• Indeks Berita
  • Redaksi
  • Mitra
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber
  • Pedoman Pemberitaan Ramah Anak
  • Kontak
Bontang Post
  • Home
  • Bontang
  • Kaltim
  • Nasional
  • Advertorial
    • Advertorial
    • Pemkot Bontang
    • DPRD Bontang
  • Ragam
    • Infografis
    • Internasional
    • Olahraga
    • Feature
    • Resep
    • Lensa
  • LIVE
No Result
View All Result
  • Home
  • Bontang
  • Kaltim
  • Nasional
  • Advertorial
    • Advertorial
    • Pemkot Bontang
    • DPRD Bontang
  • Ragam
    • Infografis
    • Internasional
    • Olahraga
    • Feature
    • Resep
    • Lensa
  • LIVE
No Result
View All Result
Bontang Post
No Result
View All Result
Home Catatan Dahlan Iskan

Zohri Semoga Sebentar Lagi

by BontangPost
15 Juli 2018, 09:15
in Dahlan Iskan
Reading Time: 3 mins read
0
DAHLAN ISKAN

DAHLAN ISKAN

Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Dahlan Iskan

Rekor nasional: 10,17 detik.

Moh Zohri: 10.18 detik.

Berarti Zohri perlu lebih cepat 0,1 detik lagi. Untuk bisa menyamai kecepatan Suryo Agung Wibowo. Pemegang rekor nasional asal Solo itu.

Tapi Zohri sudah sangat hebat. Juara dunia lari 100 meter. Di Tampere, Finlandia. Tanggal 11 Juli barusan. Untuk kategori umur di bawah 20 tahun.

Video Zohri pun viral. Dengan cepat. Ke seluruh negeri. Anak miskin dari Lombok, NTB, ini top. Berhasil mencuri perhatian. Di tengah heboh piala dunia sepakbola.

”Saya mencapai rekor 10,17 saat umur saya 26 tahun,” ujar Suryo Agung Wibowo kepada Suhendrik yang saya tugasi untuk disway.

Suhendrik adalah wartawan olahraga Bandung Ekspres. Yang kenal Suryo. Saat Suryo sudah pindah jalur: dari lari ke sepakbola. Bermain sebagai penyerang untuk klub Persikab Bandung. Tahun 2014.

Suryo kini berumur 34 tahun. Tempat tinggal: Bintaro, Jakarta. Anak: dua orang. Pekerjaan: staf di Kemenpora.

”Sebelum Zohri berangkat ke Finlandia saya sempat bertemu. Saya banyak bicara dengan ia,” kata Suryo.

Nasehat utama yang diberikan Suryo ke Zohri: konsentrasi pada diri sendiri. Jangan pedulikan sekitar. Jangan pedulikan pelari lain. Jangan pedulikan omongan orang.

Pelari itu ternyata seperti pembalap: lebih banyak berlomba dengan diri sendiri.

Rekor nasional Suryo itu  belum ada yang memecahkan. Sampai sekarang. Padahal Suryo mencapai 10,17 detik itu di tahun 2009. Hampir sepuluh tahun. Baru anak Lombok ini yang berhasil mendekatinya.  ”Saya yakin Zohri akan mengalahkan saya. Dalam waktu dekat,” kata Suryo.

Baca Juga:  Tiga Hotel Tiga Malam

Zohri kini baru berumur 18 tahun. Tapi tinggi badannya sudah menyamai Suryo: 170 cm. Tentu Zohri masih bisa tumbuh. Bisa 172-175 di puncak pertumbuhannya nanti.

”Dengan tungkai yang lebih panjang Zohri akan mencapai jarak lebih jauh dari langkah saya,” ujar Suryo. Tinggal tehnik larinya. Dan latihannya. Dan gizinya. Dan mental juaranya.

Itulah sebabnya Pemda NTB memberikan tempat tinggal. Di asrama atlet di Mataram. Agar bisa terus latihan lari yang benar.

Zohri sudah jarang pulang ke desanya. Yang miskin itu. Ibu-bapaknya sudah meninggal. Di rumah tidak ada orang lagi. Dua kakaknya sudah berkeluarga. Sudah punya rumah masing-masing.

Kedua kakaknya itu juga sudah bekerja: di pulau Gili Trawangan. Di daerah wisata terkenal itu. Di seberang pantai Senggigi.

Dari hasil kerjanya itu kedua kakak Zohri punya kehidupan lebih baik. Bisa membangun rumah masing-masing. Persis di sebelah rumah orang tua mereka.

Tinggal Zohri yang mewarisi rumah itu: sebuah rumah yang dindingnya anyaman bambu. Bolong-bolong. Nyaris reot. Di rumah itulah Zohri lahir, tumbuh dan menjadi remaja.

Baca Juga:  Bahasa Tubuh

Danrem Lombok sudah meninjau rumah itu. Sudah akan merehabnya. Dan, kalau Zohri setuju, boleh masuk TNI. Tanpa tes. Serta tetap bisa terus jadi atlet lari.

Suharli, wartawan olahraga Lombok Pos yang saya minta mewawancarai beberapa pihak di NTB sudah dua kali ke rumah Zohri. Arahnya: kita ke Senggigi dulu. Terus ke utara. Sekitar 40 menit. Dengan sepeda motor. Ketemulah desa Pemenang.

