SANGATTA – Musim kemarau dan kekeringan diperkirakan akan melanda Kabupaten Kutai Timur pada pertengahan tahun 2018. Yang berpotensi menimbulkan titik api. Hal tersebut menjadi perhatian khusus bagi Dandim 0909/SGT, Kamil Bahren Pasha.
Menurutnya sejumlah kecamatan di Kutim sangat rentan mengalami kebakaran hutan. Sehingga dirinya sejak jauh hari menyiapkan diri agar siap. melakukan penanganan jika hal tersebut terjadi kembali.
“Banyak sekali titik rawan api di sini. Contoh saja Muara Wahau, Muara Bengkal, dan Sangatta Utara, beberapa waktu lalu sempat memanas, menimbulkan api yang besar. Di sana ada sebanyak 16 titik, tapi syukur saja bisa cepat dipadamkan,” terangnya saat ditemui belum lama ini.
Tidak hanya itu, dirinya mengatakan kebakaran lahan kerap kali terjadi. Termasuk daerah yang sebelumnya sempat dipadamkan, sangat berpotensi kembali bereaksi. “Beberapa hari lalu ada lagi di Muara Wahau, padahal di kecamatan itu sudah sempat kami padamkan sebelumnya. Kami tidak ingin api itu menyebar, jadi segera dihentikan dengan cepat,” paparnya.
Membuka lahan dapat menjadi salah satu pemicu mudahnya penyebaran api. Menurut Kamil, hal seperti ini cukup berakibat fatal. Pasalnya Indonesia telah dicap menjadi wilayah pengirim asap terbesar ke negara tetangga.
“Pekan lalu titik api yang timbul bukan hanya karena faktor alam, tetapi juga karena ulah manusia. Terutama perluasan lahan, masyarakat yang awalnya ingin membakar lahan hanya satu hektar. Tetapi ternyata menyebar, kemudian meluas menjadi empat hektar karena tidak dipantau, sehingga menyebabkan kebakaran hutan besar. Kami berupaya mencegah, jangan sampai kita terus diberi gelar negara yang merugikan negara terdekat,” ujarnya.
Dirinya mengimbau pada masyarakat agar saat membakar lahan harus dijaga. Selain itu untuk saling mengingatkan supaya mampu menjaga lingkungan. Baginya hal seperti ini merupakan tanggungjawab bersama bagi seluruh elemen. “Membuka lahan tidak dilaran, hanya saja harus terus diawasi agar tidak meluas,” tandasnya. (*/la)







