Generasi Z atau generasi milenial saat ini pasti mengenal sastra. Jenis karya tulis ini sudah diperkenalkan semenjak berada di bangku sekolah dasar. Kata maupun sajak indah dari sastra seolah merefleksikan pikiran dan perasaan pembuatnya.
Namun di masa sekarang, sastra seolah nyaris terlupakan. Bahkan tak sedikit yang mengatakan sastra itu membosankan. Benarkah? (*/nk/*/swr/*/len/*/mus/*/nis/*/res/*/tik/*/ce/*/np/*/ak/zul)
Minat Sastra Mulai Menurun
Sastra di sebagian kalangan mungkin sudah menjadi bagian dari hidup mereka. Bahkan ada yang menggeluti sastra bukan hanya sekadar hobi tetapi juga pekerjaan. Di kalangan pelajar, sastra sudah mulai mereka pelajari dari sekolah dasar, khususnya di Indonesia. Misalnya puisi pada pelajaran Bahasa Indonesia atau Seni Budaya. Sehingga tidak ada alasan bagi mereka untuk tidak mengenal sastra.
Bila berbicara tentang sastra, tentunya menyangkut selera pribadi setiap orang yang berbeda-beda. Berdasarkan pengertiannya, sastra atau dalam bahasa Indonesia Kesusastraan merupakan suatu tulisan atau kata-kata yang memiliki nilai seni dan budaya serta keindahan dengan makna tertentu. Namun, dari keindahan yang dimiliki suatu karya sastra, tidak menjadikan sastra diminati semua orang. Di zaman yang telah berkembang ini, ternyata masih banyak orang yang tidak menyukai sastra, terutama di kalangan remaja.
“Kalau untuk sastra tipe tinggi dalam artian sebenarnya tentu indah. Memang minat anak muda mulai menurun. Alasannya karena sastra lama itu membosankan dan kurang menarik,” ungkap seorang guru Bahasa Indonesia SMAN 2 Bontang, Chriesmurti.
Ia juga menjelaskan, penyebab menurunnya minat sastra itu karena tergantung pada anak itu sendiri. Melihat jika menikmati atau menciptakan suatu karya sastra membutuhkan waktu senggang. “Di era gadget saat ini kan ada e-book, jadi bisa sedikit membantu lah. Tapi tentu harus mengandung pesan moral yang baik untuk anak muda,” tambah Chriesmurti.
Berbeda dengan salah satu guru Bahasa Indonesia di SMAN 1 Bontang, Heru Sudrajat. Menurutnya, minat sastra di kalangan anak muda tidak sepenuhnya menurun. Karena sebenarnya, bila melihat seperti komunitas-komunitas di media sosial, masih banyak anak muda yang suka atau menjadi pemerhati perkembangan sastra. Terkait menurunnya minat anak muda terhadap sastra, Heru beranggapan karena kurang memberi ruang pada mereka. “Karena anak mendapatkan pelajaran sastra hanya pada pelajaran Bahasa Indonesia di sekolah, itu pun bila sub materinya sastra. Di luar itu, mereka menganggapnya kurang penting,” ujar Heru.
Namun, terkait pentingnya sastra bagi anak muda, keduanya memiliki pendapat yang sama. Sastra memiliki nilai moral atau suatu makna yang tersirat di dalamnya. Sehingga, yang membaca karya sastra tersebut dapat mengambil pesan moral yang disampaikan. Mereka seharusnya menyempatkan diri untuk membaca karya sastra, dan pesan atau nilai yang di dapat tidak hanya menjadi sebatas teori saja, tetapi bisa dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari. “Selain itu, dengan siswa membaca karya sastra, akan membuat anak tersebut tumbuh daya kreasi atau daya ciptanya,” tambah Heru. (***)
Gadget Jadi Faktor Utama
Guys, sastra merupakan karya yang pada masa kini kurang diminati oleh sebagian besar masyarakat Indonesia, kenapa ya? Padahal, sastra itu adalah karya seni yang patut untuk dilestarikan, minimal dengan membaca.
