bontangpost.id – Kebutuhan air bersih sangat diharapkan oleh warga pulau pesisir. Termasuk instituisi pendidikan di kawasan tersebut. Kepala SDN 015 Bontang Selatan Titik Purwatiningsih mengatakan sejauh ini upaya yang dilakukan ialah menampung air hujan.
Tetesan itu masuk dalam talang atap yang mengalir ke dua unit tandon yang berada di halaman sekolah. Selanjutnya, sarana itu terhubung ke keran di toilet melalui pipa. “Kebutuhan MCK kami mengandalkan air hujan. Sejauh ini kami cukup karena volume tandonnya besar. Walaupun musim kemarau pun,” kata Titik.
Namun demikian terjadi permasalahan saat ini. Lantaran kondisi talang mengalami kerusakan. Akibatnya terkena angin kencang pada dua bulan belakangan. Imbasnya tampungan air tidak maksimal. “Kami ingin ada perbaikan ini untuk sementara waktu. Karena ada sambungan talang yang lepas,” ucapnya.
Sementara, untuk air minum guru-guru harus membeli air mineral saat hendak berlayar menuju ke lokasi sekolah yang berada di Pulau Selangan ini. Tiga kardus air mineral menjadi pasokan selama satu pekan. Ia mengaku membeli kebutuhan pokok itu dari dana operasional sekolah maupun iuran guru. Nominalnya tidak ditentukan.
“Selalu beli dari wilayah darat. Mengingat jumlah tenaga pendidik hanya tujuh orang,” ucapnya.
Titik juga berharap agar segera ada fasilitas reserve osmosis (RO) alias penyaringan air. Tujuannya agar pelajar dan guru dapat mendapatkan air minum bersih lebih mudah. Sehingga guru tidak repot harus membawa air mineral kemasan ketika berangkat ke sekolah.
“Karena saat berlayar itu terkadang hujan. Jadi kerap terkena kemasan air yang dibawa,” sebutnya.
Diberitakan sebelumnya, proyek penyediaan air minum bersih di kawasan pesisir harus mundur dari target. Sebelumnya, Pemkot Bontang akan membuat reserve osmosis (RO) pada tahun ini. Mengingat perencanaan sudah dilakukan pada 2019 lalu.
Namun, Kepala Bidang Sanitasi, Air Minum, dan Sumber Daya Air Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kota (PUPRK) Bontang Karel mengatakan sesungguhnya telah memasukkan program ini pada tahun anggaran 2020. Sayangnya, imbas pandemi Covid-19 maka rencana itu digeser.
“Tidak cukup anggarannya ditambah Covid-19 jadi pengerjaan fisik tidak bisa dilakukan tahun ini,” kata Karel.
Ia menjelaskan tahun depan pun tidak dapat dipastikan. Bergantung ketersediaan anggaran. Kebutuhan anggaran untuk tiga unit mencapai Rp 9 miliar. Disebutkan, minimal satu unit terbangun terlebih dahulu tahun depan. (*/ak/kpg)







