• Indeks Berita
  • Redaksi
  • Mitra
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber
  • Pedoman Pemberitaan Ramah Anak
  • Kontak
Bontang Post
  • Home
  • Bontang
  • Kaltim
  • Nasional
  • Advertorial
    • Advertorial
    • Pemkot Bontang
    • DPRD Bontang
  • Ragam
    • Infografis
    • Internasional
    • Olahraga
    • Feature
    • Resep
    • Lensa
  • LIVE
No Result
View All Result
  • Home
  • Bontang
  • Kaltim
  • Nasional
  • Advertorial
    • Advertorial
    • Pemkot Bontang
    • DPRD Bontang
  • Ragam
    • Infografis
    • Internasional
    • Olahraga
    • Feature
    • Resep
    • Lensa
  • LIVE
No Result
View All Result
Bontang Post
No Result
View All Result
Home Catatan Opini

Sekulerisasi Merusak Pendidikan di Indonesia

by BontangPost
23 Maret 2017, 12:40
in Opini
Reading Time: 3 mins read
0
Emirza Erbayanthi, M.Pd
Guru SD Alam Baiturrahman

Emirza Erbayanthi, M.Pd Guru SD Alam Baiturrahman

Share on FacebookShare on Twitter

Pendidikan Islam di Indonesia dihadapkan pada tantangan semakin berkembangnya model-model pendidikan yang diselenggarakan oleh berbagai lapisan masyarakat. Harus diakui bahwa model pendidikan Islam di Indonesia masih jauh dari memuaskan, terutama jika dilihat dari sistem pengelolaan, kualitas kurikulum, hingga pada kualitas lulusannya.

Mentalitas para pelajar yang gagal dibina, sehingga seringkali tidak memiliki idealisme dan mudah sekali berbuat curang. Di sisi lain, para pelajar juga disiksa dengan pengungkungan kreativitas, tumpukan teori, dan tuntutan mencapai KKM (Kriteria Ketuntasan Minimum) yang akhirnya membentuk siswa menjadi PPN (Para Pencari Nilai), tanpa peduli apakah memahami apa yang diujikan atau tidak. Tanpa sadar, terjadi pembunuhan kepribadian para siswa dengan mekanisme seperti ini.

Hasilnya, lulusan sekolah menengah pun hanya menjadi siswa-siswa miskin keahlian dan tidak bisa memberdayakan potensi, karena pengekangan paksa yang dilakukan oleh kurikulum. Bahkan banyak diantaranya  jadi lulusan tidak bermoral dan kriminal, bila tidak segera ditangani, maka akan berakhir sebagai sampah masyarakat.

Berbagai pengamat pendidikan dan orang-orang yang concern terhadap aspek pendidikan ini sebenarnya memahami bahwa pendidikan negeri ini bermasalah. Hanya saja, analisis yang dilakukan masih belum mengakar dan solusi yang ditawarkan pun hanya sekedarnya.

Baca Juga:  Manfaatkan Lahan Kosong,  Tanami Sayur dan Buah 

Dianggapnya persoalan yang melanda adalah kerusakan moralitas para peserta didik, maka disusunlah Kurikulum yang katanya berusaha untuk menanamkan pendidikan karakter pada peserta didik, serta berorientiasi pada proses. Sayangnya, pendidikan karakter yang dimaksud hanya karakter yang didasarkan pada filsafat humanisme yang bersifat universal, sementara peran agama masih terlihat abu-abu, tidak jelas. Sementara, isi dari struktur kurikulumnya tidak banyak berubah.

Kurikulum di bidang sains tetap hanya berorientasi aplikatif, pengembangan kemampuan berfikir, kemampuan belajar, rasa ingin tahu, pengembangan sikap peduli dan bertanggung jawab pada lingkungan alam, yang sebenarnya tidak nyambung, mengingat sains pada dasarnya tidak bisa membentuk kepribadian. Sementara, di bidang sosial, yang diajarkan juga tidak berubah. Tetap ilmu sosiologi yang dikembangkan para filsuf dan ekonomi kapitalisme-liberal ala Adam Smith. Kurikulum sekuleris seperti ini hanya sebatas tambal sulam atas persoalan pendidikan negeri ini.

Paradigma sekulerisme telah gagal dalam mengelola pendidikan dengan benar. Kurikulum sekuler tidak jelas mau dibawa kemana, infrastruktur dan suprastruktur pendidikan yang tidak merata dan kacau balau, pemisahan (atau minimalisasi) antara pengajaran agama dengan pendidikan formal, serta intervensi pihak asing dalam urusan pendidikan, sukses menjadian output pendidikan negeri ini hancur-hancuran. Sebagian siswa yang memiliki otak cemerlang dialihkan perannya menjadi robot pelayan kapitalis, atau pindah ke luar negeri karena tidak dihargai di dalam negeri. Sebagian lainnya berakhir menjadi sampah masyarakat.

Baca Juga:  Prakualifikasi Aqua DNC 2017 Bontang, Tuan Rumah Perkasa

Dipisahkannya agama dari pendidikan formal makin membuat persoalan jadi ruwet. Para siswa menjadi kumpulan pelajar yang kering secara rohani dan miskin pengetahuan agama sebagai tuntunan hidup. Akibatnya, para siswa jadi kehilangan arah dalam hidup dan terbentuk menjadi manusia-manusia sekuler-liberal, yang kelak sadar tidak sadar akan menjadi penerus hegemoni kaum kapitalis global untuk melanjutkan penjajahannya terhadap negeri ini. kalau terus seperti ini, maka bersiap-siaplah negeri ini akan menemui kehancurannya.

