bontangpost.id – Kepala Sekolah SD Negeri 001 Bontang Utara Yani Astutik membantah adanya informasi yang menuding dirinya melarang pedagang kantin berjualan di lingkungan sekolah.
Yani mengonfirmasi bahwa informasi yang beredar tidak sesuai dengan kejadian di lokasi. Yang mana salah seorang pedagang menyebut diperlakukan tidak manusiawi oleh pihak sekolah dengan cara melontarkan kata-kata kasar dan meminta Bhabinkamtibmas setempat untuk mengusir pedagang.
“Pernyataan pedagang yang beredar di media itu tidak benar. Dia menyebut saya arogan. Tapi, arogansinya dari sisi mana tidak disebutkan,” ujarnya saat dijumpai di ruang kerjanya, Selasa (25/10/2022).
Yani membeberkan kronologis sebenarnya. Sebelum pandemi Covid-19 sekolah yang ia pimpin itu memang memiliki lima kantin. Namun, selama pandemi pihak sekolah tidak mengizinkan pedagang untuk berjualan dan mewajibkan siswa untuk membawa bekal dari rumah. Hal itu berdasarkan aturan yang dikeluarkan oleh Tim Satgas Covid-19 Bontang.
Pada Juli 2022, pasca turunnya tren penyebaran Covid, pihak sekolah mendapat kesempatan dari BPOM Provinsi Kalimantan Timur dan Dinas Kesehatan Kota Bontang untuk mengikuti bimbingan teknis. Dalam kesempatan itu setiap sekolah diimbau untuk menertibkan pengelolaan kantin melalui koperasi. Artinya, sekolah hanya diizinkan menjual makanan melalui lembaga koperasi.
Berdasarkan imbauan tersebut, Yani beserta rekan guru lainnya melakukan rapat dengan melibatkan lima pedagang. Dalam forum itu, Yani menyebut bahwa pihaknya akan melakukan penilaian terhadap pedagang. Maksudnya, pedagang yang menjajakan makanan tidak sesuai dengan standar kesehatan yang ditetapkan BPOM dan Dinkes Bontang terpaksa harus dihentikan. Dari penilaian itu pihak sekolah mengerucutkan tiga pedagang yang lulus dari standar kesehatan dan BPOM.
“Kami sampaikan ke mereka itu dengam cara yang baik. Tidak dengan nada tinggi. Setelah rapat selesai semua menerima dan tidak ada masalah,” akunya.
Namun, keesokan harinya setelah rapat digelar salah seorang pedagang dari tiga yang terpilih itu keberatan. Yani tidak mengetahui persis alasan pedagang itu melakukan aksi protes di sekolah sambil mengancam akan memviralkan kejadian tersebut.
“Malah kami yang diancam. Baik itu pihak guru, komite sekolah termasuk saya juga,” tambahnya.
Melihat situasi tidak kondusif, Yani memutuskan untuk menutup kantin sampai dengan batas waktu yang tidak ditentukan. Hal itu sesuai rekomendasi dari Disdikbud Bontang, Satpol PP dan Bhabinkantibmas.
“Bhabinkantibmas di sini hadir itu untuk menengahi bukan untuk mengusir pedagang. Pedagang lainnya tidak ada yang keberatan. Hanya satu pedagang itu saja. Terus terang kami terganggu juga,” sebutnya.
Atas kejadian tersebut, Yani berkomitmen akan menghubungi para pedagang untuk berjualan kembali. Usai terbentuknya koperasi sekolah.
“Pasti akan kami panggil. Keadaannya sekarang kan kami belum punya koperasi. Itu dulu yang mau kita benahi,” tandasnya. (*)




