bontangpost.id – Anggota Komisi II DPRD Bontang, Bakhtiar Wakkang menilai pemerintah amburadul dalam menata kota. Aturan yang dibuatnya tidak ditegakkan. Kalau pun ditegakkan, cenderung tebang pilih. Azas keadilan diabaikan.
Sorotan tegas ini disampaikan Bakhtiar menyusul banyaknya aduan yang diterima dari masyarakat. Pun berdasarkan pantauan yang dilakukan langsung di lapangan.
Politikus NasDem itu menjelaskan, dirinya bingung dengan cara Pemkot Bontang menata kota. Ia menilai pemerintah tebang pilih dalam melaksanakan fungsinya sebagai pengayom masyarakat. Untuk memastikan masyarakat berada di jalur yang tepat dalam menjalani aktivitas sehari-hari.
”Jadi timbul pertanyaan dimana abainya mereka (pemerintah). Ada aturan yang sengaja tidak dilaksanakan dan ada juga yang tidak diketatkan. Apakah ini azas keadilan?” katanya ketika berbincang dengan bontangpost.id, Rabu (7/4/2021) sore.
Dia memberi contoh ketidakadilan dan ketidakjelasan pemerintah. Pelaku usaha kuliner di Komplek Olahraga Taman Prestasi (atau Lang-Lang). Pemerintah mengatakan lokasi tersebut memang tidak diperuntukkan untuk wisata kuliner. Hanya untuk olahraga. Pedagang di sana pun tidak dalam pembinaan pemerintah.
”Tapi kenapa baru sekarang (dilarang)? Kenapa dulu mereka dibiarkan?” tanya Bakhtiar.
Bakhtiar tetap menuntut solusi pemerintah. Bagi para pedagang di Lang-Lang. Bukan membiarkan nasib mereka menggantung tak jelas. Penghidupan mereka sangat menggantung dari sana. Ada keluarga perlu diberi makan.
”Di mana lagi orang mau cari makan. Kalau nanti warga lari ke hal-hal negatif karena tuntutan ekonomi, seperti narkotika atau mencuri, pemerintah harus tanggungjawab itu,” tegasnya.
Sikap tak jelas dan tak konsisten pemerintah juga terlihat dengan keberadaan Pasar Seng di Tanjung Limau. Dalam Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Bontang, hanya ada 3 pasar tradisional. Yakni Pasar Citra Mas Loktuan, Pasar Taman Rawa Indah, dan Pasar Telihan. Tidak ada Pasar Seng. Artinya, secara hukum ilegal.
”Tapi kan dibiarkan saja. Apakah itu azas keadilan?” kembali Bakhtiar menanyakan ketegasan pemerintah.
Dari kedua contoh diberikan, Bakhtiar menuntut pemerintah lekas mencarikan solusi. Ada solusi bagi pedagang di Lang-Lang. Ada juga solusi bagi pedagang Pasar Seng, agar mereka tidak melanggar regulasi ketika menjalankan aktivitasnya.
”Saya bicara dari sisi kemanusiaannya bahwa perlu ada solusi bagi mereka,” tandasnya.
Menanggapi hal itu, Plh Wali Kota Bontang Aji Erlynawati membantah jika pemerintah dikatakan tak serius alias amburadul dalam penataan kota.
Lapangan Lang-Lang yang sampai saat ini belum dibuka dikatakan Aji bagian dari instruksi pusat. Fasilitas olahraga menurutnya sampai saat ini masih tutup. Apalagi PPKM Mikro diperpanjang.
“Lang-Lang itu bukan pusat kuliner, tapi pusat olahraga. Bukan tebang pilih, kami hanya buka tempat olahraga Sport Center, karena kepentingan pembinaan atlet, tidak untuk umum,” tegasnya.
Menurutnya, keberadaan pedagang kuliner di pusat olahraga Bessai Berinta memang hal bagus, dan berdampak baik bagi roda perekonomian. “Nanti akan ditata itu, sudah ada perencanaannya dengan teman-teman Dispopar,” bebernya.
Sementara perihal Pasar Seng. Aji menyebut, pemerintah tengah berupaya mencarikan solusi. “Harus bijak lah, banyak hal yang harus dipertimbangkan. Kami akan koordinasi bagaimana solusi terbaik dengan wali kota terpilih,” tandas wanita yang juga menjabat sebagai Sekkot Bontang ini. (*)







