bontangpost.id – Prevalensi stunting di Bontang diklaim mencapai 18 persen. Hal itu berdasarkan hasil operasi timbang serentak yang dilaksanakan Juni lalu.
Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Keluarga Berencana (DPK3AKB) Edy Forestwanto mengungkapkan, ada sekitar 6.459 data yang telah diinput, dari 11 ribu data sasaran di e-PPBGM.
“Cakupannya sekitar 56,48 persen. Proses penginputan masih terus berjalan,” ungkap dia.
Menurutnya, data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 yang menunjukkan angka stunting sebesar 27,4 persen, hanya mewakili sekitar 3 persen dari total keseluruhan balita di Bontang. Mengingat sampel diambil secara acak, pun tidak diketahui berapa jumlah balita yang turut dalam pendataan.
Lebih lanjut, pihaknya bersama stakeholder terkait masih mengupayakan percepatan penurunan stunting.
“Prevalensinya masih berpotensi turun, kami harap akhir tahun nanti angkanya (stunting) lebih rendah lagi,” sambungnya.
Sementara Wakil Wali Kota Bontang sekaligus Ketua Tim Percepatan Penurunan Stunting Najirah menyebut, data balita stunting yang kini dikantongi bakal memperoleh intervensi.
“Masih ada waktu lima bulan lagi untuk mengejar (penurunan stunting). Saya minta semua pihak agar turut serta dalam membantu penanganannya,” sebutnya.
Pihaknya pun membuka kesempatan untuk menjadi bapak asuh bagi balita terindikasi stunting. Di samping pemberian makanan selama tiga bulan dengan menggandeng perusahaan juga sedang berjalan. (*)







