Lebih Dekat dengan Endro Surip Efendi
Di antara para kuli tinta, nama Endro Surip Efendi merupakan salah satu yang cemerlang. Bagaimana tidak, di usianya yang menginjak 37 tahun pada April mendatang, Endro menjadi ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) termuda. Namanya juga dikenal sebagai hipnoterapis hingga ke mancanegara.
LUKMAN MAULANA, Samarinda
Keinginan untuk menjadi pewarta berita sudah muncul dalam diri Endro sejak masih remaja. Tepatnya ketika dia duduk di bangku kelas satu SMP. Dia tertarik dengan profesi wartawan karena menurutnya profesi ini memungkinkan untuk melihat dunia luar dan bepergian ke berbagai tempat. Serta dapat menambah wawasan.
“Bahkan menurut saya wartawan adalah satu-satunya profesi yang bisa menambah wawasan saya di setiap hari pekerjaannya,” ungkap Endro kepada Metro Samarinda (Bontang Post Group/Kaltim Post Group), Senin (13/3) kemarin.
Bukan sekadar cita-cita, Endro berniat serius menggeluti dunia jurnalistik sejak masih sekolah. Dimulai ketika dia menjadi pemimpin redaksi di Majalah Dinding Aksi Smanda di SMAN 2 Berau. Dia juga sempat magang di surat kabar Manuntung (sekarang Kaltim Post) perwakilan Kabupaten Berau.
Saat SMA itu pula Endro mengikuti Program Pendidikan Wartawan Jarak Jauh yang diselenggarakan Pusat Pelatihan Wartawan Indonesia (PPWI) Cakrajaya di Cepu, Jawa Tengah (Jateng). Keikutsertaannya pada program pelatihan itulah yang lantas mengantarkannya menjadi koresponden Majalah Cakrawala, Jawa Tengah (Jateng) untuk wilayah Kaltim.
Perjalanan jurnalistik Endro berlanjut saat kuliah di Universitas Mulawarman (Unmul) Samarinda. Di universitas berjuluk “Kampus Hijau” ini, Endro sempat mendirikan kelompok jurnalis mahasiswa. Dia pun sempat magang di surat kabar harian Swara Kaltim. Hebatnya, memasuki semester keempat kuliah tepatnya di tahun 2001, dia diterima bekerja sebagai wartawan di Kaltim Post.
“Saya memulai karier saya di Kaltim Post dari bawah. Mulai dari reporter magang, sampai menjadi redaktur utama. Saya juga sempat merangkap kepala sekretariat Redaksi Kaltim Post. Sekarang jadi wakil pimpinan redaksi Kaltim Post,” bebernya.
Suka-duka mewarnai perjalanan Endro sebagai seorang wartawan. Hal yang disukainya dari kegiatan mencari dan menulis berita ini adalah dia bisa bepergian ke berbagai tempat yang belum pernah didatanginya. Sementara salah satu dukanya, adalah ketika dia bertemu dengan narasumber yang tidak kooperatif dalam perjalanannya mencari berita.
“Kalau liputan yang paling berkesan buat saya itu saat liputan ke Long Apung di Nunukan. Saat itu pesawat yang saya tumpangi tergelincir. Alhamdulillah kami selamat, dan saya jadi dapat berita eksklusif,” kenangnya.
Bukan hanya piawai dalam merangkai kata, Endro juga pandai dalam berorganisasi. Di harian pagi pertama dan terbesar di Kaltim itu, Endro sempat menjadi organisatoris Latihan Jurnalistik Kaltim Post (LJKP). Yaitu wadah pendidikan dan pelatihan untuk mencetak para wartawan baru.
Dengan kecakapan yang dimilikinya, Endro lantas dipercaya oleh manajemen Kaltim Post Group menjadi General Manager (GM) dan kini sebagai Direktur Berau Post, surat kabar harian lokal anak perusahaan Kaltim Post Group (KPG) yang terbit di Berau.
Sebagai praktisi jurnalistik, Endro pernah tercatat sebagai ketua Forum Bahasa Media Massa (FBMM) Kaltim dan ketua Forum Penulis Ekonomi Moneter Indonesia (Forpemi) Samarinda.
Endro pun aktif bergerak dalam organisasi PWI Kaltim. Sempat dipercaya menjadi sekretatis PWI Kaltim, Endro lantas mendapat amanah menjadi ketua PWI Berau. Hingga di pengujung 2014 silam, secara aklamasi dia dipercaya menjabat ketua PWI Kaltim.
“Saya menjadi ketua PWI termuda di Indonesia. Saat dilantik dulu, usia saya 35 tahun. Sebagai ketua PWI, visi dan misi saya adalah bagaimana kami bisa terus mengadakan pelatihan demi meningkatkan kualitas wartawan. Salah satunya melalui Uji Kompetensi Wartawan (UKW),” tutur Endro.
