• Indeks Berita
  • Redaksi
  • Mitra
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber
  • Pedoman Pemberitaan Ramah Anak
  • Kontak
Bontang Post
  • Home
  • Bontang
  • Kaltim
  • Nasional
  • Advertorial
    • Advertorial
    • Pemkot Bontang
    • DPRD Bontang
  • Ragam
    • Infografis
    • Internasional
    • Olahraga
    • Feature
    • Resep
    • Lensa
  • LIVE
No Result
View All Result
  • Home
  • Bontang
  • Kaltim
  • Nasional
  • Advertorial
    • Advertorial
    • Pemkot Bontang
    • DPRD Bontang
  • Ragam
    • Infografis
    • Internasional
    • Olahraga
    • Feature
    • Resep
    • Lensa
  • LIVE
No Result
View All Result
Bontang Post
No Result
View All Result
Home Catatan Dahlan Iskan

Mikir Itu Lagi

by M Zulfikar Akbar
8 April 2019, 10:35
in Dahlan Iskan
Reading Time: 3 mins read
0
DAHLAN ISKAN

DAHLAN ISKAN

Share on FacebookShare on Twitter

Begitu sulit saya menemukan celah: bisakah Pakistan menjadi model masa depan negara Islam. Pun diskusi saya dengan mahasiswa Indonesia. Yang ada di Pakistan. Kesimpulannya sama: sulit berharap itu.

Memang ada beberapa alumni Pakistan yang hebat. Salah satunya ustadz Shamsi Ali itu. Imam besar masjid di New York itu. Tepatnya masjid Queen, tidak jauh dari bandara John F Kennedy itu.

Ustadz Shamsi Ali kini lagi membangun pesantren besar di Amerika. Yang lokasinya pernah saya kunjungi itu.

Setelah ke Pakistan tentu saya ingat Ustadz Shamsi Ali. Ia kian menarik bagi saya. Bagaimana bisa. Lulusan negeri yang begitu sektarian justru punya jiwa begitu moderat. Sampai bisa diterima berbagai golongan. Di Amerika pula. Termasuk golongan Yahudi di sana.

“Pandangan keislaman saya berubah setelah di Amerika,” ujar Ustadz Shamsi Ali. “Setelah banyak bergaul dengan masyarakat non Islam,” tambahnya.

Dari pedalaman Tiongkok ini pun saya menghubungi Ustadz Shamsi Ali. Di daerah suku minoritas Tiongkok ini pun saya masih kepikiran Pakistan. Kepikiran terus. Gelisah. Saya pun harus bertukar pandangan dengan alumni Pakistan itu. Yang begitu terpandang itu.

Baca Juga:  Live Streaming dari Mas Joko

Selama ini ternyata saya berlebihan. Saya terlalu berharap pada Pakistan. Akibatnya saya sampai ‘menderita batin’ begini. Setelah melihat kenyataannya seperti itu.

Padahal saya ke Pakistan tidak punya tujuan lain. Tidak ada bisnis. Tidak ingin rekreasi. Juga bukan karena lagi sumpek di dalam negeri. Saya khusus ke Pakistan sengaja ingin membanding-bandingkan negara Islam. Mana yang kira-kira bisa jadi model masa depan.

Pun dulu ketika ke Turki. Dengan pikiran seperti itu. Juga ketika ke Maroko. Atau ke Mesir. Dan ke Aljazair.

Ustadz Shamsi Ali ternyata punya pandangan yang sama tentang Pakistan. “Saya kira Pakistan sulit maju karena pemahaman agama yang sangat ekstrim,” ujar alumni International Islamic University di Islamabad itu. “Pandangan ekstrim itu didukung pula oleh karakter masyarakat yang agak keras,” tambahnya.

Semua itu, ujar Ustadz, menjadikan mereka cepat emosi. Lalu melakukan hal-hal yang desktruktif. “Tentu tidak lepas juga dari kenyataan bahwa Pakistan dari dulu menjadi persinggahan peperangan Afghanistan,” katanya.

Pandangan seperti itu pula yang disampaikan para mahasiswa Indonesia yang bertemu saya di Lahore malam itu. “Sektariannya sangat kenceng,” ujar Fahmi Wira Angkasa. Ketua PPMI Pakistan. Yang mahasiswa hukum Islam di universitas yang sama dengan kampusnya Ustadz Shamsi Ali itu.

Baca Juga:  Mengandalkan Kreativitas Bubur Remas

“Kalau saya dari dulu tidak pernah melihat jika Islam akan maju dengan keadaan Pakistan. Malah ada refleksi negatif…seolah Islam itu keras, emosi, terbelakang, dan lain-lain,” ujar Ustadz.

“Kok dulu, waktu kuliah di sana, tidak ketularan keras?” tanya saya.

“Sempat ketularan pak,” jawabnya. “Saya dulu, pertama sampai di Amerika, banyak menyalah-nyalahkan….,” katanya.

