• Indeks Berita
  • Redaksi
  • Mitra
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber
  • Pedoman Pemberitaan Ramah Anak
  • Kontak
Bontang Post
  • Home
  • Bontang
  • Kaltim
  • Nasional
  • Advertorial
    • Advertorial
    • Pemkot Bontang
    • DPRD Bontang
  • Ragam
    • Infografis
    • Internasional
    • Olahraga
    • Feature
    • Resep
    • Lensa
  • LIVE
No Result
View All Result
  • Home
  • Bontang
  • Kaltim
  • Nasional
  • Advertorial
    • Advertorial
    • Pemkot Bontang
    • DPRD Bontang
  • Ragam
    • Infografis
    • Internasional
    • Olahraga
    • Feature
    • Resep
    • Lensa
  • LIVE
No Result
View All Result
Bontang Post
No Result
View All Result
Home Bontang

Kisah Tim Pemusalaran Jenazah Pasien Covid-19

by Fitri Wahyuningsih
23 November 2020, 09:10
in Bontang
Reading Time: 2 mins read
0
Tim pemulasaran Covid-19 Bontang.

Tim pemulasaran Covid-19 Bontang.

Share on FacebookShare on Twitter

HARI jelang sore, tapi matahari masih terasa terik di langit Bontang. Suhu 30 derajat celsius menyiram alat pelindung diri (APD) lengkap yang membungkus sekujur tubuh. Peluh bercucur tak karuan. Tubuh basah sejadi-jadinya. APD itu membuat pergerakanya pun jadi lebih sukar. Belum lagi peti jenazah pasien dalam pengawasan (PDP) Covid-19 yang makin membuat pekerjaan ini bukan main tantangannya.

Kisah soal bocah yang meninggal dengan status PDP ini jadi topik pembicaraan. Dari mulut ke mulut. Obrolan warung kopi. Ramai pula di berbagai platform media sosial. Seperti Facebook dan Instagram.

Sementara di dimensi lain, orangtua jenazah berduka. Berduka tanpa banyak yang tahu. Berduka karena sang buah hati kembali ke pangkuan Tuhan terlalu dini. Berduka dalam keadaan PDP Covid-19. Berduka karena tak bisa mengantar jagoan kecil mereka ke tempat peristirahatan terakhir. Berduka dalam sepi, dalam kungkungan isolasi.

“Mungkin itu pengalaman paling miris yang pernah saya saksikan selama jadi tim pemakaman Covid-19,” ujar Bambang Tri Mulyono.

Baca Juga:  Bertambah 98 Pasien Covid-19, 9 Kelurahan Masuk Zona Merah

Bambang adalah satu dari 20 orang yang ditunjuk sebagai tim pemakaman Covid-19 di Bontang medio Maret 2020 lalu. Ketika kasus perdana Covid-19 hadir di Bontang. Komposisinya, 3 dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Bontang, 17 dari Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman, dan Pertamanan (DPKPP) Bontang. Bambang sendiri berasal dari Dinkes Bontang. Di OPD itu, dia juga menjabat Kasi Kesehatan Lingkungan (Kesling) dan Kesehatan Kerja dan Olahraga (Kesjaor).

“Kadang komposisinya 14 DKPP, sisanya Dinkes. Tidak tentu sih. Yang jelas, paling banyak dari sana (DKPP),” ungkapnya.

Tim pemakaman ini sejatinya satu paket dengan tim Satgas Penanganan Covid-19 Bontang. Mereka disiapkan kalau-kalau ada korban meninggal akibat Covid-19. Penunjukan mereka menimbang beberapa hal. Terutama soal kondisi tubuh. Harus tahan fisik agar kuat menjalankan tugasnya, mengkebumikan jenazah Covid-19. Harus kuat fisik, agar tak mudah terpapar virus SARS-CoV-2.

“Usia anggota tim mesti di bawah 40 tahun. Untuk menjaga kondisi tubuh, setiap kami diberi asupan gizi. Seperti susu steril dan vitamin,” bebernya

Baca Juga:  Kasus Covid-19 Melonjak, Bontang Terapkan PPKM

Tim tak ujug-ujug langsung memakamkan ketika ada korban meninggal. Sebelumnya, lepas ditunjuk, mereka mendapat pelatihan. Diajarkan soal protokol pemulasaran jenazah akibat Covid-19. Cara mengenakan APD yang baik, benar, serta aman. Diberi pemahaman soal bagaimana Covid-19 menular dan cara mencegahnya.

Kata Bambang, melakoni tugas ini tentulah menantang. Tuntutan keluarga barangkali tak banyak, sebab mereka cukup paham konsekuensi pekerjaan Bambang. Yang sejak dulu berkutat di pelayanan kesehatan masyarakat. Jadi harus siap meninggalkan rumah kapanpun, ketika tugas memanggil.

Protokol pemulasaran jenazah Covid-19 ini bukan main ribetnya. Sebelum tugas, kondisi tubuh anggota tim harus dipastikan. Bila tak sehat, tak boleh tugas. Ketika kondisi tubuh baik, mereka mesti pakai APD level dua. Meliputi face shield, masker, baju hazmat, kaos tangan, dan sepatu boots. Bukan main panasnya. Sesaknya pun. Belum lagi beban jenazah yang terbenam dalam peti membuat segalanya makin berat.

