Mochammad Imron Rosyadi bukan nama asing dalam dunia jurnalistik Kaltim. Berbagai bentuk pekerjaan kewartawanan telah dia rasakan di sepanjang kariernya. Siapa sangka Ketua Komisi Informasi (KI) Provinsi Kaltim ini sempat menjadi juru parkir demi bertahan hidup di Kota Tepian.
LUKMAN MAULANA, Samarinda
Menulis sudah menjadi hobi Imron tatkala duduk di bangku SMP Negeri Panceng, Gresik. Dia aktif mengisi artikel untuk majalah dinding (Mading) di sekolah. Beberapa karya tulisannya juga sempat dimuat di media massa kala itu. “Rasanya bahagia saat tulisan saya dimuat. Tulisan-tulisan itu lalu saya kliping. Sampai sekarang masih ada klipingnya,” kata Imron kepada Metro Samarinda (Kaltim Post Group), Sabtu (6/5) kemarin.
Dari kegemarannya itulah, lahir cita-cita Imron untuk menjadi wartawan. Menurutnya, wartawan adalah profesi yang mulia. Karena bisa membantu banyak orang khususnya yang sedang kesulitan. Melalui pemberitaan, kondisi masyarakat yang membutuhkan bantuan bisa diinformasikan secara luas. Yang kemudian menumbuhkan empati bagi para pembaca.
“Bukan hanya wartawan, saya juga bercita-cita menjadi penyiar radio. Saat sekolah dulu saya sering menirukan suara penyiar radio. Saya juga sering menjadi pembawa acara di berbagai kegiatan,” ujarnya.
Selepas SMA, Imron punya niat melanjutkan pendidikan ke jenjang kuliah. Namun kedua orang tuanya tidak mampu membiayai. Didasari tekad kuat untuk meraih impiannya, Imron memutuskan untuk merantau ke Kalimantan di tahun 1991. Samarinda menjadi destinasinya untuk memperbaiki hidup dan mengejar cita-cita.
“Niat saya ketika itu ingin bekerja sembari kuliah. Waktu itu Samarinda menjadi daerah yang menjanjikan banyak peluang,” ungkap Imron.
Sulung dari empat bersaudara ini masih ingat jelas bagaimana perjalanannya hingga tiba di Banua Etam. Tak punya uang, Imron meminjam uang Rp 100 ribu dari kredit usaha candak kulak untuk biaya merantau. Uang tersebut digunakannya untuk membeli tiket kapal barang sekaligus biaya hidup sepanjang perjalanan.
“Saya menumpang kapal barang, namanya Kapal Jupiter. Perjalanannya memakan waktu 4 hari 5 malam. Selama itu pula saya terombang-ambing derasnya ombak lautan,” kenangnya.
Empat hari di laut itu merupakan empat hari yang begitu berkesan dalam hidup Imron. Dia ingat sisa uangnya tinggal Rp 25 ribu saja kala itu. Tidak cukup untuk membeli makanan di kantin kapal karena mesti disisihkan untuk hidup di Samarinda. Beruntung dia bisa berteman dengan para pedagang yang ada di kapal waktu itu. Imron mempertontonkan kebolehannya dalam bercerita lucu dan menirukan berbagai jenis suara pada para pedagang tersebut.
“Saya bisa menirukan suara-suara, seperti suara anak kecil, atau suara tokoh-tokoh yang ada di telenovela dan sinetron. Karena terhibur dengan pertunjukkan saya, para pedagang memberi saya makanan,” kisah Imron.
Setibanya di Samarinda, Imron menumpang di kediaman pamannya, seorang tentara di Samarinda Seberang. Namun ternyata mencari pekerjaan di Samarinda tidak semudah yang dibayangkan. Mau tak mau dia menjadi juru parkir untuk bisa bertahan hidup. Waktu itu oleh mertua pamannya, Imron dimasukkan ke PT Perdana Muda, perusahaan yang mengurus parkir di Samarinda.
“Saya jadi juru parkir dari satu pasar ke pasar lainnya. Salah satunya di kawasan Citra Niaga. Selain juru parkir, saya juga membantu para pedagang dan pembeli mengangkat barang-barang mereka,” sebutnya.
