bontangpost.id – Kementerian Agama (Kemenag) Kaltim hingga saat ini belum bisa memastikan jumlah kuota jemaah haji pada 2023. Karena bergantung pada situasi kesehatan dunia. Mengingat di beberapa negara, wabah Covid-19 tengah merebak kembali. Kondisi tersebut sangat berpengaruh terhadap regulasi dari Arab Saudi dan terkait pembatasan-pembatasan yang sebelumnya telah dilakukan.
Plt Kepala Kantor Wilayah Kemenag Kaltim Ahmad Ridani berharap, pagebluk di Indonesia utamanya Kaltim terus membaik. Tidak lagi meroket seperti 2020 dan 2021. Setelah pandemi Covid-19 membaik, meski belum diketahui pasti dia meyakini kuota akan kembali normal.
“Informasi resmi terkait kuota haji masih belum diketahui, kemungkinan awal 2023 nanti akan dibagikan. Tahun depan sedang diupayakan. Kita harap bisa (kuota haji Kaltim) bisa kembali normal seperti 2019 paling tidak dan kalaupun ada penambahan kami sangat bersyukur,” ucap Ridani.
Pada pelaksanaan ibadah haji 1443 Hijriah/2022 Masehi, Indonesia mendapat kuota haji sebesar 100.051 orang. Jumlah ini hanya sekitar 46 persen dari kuota normal yang diberikan pada tahun-tahun sebelumnya. Terdiri atas 92.825 kuota haji reguler dan 7.226 kuota haji khusus. Dalam tahun-tahun sebelumnya, kuota haji reguler Indonesia mencapai 155.200 (2015 dan 2016), 204.000 (2017 dan 2018), serta 214.000 orang pada 2019.
Dirinya juga menuturkan, tidak adanya keberangkatan jemaah haji pada 2020 dan 2021 serta adanya pembatasan kuota pada 2022 berdampak pada daftar tunggu jemaah haji yang panjang. Ridani menyebut daftar tunggu di Kaltim rata-rata telah mencapai 30-an tahun. “Daftar haji Kaltim sekarang mencapai 76 ribuan, dengan masa tunggu sekitar 30 tahun, paling tinggi di Bontang sampai 40 tahun,” sebutnya.
Ridani mengatakan, sejumlah hal terkait perhajian terus dipersiapkan. Bahkan di daerah-daerah telah dilaksanakan manasik haji. Adapun terkait biaya ibadah haji 2023 yang diperkirakan ada kenaikan, karena berkaca dari 2022 lalu. Mengenai itu, dia belum bisa berbicara lebih panjang. Hanya, seluruh jemaah haji dapat mempersiapkan. Ia pun masih belum bisa memastikan berapa tarifnya.
Adapun indikator dari kenaikan tarif haji ini disebabkan oleh banyak faktor, seperti halnya biaya fasilitas, hotel, makanan, transportasi dan lainnya. “Besarannya belum tahu, karena masih dirundingkan oleh pemerintah,” kata Ridani. (ndu/k15)





