bontangpost.id – Pelaksanaan ujian sekolah dipastikan memakai skema luring atau tatap muka. Seiring dengan menurunnya tren penyebaran Covid-19 di Kota Taman. Ujian ini merupakan salah satu persyaratan kelulusan baik di jenjang SD maupun SMP. Pasalnya Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) meniadakan ujian nasional tahun ini.
Kabid Pendidikan Dasar Disdikbud Saparudin mengatakan pelaksanaan ini sekaligus dijadikan tahap simulasi tatap muka. Mengetahui sejauh mana persiapan yang dilakukan oleh satuan pendidikan untuk menerapkan protokol kesehatan. Sesuai dengan instruksi pemerintah pusat di masa pandemi Covid-19.
“Ujian sekolah dilaksanakan April mendatang. Tepat pada bulan puasa,” kata Saparuddin.
Berdasarkan kalender akademik pelaksanaan ujian sekolah diperkirakan jatuh pada 19-22 April mendatang. Disdikbud juga telah menyebarkan surat edaran 420/0272/Dikbud kepada seluruh satuan pendidikan pada 3 Maret lalu. Menindaklanjuti surat edaran yang telah dikeluarkan sebelumnya. Bernomor 420/0205/DIKBUD tertanggal 17 Februari.
Nantinya untuk jenjang SD terdapat tiga mata pelajaran yang diujikan. Meliputi bahasa Indonesia, matematika, dan IPA. Sementara pelajar kelas IX bakal menempuh empat matu uji berupa bahasa Indonesia, matematika, IPA, dan bahasa inggris. Tiap mata uji akan diselenggarakan dalam tempo sehari. Durasi per mata ujiannya maksimal dua jam.
“Mata pelajaran yang lain diatur oleh sekolah masing-masing,” ucapnya.
Ketentuan skema luring ialah tiap kelas hanya diisi oleh 16 pelajar. Bila menggunakan laboratorium komputer maka disesuaikan dengan kapasitas. Dengan tetap memperhatikan jarak antar peserta ujian agar tidak melanggar protokol kesehatan.
Bentuk ujian bisa berupa tes tulis maupun ujian berbasis komputer atau android. Meskipun demikian metode ini tidak saklek. Bila ada peserta ujian yang sakit atau ada keberatan dari orangtuanya. Maka proses ujian dapat dilakukan di rumah sakit atau ruang khusus tersendiri di sekolah. Tak hanya itu peserta ujian juga diwajibkan membawa perlengkapan alat tulis sendiri, membawa bekal masing-masing, menggunakan masker, mencuci tangan sebelum dan sesudah memasuki ruang ujian, menjaga jarak, serta tidak bergerombol selama pelaksanaan ujian.
Aturan juga dibuat untuk pengawas ujian. Tiap ruangan hanya diisi satu pengawas. Guru pengawas juga diprioritaskan mereka yang telah mendapatkan vaksin. Jika tidak ada, maka posisi pengawas dapat ditugaskan kepada guru lainnya.
Selain itu, selama proses ujian pengawas diharapkan tidak melakukan kontak fisik secara langsung dengan peserta. Maupun mengelilingi ruangan kecuali saat membagikan naskah soal ujian. Pengumpulan lembar jawaban nantinya diambil oleh pengawas.
“Setelah seluruh peserta meninggalkan ruangan,” ucapnya.
Berkenaan naskah soal jenjang SD dibuat oleh tim kelompok kerja guru (KKG). Melalui koordinasi dengan Kelompok Kerja Kepala Sekolah (K3S). Adapun tingkat SMP soal dibuat tim musyawarah guru mata pelajaran (MGMP) dikoordinasi melalui Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MMKS).
“Jika nantinya tidak ada lonjakan kasus Covid-19, maka metode ini akan diterapkan pada pelaksanaan ujian akhir semester,” pungkasnya. (*/ak)