Di desa itulah Zohri sekolah. Ternyata selama di SD belum kelihatan bakat lari Zohri. Ia tidak suka atletik.

Tamat SD Zohri masuk SMP. Di desa yang sama. Sampai kelas dua pun  belum tampak: minatnya pada atletik.

Baru di kelas 3, Bu Rosida, guru olahraga di SMPN 1 Pemenang ‘menemukannya’. Alumni IKIP Mataram ini kadang sabar. Kadang juga keras. Dalam menghadapi Zohri.

Awalnya, kata Bu Rosida, Zohri itu menjengkelkan. Ia tidak mau ikut pelajaran olahraga: karena pakai aturan-aturan. Sesuai dengan proses di kurikulum olahraga.

Maunya Zohri: langsung saja ke olahraganya. Dan itu berarti sepakbola. Ia memang seperti Suryo. Suka sekali sepakbola.

Tapi, sebagai siswa, Zohri harus ikut dasar-dasar olahraga ini: trilomba. Tolak peluru, lempar cakram/lembing dan lari 100 meter.

Saat itulah Bu Rosida tahu: untuk lari Zohrilah juaranya.

Baca Juga:  Rumah Terakhir Maria

Maka ketika ada kejuaraan kabupaten bu Rosida tidak perlu lagi melakukan seleksi. Langsung tunjuk Zohri.

Sejak itulah bu Rosida jadi pembina Zohri. Sampai tamat SMP. Menjuarai kejuaraan daerah lari 100 meter. Tanpa sepatu. Kaki telanjang. Nyeker.

Setelah jadi juara daerah itulah Zohri diminta pindah: ke ibukota NTB. Untuk sekolah di SMAN II Mataram: tinggal di asrama atlet.

Di SMA inilah Zohri sangat menonjol. Sudah menyadari bahwa dia calon bintang.

Ia juga diminta membiasakan diri pakai sepatu. Tapi saat lomba pertama Zohri kalah: karena pakai sepatu. Lalu ia copot sepatunya. Untuk penampilan berikutnya: juara.

Saat umur 16 tahun tingginya 167 cm. Catatan waktunya: 11,12 detik (Kejurda).

Umur 17 tahun, tingginya 169. Catatan waktunya: 10,27 (di Popnas).

Umur 17 tahun, tinggi 169, catatan waktu sama: 10,27 (di kejuaraan Asia junior di Jepang).

Umur 18, tinggi 170, catatan waktunya: 10,18 detik. (Di Finlandia kemarin itu).

 

Besok Zohri kembali dari Tampere. Kota yang indah 160 km di utara Helsinki. Dengan pedali emas internasional di lehernya.

Ia juga memasuki tahun pelajaran baru: naik ke kelas tiga SMA.

Kita monitor terus: kapan Zohri bisa mengalahkan rekor Suryo Agung Wibowo. Yang tinggal 0,2  detik lagi.

Tahun depan?

Tahun depannya lagi?(dis)

Print Friendly, PDF & Email
Tags: dahlan iskan
ShareTweetSendShare

Bergabung dengan WhatsApp Grup Bontang Post untuk mendapatkan informasi terbaru: Klik di Sini. Simak berita menarik bontangpost.id lainnya di Google News.

Ikuti berita-berita terkini dari bontangpost.id dengan mengetuk suka di halaman Facebook kami berikut ini:


Previous Post

Warga Tanjung Limau Ditemukan Gantung Diri

Next Post

PU Diminta Tingkatkan Jalan di Long Mesangat 

Related Posts

Menang Nirkuasa
Dahlan Iskan

Menang Nirkuasa

10 Mei 2019, 06:17
Bagaimana Menjaring Orang Mampu
Dahlan Iskan

Dokter Cerai

9 Mei 2019, 06:00
Kursi Roda
Dahlan Iskan

Kursi Roda

7 Mei 2019, 06:43
37 Derajat
Dahlan Iskan

37 Derajat

6 Mei 2019, 05:57
Orang Suci
Dahlan Iskan

Orang Suci

5 Mei 2019, 12:01
Jantung Bocor
Dahlan Iskan

Jantung Bocor

4 Mei 2019, 13:05

Terpopuler

  • Didominasi Perempuan, Wali Kota Bontang Lantik Camat dan 10 Lurah Baru

    Didominasi Perempuan, Wali Kota Bontang Lantik Camat dan 10 Lurah Baru

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Investasi Bodong Rugikan Rp18 Miliar, Istri Anggota DPRD Bontang Ikut Jadi Korban

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Penjual Air Kesehatan Sebar Hoax

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Demo 21 April, DPRD Kaltim Sepakati Tuntutan Mahasiswa

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Puluhan Warga Tagih Uang di Toko Emas Berebas Tengah Bontang, Dugaan Investasi Bodong Mencuat

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Kategori

Arsip

  • Indeks Berita
  • Redaksi
  • Mitra
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber
  • Pedoman Pemberitaan Ramah Anak
  • Kontak

© 2020 Bontangpost.id - Developed by Vision Web Development.

No Result
View All Result
  • Home
  • Bontang
  • Kaltim
  • Nasional
  • Advertorial
    • Advertorial
    • Pemkot Bontang
    • DPRD Bontang
  • Ragam
    • Infografis
    • Internasional
    • Olahraga
    • Feature
    • Resep
    • Lensa
  • LIVE

© 2020 Bontangpost.id - Developed by Vision Web Development.