Di sela kesibukannya, anak keempat dari lima bersaudara ini kerap menjadi pembicara seminar dan pelatihan jurnalistik. Baik di sekolah, lingkungan kampus, maupun organisasi sosial kemasyarakatan. Belakangan, Endro kemudian mendalami teknologi pikiran dan hipnoterapi dengan belajar di Adi W Gunawan Institute of Mind Technology Surabaya.
Diterangkan Endro, ketertarikan pada hipnoterapi berawal dari keinginannya mengobati masalah emosi yang diidapnya. Profesi wartawan yang begitu keras membuat waktunya banyak tersita untuk pekerjaan.
Alhasil, dia pun tidak punya cukup waktu untuk diluangkan bersama keluarganya. Bahkan, masalah pekerjaan kerap dibawanya ke rumah. Anak-anaknya yang polos dan tidak tahu apa-apa tak jarang menjadi korban pelampiasan emosinya.
“Dengan beban pekerjaan yang ada, saya jadi mudah marah. Banyak juga pengaruh negatifnya. Dampaknya pada keluarga. Dari situ timbul keinginan untuk memperbaiki diri agar tidak mudah emosi. Setelah mencari informasi, saya menemukan hipnoterapi. Awalnya untuk mengobati diri sendiri,” kisahnya.
Setelah mempelajari dan menekuninya, efek pengobatan hipnoterapi langsung dirasakan Endro. Emosinya menjadi stabil dan dirinya merasa nyaman. Dia jadi merasakan ketenangan saat berada di kantor dan juga rumah. Dari situlah keluarga dan teman-temannya mendorong Endro untuk menekuni hipnoterapi.
“Ketika saya jadi wartawan saya banyak bertemu beragam karakter manusia. Emosi mereka juga bermacam-macam. Dari situ ada keinginan saya selain memberikan informasi, juga ingin menolong orang lain. Salah satunya melalui hipnoterapi,” urai Endro.
Bukan hanya dukungan dari keluarga dan rekan, perusahaan media tempatnya bekerja pun mendukung Endro dalam menekuni hipnoterapi. Minatnya terhadap bidang ini terbilang tinggi, hingga dia mengikuti kelas 100 jam, mendalami Scientific EEG & Clinical Hypnotherapy.
Selain mengantongi sertifikat hipnoterapi dari Adi W Gunawan Institute of Mind Technology, Endro juga mengantongi sertifikat trainer dari lembaga-lembaga sejenis. Yaitu Quantum Life Transformation dan Hypnotherapy for Children.
Ilmu hipnoterapi yang dia pelajari lantas dimanfaatkannya untuk membantu sesama. Endro dikenal sebagai salah seorang praktisi hipnoterapis yang cakap dan andal. Walaupun berlatar belakang penulis, saat ini Endro lebih banyak mendedikasikan diri untuk membantu masyarakat mengatasi masalah dengan menggunakan teknik hipnoterapi berbasis teknologi pikiran.
“Terutama untuk lingkungan perusahaan saya. Karyawan yang bermasalah saya bantu dengan hipnoterapi. Misalnya ada wartawan yang kurang percaya diri, setelah saya terapi jadi lebih percaya diri dan bersemangat,” kata dia.
Sudah banyak klien yang dibantu Endro untuk lepas dari masalah. Mulai dari fobia, trauma, tidak percaya diri, luka batin, hingga mengendalikan nafsu makan. Termasuk sakit fisik yang disebabkan oleh psikis, juga bisa dibantu menggunakan metode hipnoterapi. Namanya pun banyak dikenal bukan hanya di Indonesia, namun sampai ke negeri jiran Malaysia.
“Banyak kasus yang sudah saya tangani. Yang paling berkesan yaitu kasus-kasus yang unik. Misalnya saya pernah melakukan terapi pada klien yang sebelas tahun tidak makan nasi. Saya juga terapi pada kelainan orientasi seksual. Perempuan yang sebelumnya lesbian dan laki-laki gay pernah saya terapi menjadi normal,” tandas ayah tiga anak ini. (***)
==Tentang Endro==
Nama: Endro Surip Efendi
TTL: Surabaya, 18 April 1979
Istri: Nur Jaya HAG
Anak:
- Tasya Nur Aulia
- M Rafli Effendi
- Sofia Citra Ananda
Pendidikan:
- SD 491 Surabaya
- SMP 34 Jakarta Utara
- SMAN 2 Berau
- Fakultas Perikanan Unmul
- STIE IBMI Jakarta
Alamat: Jalan Proklamasi 5 nomor 45 Samarinda








