KALAU benci, apa pun dicaci. Ungkapan itu mungkin tepat untuk menggambarkan unggahan sejumlah warganet yang mengaitkan keberadaan patung Banteng Wulung dan ambruknya mezanin Bursa Efek Indonesia (BEI). Banteng itu pun dikaitkan dengan logo PDIP.
Akun Twitter SundaMamprang (@maulinaantika), misalnya. Pada Selasa (16/1) dia mengunggah foto pemberitaan peresmian patung banteng di BEI. Lalu, dia menuliskan status, “Lantai bursa efek ambruk setelah dipasangi patung banteng oleh @jokowi semoga ini pertanda kehancuran partai banteng gemblung”.
Bukan hanya akun SundaMamprang, di Facebook juga banyak warganet yang mengaitkan insiden di BEI dengan keberadaan patung Banteng Wulung. Akun Thaihah Tan Kandar kemarin (17/1) mengunggah foto patung Banteng Wulung dan status. Isinya, “Patung banteng yang nongkrong di gedung Bursa Efek Indonesia ini setara dengan berat 120 orang. Mungkin karena inilah penyebab balkon gedung ambrol. Perhatikan di bawah patung banteng itu selalu ada bunga sajian untuk si banteng”.
Informasi itu tentu hoax bin hasut. Patung Banteng Wulung bukan representasi PDIP. Kalaupun sama, mungkin hanya kebetulan. Banteng Wulung tidak bermoncong putih.
Banteng juga sudah lama menjadi simbol di pusat bursa saham Amerika Serikat, Wall Street. Di sana terdapat patung banteng yang diberi nama Charging Bull. Kadang disebut Wall Street Bull atau Bowling Green Bull. Patung itu ada sejak 1989.
Patung karya Arturo Di Monica tersebut lantas diadopsi pasar saham negara-negara lain seperti di Shanghai, Tiongkok (2010), dan Amsterdam, Belanda (2012). Charging Bull merupakan simbol optimisme finansial dan kesejahteraan yang agresif. Dari situlah kemudian muncul istilah bullish yang menunjukkan kondisi pasar saham tengah bergerak positif. Di New York, patung itu termasuk salah satu jujukan para turis untuk berfoto.
Patung banteng tersebut juga diadopsi ke Indonesia. Namun, patung itu tidak dibuat Arturo Di Monica, melainkan pematung asal Bali. Patung tersebut tidak diresmikan beberapa hari sebelum insiden di BEI, melainkan pada 13 Agustus 2017. Tepatnya ketika memperingati 40 tahun diaktifkannya kembali Pasar Modal Indonesia.
Patung itu diresmikan Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia Tito Sulistio, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, dan Menko Perekonomian Darmin Nasution. Kepada para jurnalis, Tito mengatakan bahwa patung itu dibuat dari fosil kayu yang berasal dari Lebak, Banten.
Soal ambruknya mezanin di BEI, polisi hingga kini masih melakukan investigasi. Yang pasti, sertifikat laik fungsi (SLF) yang diterbitkan pada 25 Mei 2017 expired pada 25 Januari 2018. Mungkin, insiden tersebut disebabkan minimnya pengawasan dan perawatan. Patung Banteng Wulung berada di halaman gedung BEI dekat tower 1. Adapun mezanin yang ambruk berada di dalam tower 2.
Mengenai status Thaihah Tan soal bunga sajian, mungkin itu terlihat saat peresmian. Sebab, foto yang diunggah Thaihah menjelaskan tentang peresmian patung. Sementara itu, berdasar hasil pencarian di Google, benda yang dianggap bunga sajian tersebut tidak tampak di sekitar patung. (gun/rin/c15/fat)
Fakta
Patung Banteng Wulung berada di halaman gedung BEI dekat tower 1. Sementara itu, mezanin yang ambruk berada di dalam tower 2. Jadi, jelas tidak ada hubungannya.







