bontangpost.id – Drama mengenai usulan pembuatan masterplan menjadi buah bibir. Kondisi ini pun mendapat respon dari Pengamat Politik dan Hukum Universitas Mulawarman (Unmul) Herdiansyah Hamzah. Menurutnya rebut perihal ini tidak elok. Mengingat warga Bontang justru menjadi korban. Karena penanganan banjir menjadi hal yang krusial. Sehingga mesti segera diselesaikan.
“Sebaiknya warisan pertarungan politik pilkada kemarin, disisihkan dulu,” kata akademisi yang akrab disapa Castro ini.
Ia meminta kedua belah pihak, baik pemimpin daerah maupun wakil rakyat untuk bersikap dewasa. Demi kepentingan warga. Selayaknya komunikasi keduanya lebih intensif dan mempertajam kajian soal penanganan banjir. Menurutnya, secara teknis, masterplan usulan Pemkot mesti disinkronkan dengan dokumen penanganan banjir periode sebelumnya. Bertitik tolak dari periode sebelumnya itu tidak ada salahnya.
“Ambil apinya, buang abunya. Lanjutkan yang baik, tinggalkan yang buruk,” ucapnya.
Pun demikian dengan DPRD, juga mesti terbuka dengan usulan masterplan Pemkot. Harus konsisten dengan rekomendasi awal pansus yang dikeluarkan sebelumnya.
Sementara Ketua DPRD Andi Faisal Sofyan hasdam mengatakan legislator tidak menghalangi langkah Pemkot Bontang. Apalagi dalam upaya penanggulangan banjir. Harapannya justru setiap tahun titik banjir semakin dapat ditekan.
Tetapi paparan dalam dokumen Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) hanya berisi lima komponen terkait langkah penanganan banjir. Bahkan, belum ada program besar yang tertera dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD). Kelima komponen itu meliputi normalisasi sungai, normalisasi parit, pembangunan polder, pembuatan sumur resapan, dan pemanfaatan Waduk Kanaan dan Bendali Suka Rahmat.
“Tidak ada program besar sehingga belum diperlukan untuk pembuatan masterplan. Karena masih selaras dengan program jangka panjang,” tutur dia.
Seyogyanya perencanaan baik itu disusun pada awal tahun. Sehingga kajian lebih matang dengan gagasan yang lebih detail. Tetapi ini justru diajukan saat pergeseran anggaran mendahului APBD Perubahan. Praktis terhitung hanya enam bula itu dikerjakan.
“Bulan depan dibahas terus harus selesai November. Apa waktunya itu mencukupi,” ucap Politikus Golkar ini.
Ia juga meminta kepada Pemkot untuk memaparkan program kepada Komisi III. Termasuk dari mana sumber dana yang dipakai nantinya. Dijelaskan dia, komponen seperti normalisasi sungai dan parit sudah dilakukan sebelumnya. Mengacu masterplan yang dibuat 2004.
Disadarinya 16 rekomendasi pansus tidak bisa serta merta langsung dilakukan. Tetapi sejak pemerintah sebelumnya sudah mulai mengerjakannya. Salah satunya ialah normalisasi Sungai Guntung. Ia justru menyetujui pandangan akademisi Unmul dengan membuat embung di Kelurahan Gunung Telihan. Sebagai salah satu upaya penahan debit air tinggi dari hulu.
“Embung saya setuju kalau itu dilakukan. Bisa dianggarkan di APBD Perubahan terkait pembebasan lahannya. Kemudian fisik tahun depan,” sebutnya.
Sebelumnya diberitakan, Akademisi Universitas Mulawarman (Unmul) Tamrin menyorot rencana penanganan banjir di Kota Taman. Menurutnya, dibutuhkan kebijakan dari Pemkot Bontang untuk membuat embung di area Kelurahan Gunung Telihan. Tepatnya depan Waduk Kanaan atau sisi sebelah kanan jalan ketika dari simpang empat RSUD Taman Husada.
Pasalnya, jika hanya mengandalkan rencana pemanfaatan Bendungan Suka Rahmat maka membutuhkan waktu. Mengingat saat ini masih dalam pengurusan Amdal oleh Pemprov Kaltim. Pun demikian, berdasarkan informasi titik lokasi bendungan, maka masih ada debit yang masuk ke Bontang. Walaupun nominalnya turun drastis tidak seperti saat ini.
“Jadi yang perlu dilakukan ialah menahan debit air di Telihan sebelum masuk pusat kota. Jangan memikirkan melebarkan sungai tetapi bagaimana cara supaya debit itu tertahan,” kata Tamrin.
Embung itu nantinya dipasang pelimpa. Sehingga dapat mengatur volume air yang keluar menuju saluran drainase lainnya. Dijelaskan dia, kondisi Waduk Kanaan belum optimal untuk menangani banjir. Jika hujan setengah hari maka volume tampungan sudah membeludak dan lari ke Sungai Bontang. (*/ak)







