SANGATTA – Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil) Kutim mencatat, sejak empat tahun terakhir, mulai 2014-2017, jumlah pendatang di Kutim sebanyak 18.394 jiwa. Parahnya, tiap tahun meningkat. Pada tahun 2014, yang masuk ialah 1.307 jiwa. Pada tahun 2015, sebanyak 2.269 jiwa. Sedangkan tahun 2016 sebanyak 8.268 jiwa, dan tahun 2017 turun menjadi 6.550 jiwa.
Jumlah ini tak termasuk mereka yang masuk ke Kutim secara ilegal. Mereka semua resmi ke Kutim. Mereka terdaftar di Disdukcapil. Karenanya, diketahui, akan lebih banyak lagi dari data yang ada saat ini.
Sedangkan untuk jumlah kedatangan pendatang tahun 2018 ini, belum terdata secara keseluruhan. Pastinya, tak dapat dipungkiri ada pendatang yang masuk ke Kutim. Hanya saja diyakini, tak begitu signifikan dibanding pada tahun-tahun sebelumnya.
Dikatakan Kadisdukcapil, Januar Herlian Putra Lembang Alam ada beberapa Indikator banyaknya warga yang menyambangi Kutim. Pertama, karena mencari kerja. Diketahui, Kutim memiliki banyak lahan pekerjaan. Mulai dari pertambangan, perkebunan, migas, dan lainnya.
Kemudian, faktor pendidikan. Pendidikan juga merupakan Indikator utama maraknya pendatang ke Kutim. Sebab, diketahui, Kutim merupakan satu-satunya daerah yang menerapkan biaya pendidikan kuliah gratis. Sedikitnya dua perguruan tinggi yang dijamin pemerintah. Pertama, Sekolah Tinggi Pertanian (Stiper) dan Sekolah Tinggi Agama Islam (Stai) Sangatta. Begitupun sekolah tingkatan DD-SMA.
Tetakhir ialah masalah ikut keluarga dan mutasi pegawai. Mutasi merupakan hal yang lumrah dilakukan. Baik tingkat bawah maupun atas. Terlebih pada saat terjadinya kebijakan baru UU 23 Tahun 2014 tentang Pemerintah Daerah.
“Jadi banyak Indikator kenapa mereka datang ke Kutim,” ujar Januar.
Meskipun begitu, jumlah ini jauh jauh lebih sedikit ketimbang yang meninggalkan Kutim. Dari tahun yang sama, sebanyak 27.622 jiwa. Pada tahun 2014, tercatat 4.514 jiwa, 2015, 6.244 jiwa, 2015, 9.487 jiwa, dan 2017, 7.377 jiwa.
Besar dugaan, diantara sebab meninggalkan Kutim, karena faktor kerjaan yang habis kontrak, mendapatkan pekerjaan lainnya, dan adanya mutasi kerja serta menempuh pendidikan.
“Jadi menang lebih banyak yang meninggalkan Kutim, ketimbang yang masuk,” kata Januar. (dy)







