BONTANG – Teror kebakaran ‘menghantui’ warga di RT 19 Kelurahan Berbas Pantai yang dijuluki sebagai Kampung Keluarga Berencana (KB). Ketua RT 19, Abdul Kadir pun melakukan antisipasi dengan berjaga setiap malam bersama para warganya.
Haji Kadir—sapaannya—mengatakan, memang pada Sabtu (6/1) malam lalu sekira pukul 23.00 Wita warga mencium bau bensin yang tumpah. Kala itu juga, warga yang tinggal di wilayah yang dikenal dengan sebutan Kampung Makassar segera mencari asal dari bau bensin tersebut. Tak lama, terdengar suara air laut seperti terdapat orang yang berjalan di atasnya. “Memang sempat dikejar, tetapi sepertinya itu suara gelombang saja,” jelas Kadir saat ditemui di kediamannya, Jalan Pangeran Antasari, Gang Pangandaran, RT 19 Kelurahan Berbas Pantai, Senin (8/1) kemarin.
Namun setelah dicari, lanjut dia, ternyata tidak ada siapapun. Ketika masyarakat kaget dengan suara air yang seperti suara orang berjalan di air, dan tidak ditemukan siapapun ada dari mereka yang mem=posting-nya ke grup Facebook jual beli Bontang. “Bau bensin itu menyengat sekali seperti ada yang ditumpahkan, dan semua warga RT 19 di wilayah ujung itu menciumnya,” ungkapnya.

Dikatakan Haji Kadir, di wilayahnya itu sempat juga ada teror kebakaran sekira tahun lalu. Disebutkan bahwa Kampung Makassar akan dibakar setelah kebakaran SDN 005 beberapa tahun lalu. Namun ternyata teror itu tidak terjadi. “Kami juga heran mengapa ada teror seperti itu, karena motifnya apa untuk meneror Kampung Makassar. Karena tidak pernah ada masalah jadi untuk apa?” ujarnya.
Hanya saja, diakui Kadir, di wilayahnya itu sulit dijangkau oleh pemadam kebakaran. Sehingga pihaknya beserta warga lainnya harus berjaga-jaga setiap malam dengan tidak tidur. “Jadi warga juga berjaga semalaman, jika ada asap sedikit semua sudah siap,” terang ketua RT yang sudah menjabat selama 10 tahun itu.
Sebanyak 130 Kepala Keluarga (KK) tinggal di Kampung Makassar atau RT 19 Kelurahan Berbas Pantai. Rata-rata rumah warga pun dari kayu karena berada di atas air laut. Setiap rumah juga tidak disediakan APAR, karena Kadir mengaku sempat mengajukannya di Prolita tahun 2016 tetapi ternyata tidak terealisasi. Pun juga pipa hidrolik yang belum teralisasi. “Karena tak ada siskamling juga, makanya kami berjaga dengan kesadaran saja,” pungkasnya.(mga)







