• Indeks Berita
  • Redaksi
  • Mitra
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber
  • Pedoman Pemberitaan Ramah Anak
  • Kontak
Bontang Post
  • Home
  • Bontang
  • Kaltim
  • Nasional
  • Advertorial
    • Advertorial
    • Pemkot Bontang
    • DPRD Bontang
  • Ragam
    • Infografis
    • Internasional
    • Olahraga
    • Feature
    • Resep
    • Lensa
  • LIVE
No Result
View All Result
  • Home
  • Bontang
  • Kaltim
  • Nasional
  • Advertorial
    • Advertorial
    • Pemkot Bontang
    • DPRD Bontang
  • Ragam
    • Infografis
    • Internasional
    • Olahraga
    • Feature
    • Resep
    • Lensa
  • LIVE
No Result
View All Result
Bontang Post
No Result
View All Result
Home Nasional

Petani Sawit Terancam Gulung Tikar, Harga TBS Tembus Rp 500 per Kg

by M Zulfikar Akbar
25 Januari 2019, 18:00
in Nasional
Reading Time: 3 mins read
0
BIKIN MERINGIS: Harga jual TBS kelapa sawit dalam beberapa bulan terakhir terus mengalami penurunan yang cukup signifikan di berbagai daerah di Kaltim.(ILUSTRASI)

BIKIN MERINGIS: Harga jual TBS kelapa sawit dalam beberapa bulan terakhir terus mengalami penurunan yang cukup signifikan di berbagai daerah di Kaltim.(ILUSTRASI)

Share on FacebookShare on Twitter

TANJUNG SELOR – Harga tandan buah segar (TBS) di Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara), hingga kini masih membuat para petani kelapa sawit menjerit.

Bagaimana tidak, dalam kurun waktu lima bulan berjalan ini. Harga TBS per kilogram (kg) penjualannya hanya sebesar Rp 500. Dan harga itu terbilang sangat rendah, jika dibandingkan pada bulan sebelumnya bisa mencapai harga Rp 1.600 per kg TBS.

Mukhlis, salah seorang petani kebun sawit di Kabupaten Bulungan mengungkapkan, kondisi tersebut tentu membuatnya cukup sulit untuk terus menjalankan usaha yang menjadi mata pencarian utamanya tersebut. Pasalnya, dengan terus anjloknya harga TBS, maka ke depannya akan berpengaruh pada hasil panennya kelak.

“Kami tentu tak dapat terus mengembangkan penanaman tanaman sawit ini lagi. Apalagi, itu dalam jangka waktu yang cukup lama kondisi anjloknya harga ini,” ungkapnya saat diwawancara awak media Radar Kaltara kemarin (24/1).

Tak hanya itu, lanjut dikatakannya, akibat harga yang ada saat ini pun diakuinya ia sudah lambat laun tak dapat membeli pupuk dalam jumlah yang semestinya. Padahal, pupuk itu sangatlah penting dalam menjaga kualitas dari TBS sawit sendiri.

“Termasuk dalam menggaji tenaga kerja yang membantu dalam proses panen di kebun. Artinya, ini memang begitu banyak dampak yang dirasakan akibat anjloknya harga TBS,” ujarnya saat ditemui di sela-sela melihat tenaga kerjanya saat memindahkan TBS ke dalam bak mobil.

Disinggung terkait upaya penjualan TBS tak hanya dilakukan dalam daerah saja. Mukhlis mengaku upaya itu sejatinya ada, hanya karena memikirkan biaya transportasi yang begitu tinggi. Oleh karenanya, dirinya pasrah sampai saat ini tetap menjual harga yang sangat murah itu kepada tengkulak. “Daripada TBS ini tidak terjual, kami pasrah saja dengan harga seperti itu,” ucapnya.

Baca Juga:  UNBK SMP Terancam Batal

Meski, dirinya mengaku berharap harga yang ada nantinya bisa kembali normal. Atau paling tidak jangan sampai di bawah Rp 1.000. Jika kondisi itu terus berlanjut sampai beberapa bulan ke depan, ia tak menampik akan ada para petani yang gulung tikar.