Kita juga mendapat pelajaran penting mengenai karya sastra tersebut. Namun, di zaman yang serba canggih ini, karya sastra sangat dianggap remeh oleh masyarakat indonesia, khususnya para remaja masa kini. Kita tanya yuk pendapat mereka!
“Meremehkan sastra itu gak bagus! Membaca itu penting! Jangan bisanya cuma nonton doang! kalau malas beli buku, kan bisa baca di E-book,” ujar salah satu Siswi SMAN 2 Bontang Naswa Ulfi Awalia.
Siswi SMAN 2 lainnya, Karina Zulfarida beranggapan faktor teknologi menjadi penghalang minat akan karya sastra. Para remaja terlalu asik dengan fitur-fitur gadget miliknya dibandingkan dengan membaca sastra.
“Mereka lebih mementingkan gadget-nya, karena gadget itu lebih menarik isi-isinya daripada harus membaca tinta hitam diatas kertas putih,” kata Karina.
Begitupula dengan Vivi Arsi Rahmania. Siswi SMAN 1 ini berujar kalau minat membaca sastra mulai lambat laun pudar. Para remaja lebih memilih menyendiri dengan gadget-nya ketimbang dengan membaca sastra.
“Karena sastra merupakan kebiasaan lama yang membosankan. Lagian zaman sekarang anak-anak sudah terpengaruh oleh gadget, jadi cenderung lebih suka menyendiri bersama dunia medsosnya dibandingkan dengan membaca beberapa buku khususnya tentang sastra,” ujar Vivi.
Bentuk sastra sendiri sangatlah beragam mulai dari puisi, cerpen, novel, maupun drama. Menikmati karya sastra tak sulit, bisa dimanapun, kapanpun, dan bagaimana pun. Ketika membaca suatu karya sastra, kita bisa memperoleh nilai moral tersendiri di dalamnya, ataupun merenungkan suatu peristiwa atau masalah yang terjadi di sekitar kita. (***)
Pelajar Bontang Masih Gemar Sastra
Meski minat membaca maupun membuat sastra di kalangan pelajar mulai menurun, namun dari hasil jajak pendapat yang dilakukan tim Zetizen Bontang Post menunjukkan hasil sebaliknya. Dari lima puluh siswa yang tersebar di sekolah negeri maupun swasta di Bontang, sebanyak 70,22 persen di antaranya masih menggemari sastra. Sedangkan 29,78 persen di antaranya mengaku tidak suka.
Dari siswa yang menyukai sastra tersebut, 33,33 persen mengaku menyukai sastra jenis prosa yang terdiri dari cerpen, novel, ataupun roman, 12,12 hanya menyukai puisi, dan 54,54 persen menyukai sastra berjenis drama.
Beberapa tema pun juga disukai oleh para siswa ini. Dari data yang didapatkan, 9,09 persen siswa menyukai tema sastra tentang alam. Tiga puluh koma tiga puluh persen menyukai tema sastra tentang perjuangan, 33,33 persen tema tentang cinta, dan 27,27 persen menyukai tema-tema lainnya. Sementara sebanyak 6 persen siswa di Bontang memilih tidak menjawab pertanyaan yang kami berikan ataupun suara yang diberikan tidak sah. (***)
– Suka Sastra
Ya: 70,22 persen
Tidak: 29,78 persen
– Jenis sastra yang disuka
Prosa: 33,33 persen
Puisi: 12,12 persen
Drama: 54,54 persen
– Tema yang disukai
Alam: 9,09 persen
Perjuangan: 30,30 persen
Cinta: 33,33 persen
Dll: 27,27 persen
– Suara Tidak Sah: 6 persen
Profil Responden
Pendidikan: SMA 100%
Jumlah responden: 50 orang
Polling dilakukan di lima sekolah di Bontang.







