersiap menuju Gunung Gergaji. Mereka berangkat dari Hambur Batu, Kecamatan Bengalon. Tim menggunakan moda transportasi kapal klotok menempuh sekira 40 kilomter. Di sana mereka ingin meneliti gambar cadas yang diperkirakan sudah berusia ribuan tahun.
“Penelitian ini dilakukan untuk terus melestarikan cagar budaya,” kata Silvano Hajid, Koresponden CNN Indonesia, di dalam video yang tayang di channel Youtube CNN Indonesia, bertajuk Inside Indonesia: Siapa Nenek Moyang Sangkulirang.
Perjalanan tim ekspedisi penyelamatan situs gambar cadas yang digawangi Balai Pelestarian Cagar Budaya Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) ini sedikit berat, karena harus melawan arus Sungai Bengalon. Ditambah lagi banyaknya batang pohon yang hanyut di tengah sungai. Namun halangan itu tak berarti lagi, karena dari kejauhan gunung Gergaji menampakkan batang hidungnya. Seperti namanya, gunung itu bergerigi bak gergaji.
“Biasanya gunung ini hanya didatangi oleh warga yang ingin mencari sarang burung walet. Dulu tidak ada yang tahu bahwa di sini peninggalan zaman pra sejarah,” kata Kusmin warga setempat.
Tim eskpedisi langsung memanjat tebing karts. Butuh tenaga ekstra, karena satu-satunya jalan menuju Gua Tewet, dimana gambar cadas itu berada adalah dengan mendaki sekira 40 meter, lalu memanjat tebing setinggi 20 meter. Di dalam gua, tim langsung mendapati gambar cadas. Berdasarkan pengamatan, gambar tersebut tergolong unik, pasalnya gambar itu sangat khas Kalimantan. Bahkan belum pernah ditemukan di tempat lain.
“Saya identifikasi, paling tidak ada 10 variasi, mulai dari tangan dan garis-garis atau hiasan di dalam gambar. Biasanya di daerah lain seperti Sulawesi, bahkan di dunia hanya telapak tangan saja. Tapi di sini ada isian (corak khas) di dalam gambar telapak tangan itu,” jelas Cecep Eka Permana , Dosen Arkeologi Universitas Indonesia.
Menurutnya, gambar ini sangat kental dengan khas kalimantan, karena di dalam gambar telapak tangan memuat gambar lain seperti motif tatto. Seperti diketahui, suku asli Kalimantan biasanya menggunakan tatto.
“Di Kalimantan itu ada tradisi buat tatto. Itu juga mungkin cikal bakal, tradisi itu berlanjut,” katanya.
Setelah itu tim juga melakukan pengambilan data. Salah satu sampel yang diambil adalah mengukur ancaman apa saya yang dapat merusak lukisan di dalam goa.
“Bisa lewat flora dan fauna, suhu udara, itu semua berpengaruh terhadap keaweten lukisan itu,” kata Falentinus Triwijaya, Tim Peneliti Balai Pelestarian Cagar Budaya Kaltim, yang juga dikutip dari video tersebut.
Potensi kerusakan yang paling serius adalah pengelupasan pada batu. Pasalnya, batu dengan gambar cadas itu terbuka secara berlapis.
“Bukan lukisannya yang terkupas. Tapi batu tempat lukisan itu terbuka dari bantuan induk,” tambahnya. (hd)







