• Indeks Berita
  • Redaksi
  • Mitra
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber
  • Pedoman Pemberitaan Ramah Anak
  • Kontak
Bontang Post
  • Home
  • Bontang
  • Kaltim
  • Nasional
  • Advertorial
    • Advertorial
    • Pemkot Bontang
    • DPRD Bontang
  • Ragam
    • Infografis
    • Internasional
    • Olahraga
    • Feature
    • Resep
    • Lensa
  • LIVE
No Result
View All Result
  • Home
  • Bontang
  • Kaltim
  • Nasional
  • Advertorial
    • Advertorial
    • Pemkot Bontang
    • DPRD Bontang
  • Ragam
    • Infografis
    • Internasional
    • Olahraga
    • Feature
    • Resep
    • Lensa
  • LIVE
No Result
View All Result
Bontang Post
No Result
View All Result
Home Catatan Dahlan Iskan

Wardah yang ITB dan ITB

by BontangPost
20 November 2018, 06:00
in Dahlan Iskan
Reading Time: 2 mins read
0
Dahlan Iskan

Dahlan Iskan

Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Dahlan Iskan

 

“Saya ini hanya menanam akarnya,” ujar Bu Nurhayati, pemilik kosmetik Wardah. “Anak-anak kami yang membesarkannya,” tambahnya.

 

Bu Nurhayati punya tiga anak. Yang dua, laki-laki. Mengikuti jejaknya: kuliah di ITB. Hanya beda-beda jurusan. Sang ibu kuliah di farmasi. Anak pertama ambil kimia. Anak kedua belajar elektro.

 

Putrinya yang memilih UI: masuk fakultas kedokteran. Pilih menjadi spesialis kulit.

 

Suami Bu Nurhayati sendiri  juga lulusan ITB. Kimia. Di ITB lah cinta bersemi. “Kampus kimia dan farmasi kan berdekatan,” katanya dengan tersenyum.

Nurhayati lulus ITB dengan nilai tertinggi: cum laude. Lalu kuliah apoteker.

 

Keinginan awal Nurhayati  menjadi dosen. Dia melamar ke ITB. Ditolak. Nurhayati pulang ke Padang. Membawa pertanyaan tak terjawab: mengapa ditolak jadi dosen.

Di Padang Nurhayati bekerja di rumah sakit.

Pacaran berlanjut. Jarak jauh. Pacarnya bekerja di perusahaan minyak.

Baca Juga:  Mencari Uang, tapi Tidak Mengurusi Keuangan

 

Setelah menikah Nurhayati ikut suami: pindah ke Jakarta. Bekerja di Wella. Merk kosmetik yang terkenal kala itu. Yang pasar terbesarnya di salon-salon kecantikan. Belum ada mall di zaman itu.

 

Lima tahun Nurhayati bekerja di Wella. Di bagian laboratorium. Yang memeriksa ramuan-ramuan kosmetik Wella.

 

Ketika akhirnya punya anak Nurhayati berhenti bekerja. Merawat anak. Lahir pula anak kedua. Dan ketiga.

Ketika anak bungsu tidak menyusu lagi Nurhayati mulai berpikir punya usaha.

 

Yang terpikir pertama langsung kosmetik. Sesuai dengan pendidikannya. Sesuai dengan pengalaman kerjanya.

Kosmetik pertamanya itu dia beri merk Putri.

 

Tidak laku.

 

Tidak ada salon yang mau menerimanya.

 

Tetangganya menyarankan ini: kerjasama samalah dengan pesantren. Kebetulan tetangga itu keluarga pesantren Hidayatullah. Yang punya jejaring pesantren di mana-mana.

 

Kebetulan juga Hidayatullah punya devisi ekonomi. Berbisnis di banyak bidang. Termasuk ritel.

Baca Juga:  DNA, Antara Penting vs Menarik

 

Tim ekonomi Hidayatullahlah yang minta merk Putri diubah. Menjadi Wardah. Artinya: mawar. Disertai tulisan Arab yang berbunyi Wardah. Di logonya.

 

Mulailah Wardah dipasarkan di pesantren-pesantren.

 

Tidak laku.

 

“Santri kan tidak pakai kosmetik,” ujar Bu Nurhayati mengenang. “Waktu itu”.

 

Lalu terjadilah reformasi. Tahun 1998. Rupiah anjlok.

Kosmetik impor mahal sekali. Banyak sekali PHK. Korbannya orang-orang yang sudah biasa bekerja. Pada pereode PHK itulah mereka kerja apa saja. Banyak yang terjun ke multi level marketing.

