Politeknik Kesehatan (Poltekkes) Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Kaltim terus memperbaiki kualitas pendidikannya. Selain melakukan pembangunan fisik berbagai fasilitas penunjang, politeknik yang berdiri sejak 2001 ini juga tengah mengembangkan pengembangan program studi (prodi). Salahnya satu program pembelajaran jarak jauh.
DIREKTUR Poltekkes Kaltim Lamri menuturkan, program-program pengembangan itu meliputi pengembangan prodi. Di antaranya program studi D3 Keperawatan, D3 Kebidanan, D3 Analis, Sarjana Keperawatan, dan Sarjana Terapan Kebidanan. Termasuk prodi perawat pendidikan di Balikpapan.
“Di samping itu kami juga membuka program pendidikan jarak jauh. Ada prodi bidan jarak jauh, ada prodi keperawatan jarak jauh. Kami mengajar di Samarinda, mahasiswanya di Nunukan dan di Berau, itu yang sedang kami kembangkan,” ungkap Lamri kepada Metro Samarinda.
Pengembangan prodi ini salah satunya dengan pemantapan akreditasi yang tengah dilakukan. Saat ini, prodi-prodi di poltekkes memiliki akreditasi B. Saat ini tengah menjalani akreditasi ICT. Harapannya, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Dikti) dapat memberikan penilaian yang optimal bagi Poltekkes dalam pemantapan akreditasi ini.
Lebih lanjut Lamri menyebut, dalam pengembangan prodi turut didukung kualitas sumber daya manusia (SDM) di kampus. Dalam hal ini, Poltekkes juga meningkatkan kualitas tenaga pendidik. Sementara ini Poltekkes telah memiliki dua dosen berstatus profesor. Sementara enam dosen tengah izin belajar program S3, dan tiga dosen menjalani tugas belajar.
“Mudah-mudahan dalam waktu dekat bisa segera selesai,” jelas pria yang dua kali menjabat direktur Poltekkes Kaltim ini.
Menambahkan Lamri, Edi Sukamto selaku pembantu direktur bidang kemahasiswaan menyebut, selain pembelajaran konvensional tatap muka, Poltekkes Kaltim juga menyelenggarakan pembelajaran dengan blended strategy. Yaitu perpaduan antara pembelajaran konvensional dengan e-learning. Yaitu pembelajaran online berbasis learning management system (LMS).
“Jadi mahasiswa kami yang ada di luar daerah seperti di Nunukan dan Berau, dosennya tidak perlu ke sana. Cukup di sini (Samarinda). Sedangkan untuk pembelajaran keterampilan menggunakan tutorial. Di sana ada tutor yang sudah kami latih,” beber Edi.
Kata dia, hingga kini Poltekkes telah meluluskan sekira lima ribuan alumninya yang mayoritas terserap dunia kerja. Sementara jumlah mahasiswa yang ada saat ini mencapai 1.200-an mahasiswa. Namun jumlah ini mengalami pergeseran karena di tahun ini ada penambahan mahasiswa baru serta Poltekkes menerima mahasiswa program khusus.
“Kami juga membantu mahasiswa kami dalam mencari lapangan pekerjaan setelah lulus. Bukan hanya lapangan pekerjaan di dalam negeri, namun juga di luar negeri. Beberapa negara luar memang tertarik menggunakan tenaga kesehatan Indonesia,” tandasnya. (luk)







