SANGATTA- Salah satu usaha dan kunci sukses untuk meningkatkan pendidikan anak ialah dengan menambah anggaran sebesar 30 persen.
Dana pendidikan yang saat ini hanya 20 persen, dianggap belum memberikan dampak positif bagi perbaikan dan kemajuan anak bangsa saat ini, terlebih akan datang.
Dana tersebut masih terbilang minim. Cukup kecil untuk merubah tatanan pendidikan yang berkualitas. Bahkan masih jauh dari kata laik.
Buktinya, masih banyak daerah yang memiliki infrastruktur buruk seperti gedung dan jalan, fasilitas penunjang sekolah, fasilitas anak seperti pakaian, tas, dan sepatu serta tak kalah penting banyak yang putus pendidikan dan tak sekolah sama sekali.
Belum lagi masalah pendidikan dan kesejahteraan guru. Masih banyak guru yang belum bersertifikasi bahkan berstatus honorer. Seharusnya mereka semua menjadi perhatian khusus. Pemerintah wajib mensejahterakan para guru.
Berikan mereka pendidikan yang baik. Sehingga apa yang disampaikan kepada murid lebih bersungguh-sungguh dan berkualitas. Tidak hanya mengajar akan tetapi mendidik sepenuh hati.
“Untuk mewujudkan hal itu maka diperlukan pendidikan lebih dan terarah. Naikkan dana pendidikan yang semula 20 persen ditambah menjadi 25-30 persen,” ujar Wakil Ketua MPR-RI Mahyudin.
Dirinya yakin, dengan bertambahnya anggaran akan merubah dunia pendidikan berkualitas. Kenapa hal ini digaungkan, karena semua bermula dari pendidikan.
Pendidikan yang baik akan menciptakan peradaban yang sempurna.
“Jika kita mengacu negara lain, mereka mengutamakan pendidikan anak bangsa. Jika pendidikan mereka baik maka baik pula bangsa yang akan datang. Begitupun sebaliknya,” kata pria asal Kutim itu.
Namun sayang, mantan Bupati Kutim itu mengaku jika pemerintah saat ini (Joko widodo) lebih fokus pada infrastruktur.
“Infrastruktur baik, akan tetapi lebih baik pembenahan pendidikan. Sehingga kita tidak tertinggal terus. Jika mau maju ya kuncinya pendidikan. Jika sudah stabil pendidikan kita baru anggaran dikembalikan seperti semua,” katanya. (dy)