 

Bu Nurhayati memanfaatkan peluang itu. Wardah dimultikan. Mulailah Wardah mendapat celah.

Produksi pun meningkat.

 

Rumahnya tidak cukup lagi. Dia beli tanah 1,5 ha. Murah. Di pinggiran Tangerang. Dengan dana sendiri.

Akan dibangunnya pabrik di situ. Pelan-pelan. Dengan dana sendiri.

 

Kebakaran.

 

Rumahnya terbakar.

 

Pabrik belum jadi.

 

Produksi terhenti.

 

Pasar yang mulai terbentuk terancam: tidak ada lagi suplai.

Baca Juga:  Jalan Ikhlas untuk Pejuang Panjang

 

Politik berbalik arah. Setelah reformasi itu.

Tuntutan keadilan kian nyaring. Pasca reformasi. Termasuk keadilan ekonomi.

 

Bank mulai menyalurkan kredit untuk usaha kecil. Nurhayati mencobanya. Minta Rp 50 juta. Bank memeriksa kemampuan Wardah. Termasuk menghitung masa depannya. Menilai jaminannya: lebih dari cukup. Bank memberinya kredit Rp 140 juta.

 

Pabrik pun jadi.

 

Sederhana.

 

Anaknya lulus ITB.

 

Mau membantu ibunya.

 

Anak kedua juga lulus ITB.

 

Juga mau ikut di perusahaan.

 

Nurhayati membagi tugas:

 

Anak pertama mengembangkan pasar di wilayah barat Indonesia.

 

Anak kedua di wilayah timur.

 

Urusan produksi cukup ibunya. Menyangkut resep yang belum waktunya dibagi.

Ada pelajaran menarik yang diceritakan Bu Nurhayati. Tentang pembagian tugas anaknya itu. Satu pelajaran manajemen yang mahal nilainya.

 

Tunggulah besok. (dahlan iskan / bersambung)

Tags: dahlan iskan
Share4TweetSendShare

Bergabung dengan WhatsApp Grup Bontang Post untuk mendapatkan informasi terbaru: Klik di Sini. Simak berita menarik bontangpost.id lainnya di Google News.

Ikuti berita-berita terkini dari bontangpost.id dengan mengetuk suka di halaman Facebook kami berikut ini:


Previous Post

Peran Serta Dunia Usaha/Industri dalam Peningkatan Kompetensi Siswa SMK

Next Post

Gelar Donor Darah Hingga Bakti Sosial 

Related Posts

Menang Nirkuasa
Dahlan Iskan

Menang Nirkuasa

10 Mei 2019, 06:17
Bagaimana Menjaring Orang Mampu
Dahlan Iskan

Dokter Cerai

9 Mei 2019, 06:00
Kursi Roda
Dahlan Iskan

Kursi Roda

7 Mei 2019, 06:43
37 Derajat
Dahlan Iskan

37 Derajat

6 Mei 2019, 05:57
Orang Suci
Dahlan Iskan

Orang Suci

5 Mei 2019, 12:01
Jantung Bocor
Dahlan Iskan

Jantung Bocor

4 Mei 2019, 13:05

Terpopuler

  • 25 Atlet Bontang Dicoret dari Porprov Kaltim 2026, Terbukti Cabutan dari Luar Daerah

    25 Atlet Bontang Dicoret dari Porprov Kaltim 2026, Terbukti Cabutan dari Luar Daerah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Wanita di Loktuan Bontang Diringkus Polisi, Sabu Ditemukan di Pinggir Jalan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sudah Puluhan Tahun Berdiri, Perusahaan Daerah Bontang Belum Bisa Kelola Solar Nelayan Sendiri

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seng Penutup Jalan Gotong Royong Dibongkar Paksa, Wali Kota Neni; Fasilitas Publik Tidak Boleh Ditutup

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Empat Hari Diburu, Maling Motor Petani Marangkayu Ditangkap di Tanjung Laut Indah Bontang

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Kategori

Arsip

  • Indeks Berita
  • Redaksi
  • Mitra
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber
  • Pedoman Pemberitaan Ramah Anak
  • Kontak

© 2020 Bontangpost.id - Developed by Vision Web Development.

No Result
View All Result
  • Home
  • Bontang
  • Kaltim
  • Nasional
  • Advertorial
    • Advertorial
    • Pemkot Bontang
    • DPRD Bontang
  • Ragam
    • Infografis
    • Internasional
    • Olahraga
    • Feature
    • Resep
    • Lensa
  • LIVE

© 2020 Bontangpost.id - Developed by Vision Web Development.