bontangpost.id – Kunjungan lapangan Komisi III DPRD Bontang ke lokasi pembangunan Bontang Citimall (BCM) berlangsung panas. Baik karena dilakukan saat matahari menyengat hebat. Pun dengan situasinya.
Anggota dewan sempat terlibat adu mulut dengan pihak keamanan BCM. Dua di antaranya merupakan ketua RT di Kelurahan Tanjung Laut. Gegara, legislator menanyakan kapasitas mereka di proyek tersebut. Bahkan, salah satu anggota TNI AD sempat ikut tersulut.
“Ini sidak (inspeksi mendadak) atau apa ini?” kata aparat berbaju loreng itu. “Ini sidak, Pak?” jawab Ketua Komisi III DPRD Amir Tosina.
“Tapi nadanya diatur. Saya dengar dari pertama datang sudah mulai keras. Suaranya itu loh. Jangan ngegas-ngegas (bicara dengan nada tinggi) gitu loh,” timpalnya.
Situasi mulai tenang setelah anggota Komisi III Agus Suhadi coba menenangkan. Politikus PDIP yang juga pensiunan TNI itu menjelaskan bahwa kunjungan itu resmi dan berdasarkan surat tugas.
“Sampeyan petugas jangan ngegas-ngegas kayak gini,” tuturnya.
Menurut Amir Tosina, ketua RT tidak memiliki kewenangan dan kepentingan dalam proyek itu. Mereka hanya penanggung jawab di lingkungan tempat tinggal. Memang saat legislator mengunjungi lokasi, tidak ada satupun manajemen PT Brantas Abipraya, selaku kontraktor. Pun dengan aktivitas pembangunan.
“Kami nanti akan panggil lagi manajemen perusahaan,” ungkap politikus Gerindra tersebut.
Dari penuturan perwakilan PT Brantas Abipraya, Ibrahim, pekerja diliburkan. Terkait aktivitas pengangkutan material berat, klaimnya, sudah dilakukan sesuai prosedur. Yakni mendapatkan pengawalan petugas kepolisian ketika dilakukan pada pagi hari.
“Terakhir pengangkutan, dua hari setelah Lebaran,” tuturnya.
KETUA RT RANGKAP TIM KEAMANAN
Sementara, ketua RT 24 Ahmad Jaya menuturkan, dia bersama empat ketua RT lainnya memang masuk dalam tim keamanan. Mereka ditunjuk sebagai penanggung jawab. Salah satu tugas mereka adalah menerima kiriman barang. Termasuk pula tiang pancang.
“Kami di sini hanya sebagai penerima. Tidak bertanggung jawab terkait angkutannya,” tegasnya.
Dia juga menegaskan bahwa angkutan tiang pancang telah mendapat pengawalan. Bahkan dia mengklaim tidak hanya dikawal oleh kepolisian, tapi juga aparat lainnya.
Di samping itu, dia juga menepis jika dikatakan bahwa pembangunan BCM menimbulkan kemacetan. Hal yang sama diungkapkan Lurah Tanjung Laut Azidah. Dia menyebut bahwa sejak awal arus lalu lintas di sekitar proyek lancar.
“Pengangkutan material juga dilakukan malam hari. Jadi tidak menganggu pengguna jalan lainnya,” kata Azidah.
Diketahui, pengangkutan tiang pancang untuk pembangunan BCM sempat disorot. Transportir pernah kedapatan mengangkut dari Pelabuhan Loktuan ke lokasi tanpa pengawalan kepolisian. Padahal itu dilakukan di luar jam edar. Yakni pukul 21.00-06.00.
Kasat Lantas Polres Bontang AKP Imam Syafii bahkan mengaku sudah memberi teguran.
“Sudah beroperasi duluan. Enggak ada koordinasi susulan. Makanya kami datangi dan tegur,” ujarnya, 21 Mei lalu. (edw)







