BONTANGPOST.ID, Bontang – Kasus perceraian di kalangan Aparatur Sipil Negara (ASN) di Bontang menunjukkan angka yang stagnan dalam tiga tahun terakhir, dengan sembilan kasus tercatat pada Januari hingga November 2025. Menyikapi hal tersebut, Pemkot Bontang melalui Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BKPSDM) menggelar Pelatihan Deteksi dan Mediasi Perselisihan Rumah Tangga untuk memperkuat ketahanan keluarga ASN, yang dibuka oleh Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni, di Hotel Gran Equator, Senin (17/11).
Pelatihan ini bertujuan untuk memberikan keterampilan kepada ASN dalam menjaga keharmonisan rumah tangga mereka, serta mempersiapkan mereka menjadi mediator di unit kerjanya, agar permasalahan rumah tangga tidak mengganggu kinerja di kantor.
Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni, yang hadir dalam acara tersebut, menyampaikan keprihatinannya terhadap meningkatnya angka perceraian, yang sering dipicu oleh masalah seperti KDRT, perselingkuhan, penelantaran pasangan, dan ketidakseimbangan ekonomi.
Neni menegaskan pentingnya membangun keluarga yang lebih kuat dan harmonis, dan berharap pelatihan ini dapat menghasilkan agen-agen mediasi yang mampu mengurangi masalah perceraian sejak dini.
Dalam laporannya, Kepala BKPSDM Bontang, Sudi Priyanto, memaparkan bahwa meski ada stagnansi dalam angka perceraian, masih banyak ASN yang menghadapi masalah rumah tangga yang dapat memengaruhi kinerja mereka.
Pelatihan ini juga menyoroti pentingnya kualitas mental ASN yang sejalan dengan kualitas pelayanan publik, serta dampak negatif konflik rumah tangga terhadap anak-anak, yang sering kali tumbuh tanpa figur orangtua akibat perceraian. Neni menekankan bahwa transformasi sosial dan pembangunan SDM harus berjalan beriringan, serta mengingatkan agar keluarga ASN lebih ketat dalam melakukan pendampingan terhadap anak-anak di era digital ini. (*)