Baca Juga:  Dua Hari, Bontang Catat 12 Kasus Terkonfirmasi Covid-19

Ada hal lain yang membuat pekerjaan ini berat sekali. Bambang kerap tak kuasa menahan lirih, bila memposisikan diri sebagai keluarga korban meninggal akibat Covid-19. Terutama terkait protokol pemulasaran jenazah. Di mana tubuh yang sudah kaku itu mesti dibungkus plastik berkali-kali. Mulai sekujur tubuh hingga peti mati. Disemprot disinfektan berulang-ulang, untuk minimalisasi potensi penyebaran virus.

Hingga Minggu (22/11/2020) sudah 26 kasus meninggal akibat Covid-19. Itu artinya, sudah 26 kali Bambang menyaksikan keangkuhan Covid-19 yang merenggut segalanya hingga detik terakhir. Keluarga korban tak bisa berkumpul, memberi penghormatan, atau pelukan terakhir, kepada terkasih mereka yang berpulang. Apalagi melakukan ritual-ritual seperti dalam kepercayaan agama mereka. Jenazah dikebumikan dalam sendiri. Keluarga hanya bisa meratap dalam jauh.

“Kalau bayangkan itu rasanya lirih sekali. Keluarga pasti sedih sekali,” tandasnya. (*)

Tags: covid-19 bontangdana covid-19 bontang
ShareTweetSendShare

Bergabung dengan WhatsApp Grup Bontang Post untuk mendapatkan informasi terbaru: Klik di Sini. Simak berita menarik bontangpost.id lainnya di Google News.

Ikuti berita-berita terkini dari bontangpost.id dengan mengetuk suka di halaman Facebook kami berikut ini:


Previous Post

Relawan Basri-Najirah Bentuk Aliansi Masyarakat Anti Money Politics

Next Post

UPZ Pupuk Kaltim Salurkan Beasiswa bagi 126 Mahasiswa Kurang Mampu di Bontang

Related Posts

Inovasi Baru, Alat Deteksi Covid-19 Lewat Bau Keringat Ketiak
Bontang

Hasil Lab Keluar, Lima Sampel Pasien Positif Covid-19 di Bontang Tunjukan Varian Baru

13 November 2022, 17:32
Hari Pertama Isoter Dibuka, Langsung Dihuni Tiga Pasien
Bontang

Tingkat Kesembuhan Tinggi, Tersisa 7 Pasien yang Menjalankan Isoter di Rusunawa 

13 Maret 2022, 15:50
Sembilan Kelurahan Zona Merah, Pemkot Bontang Wacanakan Pembatasan
Bontang

Sembilan Kelurahan Zona Merah, Pemkot Bontang Wacanakan Pembatasan

14 Februari 2022, 13:09
Sembilan Pasien Dirawat di Rusunawa Guntung
Breaking News

Rusunawa Guntung Sudah Tampung 25 Pasien Covid-19

21 Juli 2021, 13:18
Enam Hari Dibuka, 12 Pasien Covid-19 Isolasi di Rusunawa Guntung
Bontang

Enam Hari Dibuka, 12 Pasien Covid-19 Isolasi di Rusunawa Guntung

18 Juli 2021, 19:00
Tersisa Kanaan di Zona Hijau
Bontang

Tersisa Kanaan di Zona Hijau

12 Mei 2021, 11:57

Terpopuler

  • Jalan yang Dibangun dengan APBD Rp13 Miliar Ditutup Seng, Warga Kampung Gotong Royong Bontang Terdampak

    Jalan yang Dibangun dengan APBD Rp13 Miliar Ditutup Seng, Warga Kampung Gotong Royong Bontang Terdampak

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabar Jasad Bayi Ditukar Bantal Gegerkan Warga Bontang, Polisi Lakukan Penelusuran

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seng Penutup Jalan Gotong Royong Dibongkar Paksa, Wali Kota Neni; Fasilitas Publik Tidak Boleh Ditutup

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Polisi Pastikan Isu Jasad Bayi Ditukar Bantal di Bontang Rekayasa, Perempuan Akui Tak Hamil

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Akses Jalan Gotong Royong Ditutup, Warga Klaim Belum Terima Ganti Rugi Lahan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Kategori

Arsip

  • Indeks Berita
  • Redaksi
  • Mitra
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber
  • Pedoman Pemberitaan Ramah Anak
  • Kontak

© 2020 Bontangpost.id - Developed by Vision Web Development.

No Result
View All Result
  • Home
  • Bontang
  • Kaltim
  • Nasional
  • Advertorial
    • Advertorial
    • Pemkot Bontang
    • DPRD Bontang
  • Ragam
    • Infografis
    • Internasional
    • Olahraga
    • Feature
    • Resep
    • Lensa
  • LIVE

© 2020 Bontangpost.id - Developed by Vision Web Development.