Lalu Ustadz Shamsi Ali berubah pandangan. Awalnya ketika bertetangga dengan seorang Katolik keturunan Irlandia. Si Katolik selalu menyapanya dengan ramah. “Lambat laun saya mengubah pilkiran bahwa non Muslim itu bukan musuh. Tapi partner dalam kebaikan,” katanya.

Tentu saya ke Pakistan juga sambil melihat-lihat: apakah ada peluang bisnis di sana. Sekedar melihat. Siapa tahu ada ‘lubang’ dagang.

Saya juga bertemu beberapa orang Tiongkok di Lahore. Atau di Karachi. Yang juga hanya melihat-lihat peluang.

“Kenapa melihat peluangnya di sini. Kok tidak di Indonesia?” tanya saya.

Baca Juga:  Kesasar ke Masjid di San Antonio

“Di sini aman,” jawab pengusaha itu.

Ia orang asli Shantou, kota pantai di propinsi Guangdong. Di Tiongkok ia punya bisnis pengolahan plastik. Ia merasa Pakistan aman.

Aneh. Bin ajaib.

Tapi saya paham. Hubungan baik antara Tiongkok dan Pakistan dirasakan sampai masyarakat luas. Kedua negara itu diibaratkan “teman di segala musim”.

Bahkan mahasiswa asing terbanyak di Pakistan pun berasal dari Tiongkok. Jumlah mahasiswa dari Indonesia hanya 285. Yang dari Tiongkok lebih 1.500 orang. Umumnya kuliah di ushuludin atau syariah.

“Saya sering jumpa mereka. Cita-cita mereka umumnya ingin jadi imam masjid di Tiongkok,” ujar Ali Muhtadin. Ia mahasiswa ushuludin. Asal Bojonegoro. Yang alumni Persis Bangil.

Makanya, tahun-tahun belakangan ini saya lihat perubahan itu. Setiap ke masjid di Tiongkok imamnya sangat muda.

Di Pakistan, orang seperti saya pun dikira dari Tiongkok. Di mana saja saya disapa: ‘ni hao’. Termasuk oleh anak-anak kecil yang lagi sok berani berbahasa Mandarin.

Saya pun tidak peduli. Saya jawab saja: wo hen hao.(dahlan iskan)

Tags: dahlan iskandis way
ShareTweetSendShare

Bergabung dengan WhatsApp Grup Bontang Post untuk mendapatkan informasi terbaru: Klik di Sini. Simak berita menarik bontangpost.id lainnya di Google News.

Ikuti berita-berita terkini dari bontangpost.id dengan mengetuk suka di halaman Facebook kami berikut ini:


Previous Post

Difasilitasi Pupuk Kaltim, Anggota DWP Bontang Kini Lebih Berdaya Saing

Next Post

8 Manfaat Meninggalkan Rokok Elektrik Vape

Related Posts

Menang Nirkuasa
Dahlan Iskan

Menang Nirkuasa

10 Mei 2019, 06:17
Bagaimana Menjaring Orang Mampu
Dahlan Iskan

Dokter Cerai

9 Mei 2019, 06:00
Kursi Roda
Dahlan Iskan

Kursi Roda

7 Mei 2019, 06:43
37 Derajat
Dahlan Iskan

37 Derajat

6 Mei 2019, 05:57
Orang Suci
Dahlan Iskan

Orang Suci

5 Mei 2019, 12:01
Jantung Bocor
Dahlan Iskan

Jantung Bocor

4 Mei 2019, 13:05

Terpopuler

  • 25 Atlet Bontang Dicoret dari Porprov Kaltim 2026, Terbukti Cabutan dari Luar Daerah

    25 Atlet Bontang Dicoret dari Porprov Kaltim 2026, Terbukti Cabutan dari Luar Daerah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sudah Puluhan Tahun Berdiri, Perusahaan Daerah Bontang Belum Bisa Kelola Solar Nelayan Sendiri

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seng Penutup Jalan Gotong Royong Dibongkar Paksa, Wali Kota Neni; Fasilitas Publik Tidak Boleh Ditutup

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bontang Berharap Masuk Daftar Penerima Tambahan Dana Rp20,5 Triliun dari Pusat

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Wanita di Loktuan Bontang Diringkus Polisi, Sabu Ditemukan di Pinggir Jalan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Kategori

Arsip

  • Indeks Berita
  • Redaksi
  • Mitra
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber
  • Pedoman Pemberitaan Ramah Anak
  • Kontak

© 2020 Bontangpost.id - Developed by Vision Web Development.

No Result
View All Result
  • Home
  • Bontang
  • Kaltim
  • Nasional
  • Advertorial
    • Advertorial
    • Pemkot Bontang
    • DPRD Bontang
  • Ragam
    • Infografis
    • Internasional
    • Olahraga
    • Feature
    • Resep
    • Lensa
  • LIVE

© 2020 Bontangpost.id - Developed by Vision Web Development.