bontangpost.id – Selain hak-hak pekerja, banjir yang menjadi persoalan di Bontang turut disinggung. Sebab banjir telah banyak merugikan masyarakat.
Salah seorang mahasiswa yang turut bersuara Risardi, menyayangkan tindakan pemerintah yang dinilai lamban. Sehingga ratusan, bahkan ribuan warga harus selalu khawatir setiap hujan mengguyur.
“Saya ingat sekali, kala itu Wali Kota Basri Rase mengajukan diri sebagai wali kota, seakan punya jalan keluar persoalan banjir. Tapi saat ini keadaannya masih sama. Banjir belum bisa ditangani,” serunya saat berorasi, Senin (1/5/2023).
Pun, ia mengatakan bahwa anggaran banjir itu seharusnya bisa dimanfaatkan secara maksimal.
“Saya yakin sekali alokasi anggaran itu ada. Tapi kenapa banjir masih terus terjadi, tidak berkurang. Mana janji-janji itu,” sambungnya.
Dengan demikian, para buruh dan mahasiswa yang hadir menuntut agar penanganan banjir bisa teratasi, seiring dengan berakhirnya masa jabatan di 2024.
Kendati menyampaikan sejumlah tuntutan, namun aksi May Day siang hingga sore tadi berjalan kondusif. Aksi itu diketahui dikawal oleh ratusan aparat.
Pengawalan dilakukan guna menjaga agar tidak terjadi kericuhan saat para buruh menyampaikan aspirasinya.
Kapolres Bontang AKBP Yusep Dwi Prastiya mengatakan bahwa sekira 108 petugas keamanan diterjunkan selama kegiatan.
“Ada sekitar 40-45 orang dari aliansi buruh dan mahasiswa yang menyampaikan beberapa tuntutannya. Alhamdulillah semuanya berjalan lancar dan tertib,” katanya. (*)







