Natal adalah kisah kasih yang terindah
KasihNya selamatkan setiap dosa manusia
Natal adalah kisah kasih yang terindah
Tuhan beserta kita Immanuel.
Begitulah sepenggal lirik dari lagu Natal Kasih Terindah yang dipopulerkan 5 Divo. Grup vokal yang digawangi oleh Sammy Simorangkir, Rio Febrian, serta beberapa jebolan jawara Indonesian Idol. Dengan beat yang cepat lagu ini melambangkan ungkapan sukacita. Dimana tepat hari ini (25 Desember, Red.) umat Kristiani merayakan hari lahirnya Yesus Kristus.
Berbagai gereja mempercantik ‘dirinya’ sejak awal bulan ini dengan pohon cemara yang melambangkan hidup kekal di segala musim, lampu Natal, beserta atribut lainnya. Dibalut dengan nuansa warna merah, hijau, dan emas.
Bahkan, pengurus gereja jauh-jauh hari sudah mempersiapkan kabar sukacita ini mulai dari membentuk panitia, menyusun konsep acara perayaan, hingga berlatih pujian dan paduan suara.
Namun belakangan ini, situasi kontras terjadi di Indonesia. Kewaspadaan meliputi jutaan umat ketika menyuarakan lagu Malam Kudus.
Pasalnya, aksi terorisme terjadi ketika memasuki bulan Desember. Kondisi ini menjadi sebuah paradoks, ketika keceriaan anak kecil berubah menjadi tegang ketika melihat puluhan aparat membawa sepucuk senjata untuk mengamankan jalannya ibadah.
Masih ingat terlintas di benak ketika 7 tahun yang lalu 12 gereja mendapat serangan teror di malam Natal.
Mulai dari Batam, Mojokerto, hingga ibukota negara ini diserang secara serempak oleh oknum yang ingin memecah-belah persatuan.
Padahal, negara ini dibentuk oleh keberagaman, baik itu suku, ras, maupun agama. Jika menelisik sejarah, tentunya kondisi ini bukan yang diinginkan oleh sang proklamator ketika merebut kemerdekaan. Pertanyaannya mengapa ini bisa terjadi? Beberapa hari lalu 19 terduga teroris juga berhasil ditangkap oleh Densus 88 Mabes Polri dari tiga wilayah yakni Jawa Timur, Pekanbaru, dan Sumatera Selatan. Penangkapan ini dilakukan dalam kurun waktu 3 hari yakni mulai tanggal 9 hingga 11 Desember.
Belum lagi, larangan mengucapkan selamat hari Natal menjadi topik yang selalu muncul mendekati hari lahirnya Mesias. Beberapa orang mengatakan haram untuk mengucapkannya. Alhasil, perdebatan terjadi di sosial media.
Lantas, bagaimana dengan kaum Kristiani di Bontang? Beberapa hari lalu saya ditugaskan oleh redaktur untuk menanyakan perihal situasi ini kepada beberapa pendeta di kota Taman. Redaktur pun terkejut melihat hasil wawancara kendati saya sudah dapat memprediksi sebelumnya. Tidak ada rasa ketakutan dalam merayakan Natal.
Mengapa demikian? Umat Kristiani identik dengan salib yang melambangkan penebusan. Namun, ada pesan kasih baik secara vertikal maupun horizontal di dalamnya.
Secara vertikal menandakan hubungan dengan Tuhan. Sementara makna horizontal ialah kasih kepada sesama baik itu seagama maupun antar agama.
Hal ini selaras dengan nats Yohanes 3:16 yang berbunyi karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Menandakan kasih Tuhan terhadap manusia yang tak bisa lepas dari kungkungan dosa. Cerminan itulah yang menjadi pegangan umat Kristiani untuk meneladani kasih Kristus. Mari sambut Natal dengan kasih. Selamat hari Natal. (*)