“Saya rasa ini harga yang paling hancur selama ini. Itulah, mengapa wajar jika kami berharap harga bisa kembali normal nantinya,” harapnya.

Ditanya terkait apa penyebab harga anjlok sendiri berdasarkan yang para petani ketahui. Mukhlis mengaku sama sekali tidak mengetahuinya. Sebab, ia hanya mengikuti dari harga pasaran yang ada saat ini. Namun, di sisi lain dirinya mengaku heran juga mengapa harga anjlok ini terjadi begitu lamanya. “Tidak tahu apa penyebabnya,” katanya mengakhiri.

Senada dikatakan Salim Danu, salah seorang petani kebun sawit lainnya, dirinya berharap kondisi anjloknya harga TBS ini segera membaik. Maka, sekiranya itu dapat diatasi segera oleh pemerintah dan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait.

Misal, dengan melakukan koordinasi dengan pihak perusahaan. Sehingga nantinya harga TBS sawit bisa kembali normal seperti lima bulan kebekalang. “Saya kira permasalahan seperti ini sudah sepatutnya disikapi dengan baik oleh pemerintah,” ungkapnya.

Baca Juga:  Parkiran Speedboat Rp 15 Miliar Dipastikan Molor

Apalagi, lanjutnya, permasalahan ini bukan masalah baru lagi. Melainkan, sudah cukup lama terjadi. Maka, sudah sepatutnya ini dapat disikapi secara serius. “Pemerintah ini sebenarnya sudah paham tentang adanya masalah ini,” ujarnya.

Di sisi lain, diakuinya juga untuk penjualan memang selama ini sekalipun harga hancur dirinya tetap lakukan. Hal itu dikarenakan dirinya semakin rugi karena jika dibiarkan bisa membusuk.

“Kita jual saja daripada busuk kalau lama-lama disimpan. Ya, meski dari penjualan itu sebenarnya kurang sebanding dengan capaian kerja setiap dirinya berkebun sawit,”’ tuturnya.

Seperti diketahui sebelumnya, permasalahan anjloknya harga TBS ini sejatinya dialami oleh petani kelapa sawit di Kabupaten Malinau. Hanya saja, mereka untuk menyiasatinya hingga menjual hasil panennya ke Sebuku, Kabupaten Nunukan.

Hal ini pun dibenarkan oleh Kepala Dinas Pertanian Malinau Ir. Kristian Muned, MT saat diwawancara awak media di ruang kerjanya, belum lama ini. Disebutkan juga, harga TBS di Malinau saat itu bisa mencapai Rp 800 per kg. Padahal, sebelumnya harga cukup bagus bisa berkisar Rp 1.300 per kg. Oleh karenanya, petani sementara ini lebih memilih ke luar daerah.

“Kita ketahui bersama juga, produksi sawit sejauh ini belum maksimal. Jadi, petani kebun sawit ada kalanya banyak lepas ke Sebuku,” ungkap pria berkaca mata ini.

Sedangkan, membahas harga TBS di Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara) yang memang tidak stabil. Kepala Bidang (Kabid) Perkebunan, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Kaltara, Marten Juk sebelumnya menyampaikan, penetapan harga TBS ditetapkan tiap bulan bersama tim Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kaltara. Tim melakukan pertemuan penentuan harga TBS sesuai dengan data dan informasi dari perusahaan di Kaltara.

Baca Juga:  FSK Turunkan 500 Petani 

Penetapan harga TBS telah disesuaikan dengan aturan yang berlaku dan berdasarkan hitungan. Untuk menentukan harga TBS di tiap daerah memiliki rumus hitungan tersendiri berdasarkan Peraturan Menteri (Permen) Pertanian Nomor 14/Permintaan/OT 140/2/2013 tentang Pedoman Penetapan Harga Pembelian Tandan Buah Kelapa Sawit Produksi Perkebunan.

“Sehingga, untuk penetapan harga TBS tiap bulan perlu dirapatkan. Rapat dilakukan minggu terakhir bulan berjalan. Sehingga, masuk di awal bulan harga TBS telah ditetapkan tim,” ujar Marten Juk.

