SAMARINDA – Pada 25 Oktober 2018 mendatang, Presiden Joko Widodo diagendakan bakal hadir dalam Grand Launching Bandar Udara Aji Pangeran Tumenggung (APT) Pranoto. Kendati demikian, keadaan fisik bandara yang terletak di Kecamatan Sungai Siring itu disebut sedang mengalami kerusakan.
Hingga saat ini shoulder runaway bandara tersebut belum bisa didarati pesawat jenis Boeing karena mengalami amblas dengan panjang sekitar 250 meter. Dengan kata lain, pesawat kepresidenan yang dikabarkan akan mendarat di Bandara APT Pranoto kemungkinan belum tidak akan bisa dilakukan.
Kepala Kantor Unit Pengelola Bandar Udara (UPBU) APT Pranoto, Wahyu Siswoyo mengaku, sebenarnya pihaknya belum mendapat informasi lanjutan atas kabar kedatangan presiden tersebut. Kendati demikian, pihaknya tetap akan melakukan persiapan.
“Masih rencana, kami belum mendapat arahan langsung. Belum ada rencana lanjutan, tim pendahuluan saja belum ada,” kata dia, Rabu (3/10) kemarin.
Sedangkan mengenai runway, Wahyu berujar, permasalahan tersebut berada di Pemprov Kaltim dalam hal ini Dinas Perhubungan (Dishub). Akan tetapi, apabila masih ada runway yang bermasalah, bukan berarti pesawat kepresidenan tidak bisa mendarat di APT Pranoto. Ia memiliki harapan kalau pesawat Boeing masih bisa.
“Pesawat kepresidenan kan ada yang boeing ada yang classic. Harapannya sebelum tanggal 25 kita sudah memiliki pesawat itu. Yang jelas bisa menghubungkan Kalimantan dan Jawa,” ucapnya.
Selain persoalan shoulder runaway tersebut, ia menuturkan, sebenarnya masih ada dua masalah lain yang masih menjadi pekerjaan rumah. Yakni adanya dua titik longsor, yang mana satu titik sudah teratasi yang satu belum.
Selanjutnya, masih ada tanah yang menjadi sengketa di posisi 40 meter dari sisi tepi runway. Sebab, tanah tersebut disebut milik warga yang masuk area terbatas. “Namun, lagi-lagi itu kewenangan pemprov,” ucapnya.
Kendati demikian, pihaknya memiliki kabar baik. Saat ini pihak bandara tengah membangun konsep transportasi terintegrasi yang akan memudahkan perjalanan penumpang maupun karyawan di dalam bandara.
“Kami akan membuat halte terintegrasi. Nantinya bus dari Bontang dan Samarinda yang mau ke bandara bisa menurunkan penumpang di halte tersebut. Jadi penumpang dan karyawan akan kami bawa keluar dan masuk bandara dengan bus gratis,” katanya.
“Posisi halte tersebut tepat di pintu masuk bandara. Jadi penumpang dan karyawan tidak perlu capek-capek jalan kaki menuju ke dalam bandara,” tambahnya.
Untuk transportasi tersebut, pihak bandara akan menyiapkan dua bus yang akan berkeliling setiap lima menit. Di mana jarak yang akan ditempuh sekira empat menit. “Kami juga masih dalam tahap pembahasan untuk sistem parkir free. Kalau mau masuk kurang dari 10 menit enggak bayar. Minggu depan sudah terealisasi,” pungkasnya. (*/dev)







