BONTANG – Hasil dari uji laboratorium, air sungai Bontang dinyatakan tercemar. Pasalnya, dari beberapa parameter yang diperiksa, seluruhnya tidak sesuai dengan baku mutu air.
Kasi Pengendalian Pencemaran Lingkungan DLH Bontang Hikmatun Meida dan Pengendali Dampak Lingkungan Sri Nurwahyuni membeberkan hasil uji laboratorium air sungai Bontang yang berwarna hitam.
“Selasa pada 11 September kami ambil sampel di empat titik, dan hasilnya semua untuk parameter DO (oksigen terlarut, Red.) di bawah empat. Sedangkan untuk parameter COD, besi, amoniak semua hasilnya juga tidak memenuhi baku mutu,” kata Hikmatun.
Karena hasil DO nya sangat rendah, mereka kembali mengulangi tes laboratorium pada 12 September lalu. Hanya saja kali ini diambil di 29 titik, dari hulu hingga hilir.
Dari 29 titik tersebut, terdapat beberapa parameter yang tidak memenuhi baku mutu. “Untuk parameter DO paling rendah ada di jembatan yang dilaporkan menghitam yakni Jalan Atletik 9, di sana DO-nya berkisar 0,15. Hal ini, bisa berasal dari sampah limbah domestik dan pabrik tahu juga bengkel, termasuk cucian mobil yang langsung membuang limbah ke sungai,” bebernya.
Sementara untuk parameter lainnya seperti amoniak, besi, nitrit, mangan, klorin di 29 titik, kondisinya juga sama yakni hampir semua tidak sesuai baku mutu.
“Dari hasil yang kami dapat, kami menyarankan kepada warga agar membuat septic tank. Selain itu, kami akan lakukan pembinaan untuk tahap pertama,” ujarnya.
Sementara itu, upaya pembersihan sungai pun mulai dilakukan pemerintah. Dan progran restorasi kali dan laut bersih (kaliber) ditargetkan bisa terwujud di tahun 2019.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Bontang Agus Amir mengatakan, pihaknya langsung menerjunkan timnya ketika ada laporan masyarakat yang menyebutkan kondisi sungai yang hitam dan bau. ”Pada saat ada laporan masyarakat, terhadap kondisi Sungai Bontang, langsung kami respon,” jelas Agus Amir saat ditemui di kantornya, Senin (1/10) kemarin.
Kata dia, panjang Sungai Bontang mencapai 14 kilometer. Sementara perubahan air sungai menjadi warna hitam hanya di beberapa titik saja. Oleh karena itu, pihaknya mencoba menelusuri dari aliran mana saja air sungai berubah warna. “Kami petakan, kemudian coba telusuri dari setiap segmen kami coba lakukan pemeriksaan dan tindaklanjutnya,” terang dia.
Dengan adanya permasalahan perubahan warna air sungai, Agus mencoba melakukan penyelesaian masalah dengan melaksanakan program normalisasi yang masuk program kaliber. Hasilnya, sudah sepanjang 150 meter sungai dinormalisasi. “Para warga di sekitar bantaran sungai pun diberikan sosialisasi yang juga menggaet komunitas untuk memasang spanduk agar bersama-sama menjaga sungai,” tukas Agus. (mga)







