bontangpost.id – Proses Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) SD zonasi I dan afirmasi telah berakhir, Kamis (25/6/2020) kemarin. Namun tidak semua sekolah di Bontang yang berhasil memenuhi kuota. Seperti yang terjadi di SD Negeri 001 Bontang Utara (BU).
Dikatakan Kepala SDN 001 BU, Yani Astutik, dalam kalender akademik tahun ini, pihaknya menerima 96 murid baru. Nantinya mereka dibagi dalam 3 kelas, yang masing-masingnya terdiri 32 siswa.
Dalam zonasi I, sekolah yang terletak di Jalan Kapt Pierre Tandean, Kelurahan Bontang Kuala ini hanya berhasil menjaring 13 calon siswa dari 48 yang disediakan. Alias kuota 50 persen dari total murid diterima.
“Memang jauh dari kuota yang kami sediakan, mbak,” ujar Yani kala disambangi di kantornya, Kamis (25/6/2020) kemarin.
Sementara itu, untuk jalur afirmasi atau murid yang berasal dari keluarga tidak mampu, tersedia slot 17 siswa, atau 15 persen. Namun yang terjaring hanya 5 calon siswa.
“Afirmasi pun tidak terpenuhi,” beber Yani.
Dijelaskan, kurangnya calon siswa zonasi I terjaring di SDN 001 BU bukan karena sekolah itu sepi peminat. Namun lantaran dalam jarak 400 meter sekolah tersebut, banyak ruang terbuka hijau (RTH). Seperti yang termaktub dalam petunjuk teknis PPDB SD 2020, zonasi I dibuka bagi mereka yang bermukim maksimal 400 meter dari sekolah.
“Kalau mau ambil dalam 400 meter saja, memang sangat kurang. Kalau afirmasi kan harus menyertakan surat keterangan dari Dissos-PM (Dinas Sosial dan Pemberdayaan Masyarakat), makanya kurang juga,” bebernya.
Berkaca dari PPDB tahun-tahun sebelumnya, pendaftar di SDN 001 BU bakal membludak di zonasi II. Atau zonasi yang diperuntukkan bagi calon siswa yang bermukim di kelurahan terdekat sekolah. SDN 001 kebagian 4 kelurahan, di antaranya Gunung Elai, Api-Api, Bontang Baru, dan Bontang Kuala.
“Belajar dari tahun sebelumnya, paling banyak dari Bontang Kuala. Proporsinya bisa sampai 60 persen,” ujarnya.
Sebabnya, pihaknya mewanti-wanti ledakan pendaftar di zonasi II. Kata Yani, meski PPDB tahun ini seutuhnya daring, nyatanya masih banyak orangtua yang datang langsung ke sekolah. Alasannya, untuk memastikan agar anaknya benar terdaftar, pun karena tidak semua dari mereka paham teknis daftar daring.
“Misalnya zonasi I dan afirmasi, hampir semua orangtua datang ke sekolah,” ungkap Yani.
Untuk menghindari kerumunan dan menjaga agar protokol kesehatan selama proses PPDB berlangsung, SDN 001 sudah ancang-ancang.
Tepat di muka sekolah, dipasang spanduk agar semua yang memasuki sekolah wajib bermasker. Ketika masuk, seluruh pengunjung bakal dicek suhu tubuhnya menggunakan thermo gun.
Masuk ke ruang pendaftaran pun, sekolah membuat semacam bilik pembatas. Jadi orangtua dan panitia tidak bertatap muka secara langsung.
“Intinya sih, sebisa mungkin agar protokol dijaga,” pungkasnya. (*)







