bontangpost.id – Dinas Kesehatan (Diskes) langsung mengambil langkah sigap dalam mengantisipasi penyebaran penyakit difteri. Bentuknya dengan melakukan vaksinasi bagi pelajar maupun balita.
Kasi Surveilans, Imunisasi, Bencana, dan Wabah Diskes Adi Permana mengatakan kegiatan tersebut sudah dimulai sejak awal pekan ini.
“Jadi petugas di puskesmas sudah keliling sekolah dan posyandu untuk melakukan penyaluran imunisasi difteri,” kata Adi.
Utamanya bagi mereka yang cakupannya belum lengkap lima suntikan. Puskesmas mendatangi tiap sekolah. Sesuai dengan kesepakatan bersama terkait jadwal imunisasi. Selama empat hari ini sudah beberapa sekolah dikunjungi. Di antaranya SD Galilea, SD Alam Baiturahman, SD 008 Bontang Utara, SD 006 Bontang Utara, SD 09 Bontang Selatan, dan SD 013 Bontang Selatan.
“Sekira 350 anak sudah mendapatkan imunisasi difteri,” ucapnya.
Menurutnya ketersediaan vaksin difteri sejauh ini terbilang cukup. Namun demikian Diskes telah mengajukan permintaan ke Kementerian Kesehatan. Berdasarkan data 6.500 anak harus melengkapi cakupan vaksinasi difteri. Dari balita hingga usia 12 tahun.
“Angka ini karena terdampak dari pandemi lalu. Sebab kegiatan posyandu beberapa waktu terhenti di 2020 dan 2021. Kalau di bawah tahun itu cakupan sudah 90 persen,” tutur dia.
Pelaksanaan penjemputan bola imunisasi difteri ini akan berlangsung satu bulan. Sembari dilihat tidak ada penambahan kasus difteri dalam waktu dekat. Mengingat kasus mengarah terakhir terjadi tiga pekan yang lalu.
Hingga kini hasil pemeriksaan pasien terakhir belum keluar. Butuh durasi satu bulan pasca pengajuan baru mendapatkan hasilnya.
“Kalau sampai 28 hari tidak ada tambahan kasus berarti aman. Masa inkubasi ialah 2×14 hari,” sebutnya.
Langkah imunisasi ini merupakan bentuk pengantisipasian. Jika hasilnya suspek maka Diskes sudah mengambil langkah cepat dan tepat. Namun bila hasilnya negatif, langkah ini pun dipandang tidak mubazir.
Terkait SDM untuk penyaluran ini dilakukan pengaturan. “Siklusnya diatur. Jika pun kurang maka dari jadwal tugas sekolah lain yang akan membantu. Terpenting menginformasi kepada kami,” terangnya.
Sebelumnya Diskes melakukan pendataan dan persiapan di pekan lalu. Proses pengejaran cakupan vaksinasi difteri ini berbeda dengan Covid. Pasalnya kalau Covid langsung menyasar seluruh pelajar. Tetapi ini ada yang sudah lengkap cakupan vaksinasinya. Sehingga membutuhkan waktu. Sementara di posyandu juga bakal dibuka ketika waktunya pelayanan penyaluran vaksin.
Langkah ini sempat dilakukan pada 2018 lalu. Ketika itu Diskes harus mengejar 60 ribu anak. Saat itu cakupannya mencapai 50 ribu. Selain itu efek samping dari vaksin ini tergolong tidak ada. Berbeda dengan Covid.
“Tidak ada demam. Biasa pada sekolah tidak pernah ada keluhan,” pungkasnya. (ak)