Dari pekerjaannya ini, Imron bisa mengumpulkan Rp 90 ribu dalam sebulan. Penghasilannya tersebut jauh dari cukup untuk bertahan hidup di ibu kota Kaltim. Sehingga hari-hari pertamanya di Samarinda kala itu merupakan saat-saat yang sulit. Saking sulitnya, mi instan dianggapnya sebagai makanan paling mewah. Bahkan Imron sempat menangis karena tidak mampu membeli karcis untuk menonton film.
“Kebetulan saya suka nonton film. Tapi hari itu saya tidak bisa nonton film karena harga karcisnya naik, dari yang awalnya Rp 300 jadi Rp 350. Saat itulah saya menangis dan merasakan betapa susahnya menjadi orang miskin. Jangankan untuk nonton film, untuk beli baju saja saya tidak mampu,” urai Imron.
Setelah setahun menjadi juru parkir dan mengumpulkan uang, akhirnya Imron bisa mewujudkan keinginan mengenyam pendidikan di bangku kuliah. Dia kuliah di Jurusan Jurnalistik Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi (Stikom) Mahakam Samarinda. Beberapa bulan kuliah, Imron lantas melamar menjadi wartawan di Harian Pagi Suara Kaltim di tahun 1992. Di surat kabar inilah dia mengawali kariernya sebagai kuli tinta.
“Semua bidang liputan sudah saya rasakan ketika menjadi wartawan di Suara Kaltim. Mulai dari berita kota, politik, hingga kriminal. Jabatan terakhir saya di Suara Kaltim yaitu sebagai redaktur,” bebernya.
Beberapa liputan besar pernah dilakukan Imron sebagai wartawan Suara Kaltim. Di antaranya kasus dugaan pembunuhan yang dilakukan seorang dokter atas pembantunya. Kasus ini sempat menjadi headline dan ramai diperbincangkan di masyarakat. Sampai-sampai korannya waktu itu habis diborong tak bersisa.
Liputan lain yang dibanggakannya yaitu ketika secara eksklusif mewawancari Lilis Priscilla Leonard, istri Michael de Guzman. Michael de Guzman adalah geologis yang terlibat dalam skandal emas Bre-X di Kaltim. Imron merupakan satu-satunya wartawan yang berhasil mewawancarai Lilis serta memiliki fotonya. Bahkan fotonya tersebut direproduksi oleh media nasional ternama. Liputan inilah yang membuatnya dikenal dalam kancah jurnalistik nasional.
“Liputan ini yang mengantarkan saya jadi koresponden Liputan 6 SCTV untuk Kaltim di tahun 1997. Di tahun yang sama, saya juga dapat tawaran bekerja untuk Kantor Berita Antara,” jelas pria kelahiran Gresik, 45 tahun lalu ini.
Di SCTV dan Antara inilah, Imron semakin menempa kemampuan jurnalistiknya. Perlahan dia bisa merasakan semua bentuk kerja jurnalistik. Mulai dari yang sifatnya harian pagi, kantor berita, audiovisual, bahkan radio. Keinginannya menjadi penyiar radio terpenuhi di tahun 2007 ketika Imron bersama rekan-rekan wartawan lainnya mendirikan Radio Antara News yang sekarang bernama Suara Samarinda.
“Dalam kurun waktu 2010-2014, saya bekerja di lima tempat sekaligus. Selain profesi jurnalistik di SCTV, Antara, dan radio, saya juga menjadi tenaga ahli DPRD Kaltim dan dosen Ilmu Komunikasi di Universitas Nahdlatul Ulama (UNU),” paparnya.
Imron mengisahkan, selama kariernya sebagai wartawan, dia pernah mengalami kejadian yang menyedihkan. Bahkan nyaris merenggut nyawanya. Yaitu ketika tengah meliput budaya adat di daerah Busang, Kutai Timur (Kutim). Dalam perjalanan menyusuri Sungai Tengang, ketinting yang ditumpanginya bersama rombongan terbalik karena terhantam arus deras.
“Saya hanyut tenggelam di jeram sungai itu. Semua barang-barang saya hilang, kecuali kamera yang terus saya pegang. Beruntung saat itu saya berhasil diselamatkan. Padahal sebelumnya sudah banyak yang menjadi korban di jeram tersebut. Saya sangat bersyukur karena masih diberi umur panjang,” tandas ayah dua anak ini. (bersambung)