Islam memiliki paradigma sendiri dalam mengurusi masalah pendidikan formal. Pendidikan Islam mengatur agar membentuk generasi berkepribadian Islam dan menguasai saintek, serta mempersiapkan peserta didik untuk memasuki jenjang pendidikan berikutnya. Jadi bukan sebagai pemburu nilai tapi miskin pemahaman agama. Pola tingkah laku para peserta didik dibentuk berdasarkan akidah Islam dan tingkah lakunya dibentuk agar senantiasa mengikuti tuntunan syariah, baik dalam pola pikir maupun pola sikap.

Baca Juga:  164 Siswa SD IT Yabis Khataman dan Imtihan Al Quran

Para peserta didik juga dibentuk agar menguasai saintek untuk mengarungi kehidupan dan mengembangkan inovasi. Pada tingkat pendidikan tinggi, para peserta didik dibentuk pula untuk menjadi pakar dan inovator.

Tidak ada dikotomi antara pendidikan agama (Islam) dan penguasaan saintek. Di sisi lain, pendidikan Islam tidak akan mengajarkan pemahaman-pemahaman yang berasal dari akidah sekulerisme, misalnya demokrasi, kewarganegaraan, ekonomi kapitalisme, dan sebagainya. Hal-hal demikian hanya akan diajarkan pada pendidikan tinggi, itupun sekadar untuk membuktikan kegagalan dan kerusakan konsepnya. Secara singkat, pendidikan Islam membentuk seorang cendekiawan yang juga faqih dalam ilmu-ilmu keislaman.

Paradigma pendidikan Islam ini tentu saja hanya bisa berjalan efektif jika lingkungannya kondusif dan dijalankan atas syariah Islam. Seluruh hal ini bersifat integral, tidak bisa dipisahkan satu sama lain.

Hanya dengan menegakkan sistem Islam saja, yakni Khilafah, paradigma pendidikan Islam dapat diberlakukan secara efektif. Sehingga, kasus-kasus kriminalitas pelajar, mentalitas robot pelayan, sampai miskinnya kreativitas siswa, tidak akan ditemukan lagi.

Dengan sistem pendidikan Islam yang diterapkan Khilafah, para generasi muda akan dibentuk supaya siap menjadi generasi pemimpin umat Islam di masa mendatang. (*)

 

Tags: bontangpendidikan
ShareTweetSendShare

Bergabung dengan WhatsApp Grup Bontang Post untuk mendapatkan informasi terbaru: Klik di Sini. Simak berita menarik bontangpost.id lainnya di Google News.

Ikuti berita-berita terkini dari bontangpost.id dengan mengetuk suka di halaman Facebook kami berikut ini:


Previous Post

Neni Hadiri Pentas Seni SLB YPK, “Jika Diberi Kesempatan, Saya Yakin Mereka Bisa”

Next Post

Hadi-Henry Naik Peringkat

Related Posts

BMKG Ingatkan Potensi Hujan Menengah–Tinggi di Kaltim Sampai 20 November
Kaltim

BMKG Ingatkan Potensi Hujan Menengah–Tinggi di Kaltim Sampai 20 November

15 November 2025, 13:00
Pemkot Bontang Borong Empat Penghargaan Keterbukaan Informasi Publik Kaltim 2025
Bontang

Pemkot Bontang Borong Empat Penghargaan Keterbukaan Informasi Publik Kaltim 2025

6 Oktober 2025, 09:00
Dalami Kasus Dugaan Pelecehan Seksual, Polisi Panggil Oknum Pimpinan Ponpes
Kriminal

Dalami Kasus Dugaan Pelecehan Seksual, Polisi Panggil Oknum Pimpinan Ponpes

20 Desember 2023, 12:00
Viral Pelajar di NTT Masuk Sekolah Jam 5 Pagi, Ini yang Dilakukan Kemendikbud
Nasional

Viral Pelajar di NTT Masuk Sekolah Jam 5 Pagi, Ini yang Dilakukan Kemendikbud

1 Maret 2023, 10:35
Berpotensi Jadi Temuan BPK, Tahun Ini Foto Ijazah Tak Lagi Dibebankan ke Sekolah
Bontang

Berpotensi Jadi Temuan BPK, Tahun Ini Foto Ijazah Tak Lagi Dibebankan ke Sekolah

25 Februari 2023, 21:13
Nadiem Ubah Pola Seleksi Masuk Perguruan Tinggi Negeri
Pendidikan

Nadiem Ubah Pola Seleksi Masuk Perguruan Tinggi Negeri

8 September 2022, 10:07

Terpopuler

  • 25 Atlet Bontang Dicoret dari Porprov Kaltim 2026, Terbukti Cabutan dari Luar Daerah

    25 Atlet Bontang Dicoret dari Porprov Kaltim 2026, Terbukti Cabutan dari Luar Daerah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bontang Berharap Masuk Daftar Penerima Tambahan Dana Rp20,5 Triliun dari Pusat

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seng Penutup Jalan Gotong Royong Dibongkar Paksa, Wali Kota Neni; Fasilitas Publik Tidak Boleh Ditutup

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bontang Absen di Singa Cup

    1 shares
    Share 1 Tweet 0
  • Ragam Alasan Masyarakat Pilih Golput

    2 shares
    Share 2 Tweet 0

Kategori

Arsip

  • Indeks Berita
  • Redaksi
  • Mitra
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber
  • Pedoman Pemberitaan Ramah Anak
  • Kontak

© 2020 Bontangpost.id - Developed by Vision Web Development.

No Result
View All Result
  • Home
  • Bontang
  • Kaltim
  • Nasional
  • Advertorial
    • Advertorial
    • Pemkot Bontang
    • DPRD Bontang
  • Ragam
    • Infografis
    • Internasional
    • Olahraga
    • Feature
    • Resep
    • Lensa
  • LIVE

© 2020 Bontangpost.id - Developed by Vision Web Development.