Diungkapkan, dari lima kabupaten kota di Kaltara, Nunukan dan Bulungan merupakan daerah penghasil TBS terbanyak. Sedangkan, untuk sejumlah daerah tergolong minim. Diketahui, Kabupaten Nunukan pada 2017 lalu memiliki luas perkebunan kelapa sawit sekira 77.880 hektare. “Nunukan dan Bulungan yang memilik perkebunan cukup luas di Kaltara,” bebernya.

Diketahui, luasan perkebunan terbagi dua jenis perkebunan kelapa sawit. Di antaranya, perkebunan Perusahaan Besar Swasta (PSB). Tak hanya itu, Nunukan juga memiliki tujuh pabrik kelapa sawit dengan kapasitas 265 ton per jam. Dengan begitu produksinya setiap tahun mengalami peningkatan sejak 2015 sebanyak 1.713.478 ton, kemudian 2016 menjadi 1.793.880 ton. (omg/eza/kpg)

Print Friendly, PDF & Email
Tags: kaltaraPetani Sawittanjung selor
ShareTweetSendShare

Bergabung dengan WhatsApp Grup Bontang Post untuk mendapatkan informasi terbaru: Klik di Sini. Simak berita menarik bontangpost.id lainnya di Google News.

Ikuti berita-berita terkini dari bontangpost.id dengan mengetuk suka di halaman Facebook kami berikut ini:


Previous Post

Mendagri Tjahjo Kumolo Korban Penipuan, Kok Bisa?

Next Post

TNI Ungkap Peredaran 7,09 Kg Sabu-sabu

Related Posts

Seperempat Warga Kaltara Hanya Lulusan SMA
Nasional

Seperempat Warga Kaltara Hanya Lulusan SMA

29 Januari 2019, 14:00
FSK Turunkan 500 Petani 
Breaking News

FSK Turunkan 500 Petani 

18 Desember 2018, 15:30
Jelang UNBK SMP, Sekolah Terkendala Jaringan dan Server 
Breaking News

UNBK SMP Terancam Batal

20 April 2018, 07:00
Warga Temukan Sumbu Kompor di TKP. SMAN 2 Sengaja Dibakar?
Breaking News

Warga Temukan Sumbu Kompor di TKP. SMAN 2 Sengaja Dibakar?

25 Januari 2018, 10:10
Dua Desa Ini Belum Teraliri Listrik PLN
Breaking News

Dua Desa Ini Belum Teraliri Listrik PLN

11 Januari 2018, 08:05
Jembatan Sungai Karai Butuh Rp 2 Miliar
Breaking News

Jembatan Sungai Karai Butuh Rp 2 Miliar

9 Januari 2018, 10:00

Terpopuler

  • Proyek Renovasi Rujab Kaltim Rp25 Miliar Sampai ke Pusat, Kemendagri Turunkan Tim Periksa Belanja

    Proyek Renovasi Rujab Kaltim Rp25 Miliar Sampai ke Pusat, Kemendagri Turunkan Tim Periksa Belanja

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Residivis Bontang Berulah Lagi, Uang Curian Rp20 Juta Ludes untuk Judi Online

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Parkiran Semrawut di Tanjung Laut Bontang, Warga Keluhkan Akses Tertutup

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • 30 Penginapan di Bontang Kuala, Baru 2 yang Bayar Pajak

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • SPMB Bontang 2026 Dibuka Mei, Jalur Afirmasi Dapat Kuota 25 Persen

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Kategori

Arsip

  • Indeks Berita
  • Redaksi
  • Mitra
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber
  • Pedoman Pemberitaan Ramah Anak
  • Kontak

© 2020 Bontangpost.id - Developed by Vision Web Development.

No Result
View All Result
  • Home
  • Bontang
  • Kaltim
  • Nasional
  • Advertorial
    • Advertorial
    • Pemkot Bontang
    • DPRD Bontang
  • Ragam
    • Infografis
    • Internasional
    • Olahraga
    • Feature
    • Resep
    • Lensa
  • LIVE

© 2020 Bontangpost.id - Developed by Vision Web Development.