Melihat Eksotisme Birah-Birahan
Terhitung tanggal 22-24 April 2017, rombongan Pemuda Peduli Potensi Pariwisata (PETA) Kutim mengunjungi pulau Birah-birahan di Desa Manubar, Kecamatan Sandaran. Tidak gampang menginjakkan kaki di perbatasan hidung Kalimatan dan Sulawesi semenanjung perairan Selat Makassar ini.
Memulai perjalanan dari Pelabuhan Kenyamukan Sangatta Utara, menempuh waktu hampir 7 jam melewati lautan lepas dengan gelombang sekira 1 meter. Tim PETA menggunakan kapal motor kayu berukuran panjang 10×2 meter, dipimpin oleh kapten kapal bernama Yusuf.
Rasa lelah dan bosan selama mengarungi lautan terbayarkan dengan pemandangan landscape (panorama) pulau Birah-birahan. Sebelum bersandar dari kejauhan bentangan sisi luar pulau ini nampak didominasi pepohonan mangrove sudah membuat hati berdecak kagum. Air laut nyaris tanpa sampah dan warna biru tosca seolah menghipnotis sekejap.
Budiman, penjaga pulau Birah-birahan mengatakan saat ini kondisi pulau dalam keadaan darurat. Pasalnya beberapa waktu lalu masih marak nelayan nakal melakukan pemboman ikan dalam jumlah banyak di dekat area pulau.
Tidak hanya itu tempat ini menjadi satu-satunya pulau di Kutim sebagai habitat penyu sisik dan penyu hijau yang jumlahnya sudah berkurang.
“Harapan saya, Pemkab Kutim bisa turun tangan mengantisipasi terjadinya pencurian telur penyu dengan melakukan penjagaan khusus keamanan pulau. Sebagian terumbu karang yang menjadi rumah ikan juga ada yang rusak akibat pemboman,” katanya.
Disebutkan, dukungan Pemkab Kutim diperlukan agar membuat areal konservasi telur penyu. Selama ini pasca penyu bertelur, ketika telur disimpan di dalam tanah menjadi santapan makanan hewan lain yaitu biawak. Jika dibiarkan populasi penyu bakal terancam.
Pemkab Kutim dalam pengambil kebijakan bisa membuat perencanaan matang meningkatkan fasilitas di pulau ini. Terutama membuat infrastruktur konservasi penyu yang nantinya bisa dijadikan objek wisata sekaligus edukasi.
Ketua PETA Heriansyah Masdar mengutarakan bila pulau Birahan memiliki potensi alam bawah luat yang luar biasa. Belum lagi keadaan pulau ini masih terjaga, namun masih belum dikembangkan secara maksimal.
“Pulai ini tidak kalah dengan Berau. Kutim juga punya penyu yang merupakan hewan yang dilindungi dan dilestarikan keberadaannya. Penyu sisik maupun penyu hijau setiap hari bertelur di pulau ini. Kami minta dukungan Pemkab memperhatikan kelangsungan hidup hewan reptile ini,” pintanya. (hms13/drh)







