• Indeks Berita
  • Redaksi
  • Mitra
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber
  • Pedoman Pemberitaan Ramah Anak
  • Kontak
Bontang Post
  • Home
  • Bontang
  • Kaltim
  • Nasional
  • Advertorial
    • Advertorial
    • Pemkot Bontang
    • DPRD Bontang
  • Ragam
    • Infografis
    • Internasional
    • Olahraga
    • Feature
    • Resep
    • Lensa
  • LIVE
No Result
View All Result
  • Home
  • Bontang
  • Kaltim
  • Nasional
  • Advertorial
    • Advertorial
    • Pemkot Bontang
    • DPRD Bontang
  • Ragam
    • Infografis
    • Internasional
    • Olahraga
    • Feature
    • Resep
    • Lensa
  • LIVE
No Result
View All Result
Bontang Post
No Result
View All Result
Home Kaltim

Habitat Orangutan di Kutai Timur Terancam, Fragmentasi Akibat Pertambangan Meningkat

by Redaksi Bontang Post
1 Maret 2025, 18:10
in Kaltim
Reading Time: 2 mins read
0
Tim gabungan dari KLHK, Centre for Orangutan Protection, serta PT Kaltim Prima Coal saat penyelamatan orangutan yang sebelumnya tersesat di areal pertambangan. (IST/KP)

Tim gabungan dari KLHK, Centre for Orangutan Protection, serta PT Kaltim Prima Coal saat penyelamatan orangutan yang sebelumnya tersesat di areal pertambangan. (IST/KP)

Share on FacebookShare on Twitter

BONTANGPOST.ID, Kutim – Populasi orangutan di Kutai Timur semakin terancam seiring dengan masifnya aktivitas pertambangan yang menyebabkan hilangnya habitat alami.

Perubahan habitat secara signifikan terjadi di wilayah konsesi PT Kaltim Prima Coal (KPC) dalam kurun waktu 2022 hingga 2024, terutama di area pembukaan lahan ke arah utara.

Fragmentasi habitat membuat ruang jelajah orangutan semakin terbatas, sehingga satwa dilindungi ini terpaksa berpindah ke wilayah baru, termasuk kawasan reklamasi.

Kondisi ini turut meningkatkan interaksi antara orangutan dan masyarakat sekitar, yang berpotensi menimbulkan konflik satwa dengan manusia.

Untuk meminimalisasi dampak dari perubahan habitat, Wawan Setiawan, General Manager External Affairs and Sustainable Development (GM ESD), didampingi Kiagus Nirwan, Manager Environment KPC,  mengklaim bahwa KPC telah menerapkan berbagai strategi mitigasi.

Baca Juga:  Orang Utan di Areal Kilang

Salah satunya adalah penyediaan pakan tambahan di area reklamasi. Tanaman seperti tebu ditanam sebagai sumber makanan alternatif, meskipun ketersediaannya harus terus diperbarui karena cepat habis dikonsumsi satwa.

 

“Perusahaan itu membuat beberapa mitigasi program. Salah satunya adalah dengan memperkaya tanaman tebu di area reklamasi di dekat sana. Tujuannya bukan untuk tebu itu tumbuh dan besar. Jadi untuk menambah saja pakannya mereka” ujarnya.

Selain itu, perusahaan menetapkan enam kawasan bernilai konservasi tinggi (High Conservation Value/HCV) seluas 2.040 hektare sebagai habitat alternatif. Wilayah ini diharapkan mampu menampung satwa liar agar tidak terdorong masuk ke area permukiman.

Proses reklamasi juga menjadi bagian dari komitmen perusahaan, dengan sekitar 15.000 hektare lahan atau 40,94% dari total lahan terbuka telah direklamasi hingga Januari 2025. Jenis tanaman yang digunakan terdiri dari 40% tanaman cepat tumbuh, 40% tanaman lokal, dan 20% tanaman pakan satwa seperti jambu-jambuan, nangka dan sengon.

Baca Juga:  Penyelamatan Orangutan di Kutim Jadi Cermin Kondisi Krisis Lingkungan, FRK: Narasi Konservasi Bisa Jadi Greenwashing

Pemantauan keanekaragaman hayati dilakukan secara rutin sejak 2011 bekerja sama dengan Ecositrop, Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian Kutai Timur, Universitas Mulawarman, Institut Pertanian Bogor, dan lembaga konservasi lainnya. Metode pemantauan melibatkan survei lapangan, penggunaan drone, serta pemasangan camera trap untuk mendeteksi keberadaan satwa.

“Kami menyampaikan bahwa KPC itu melakukan yang namanya kegiatan monitoring dan evaluasi (monev). Kegiatan monev itu khusus untuk keberagaman satwa itu kita lakukan sejak tahun 2011 sampai dengan 2024 menggandeng banyak pihak. Mulai dari Ecositrop, kemudian Stiper, Unmul, pernah IPB hadir untuk kita hire untuk melihat potensi keanekaragaman hayati” ungkapnya.

KPC juga menyusun Standar Operasional Prosedur (SOP) penyelamatan satwa sebagai panduan pelaporan dan penanganan jika ditemukan satwa yang berpotensi mengalami konflik atau perubahan perilaku. Jika diperlukan, koordinasi dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) dilakukan untuk proses rehabilitasi atau translokasi satwa.

Baca Juga:  Gawat, Orangutan Di Hutan Lindung Sungai Lesan Hampir Punah

Upaya mitigasi ini menjadi langkah penting dalam menjaga kelestarian orangutan di tengah ancaman aktivitas pertambangan yang terus berlangsung. Namun, keberhasilan konservasi membutuhkan sinergi antara perusahaan, masyarakat, dan pemerintah untuk melindungi habitat satwa liar di Kutai Timur. (*)

 

Tags: orangutan
ShareTweetSendShare

Bergabung dengan WhatsApp Grup Bontang Post untuk mendapatkan informasi terbaru: Klik di Sini. Simak berita menarik bontangpost.id lainnya di Google News.

Ikuti berita-berita terkini dari bontangpost.id dengan mengetuk suka di halaman Facebook kami berikut ini:


Previous Post

Puluhan Personel Keamanan Disiagakan, Kawal Arak-Arakan Penyambutan Kepala Daerah Bontang

Next Post

Pengedar Asal Muara Badak Diringkus, 7,24 Gram Sabu Disita Polisi

Related Posts

Orangutan dengan Anak Kembar di Kutim Diselamatkan dari Habitat Rusak
Nasional

Orangutan dengan Anak Kembar di Kutim Diselamatkan dari Habitat Rusak

5 Maret 2026, 14:22
Viral Orangutan Makan Sampah di Bengalon, BKSDA Kaltim Selamatkan dan Lepasliarkan ke Hutan Mesangat
Kaltim

Viral Orangutan Makan Sampah di Bengalon, BKSDA Kaltim Selamatkan dan Lepasliarkan ke Hutan Mesangat

4 Februari 2026, 15:17
Orang Utan di Areal Kilang
Bontang

Orang Utan di Areal Kilang

1 November 2025, 00:49
80 Persen Orangutan Tinggal di Luar Area Konservasi
Nasional

Ekspansi Tambang dan Perkebunan, Nasib Orang Utan Kian Mengkhawatirkan

24 April 2025, 15:12
Penyelamatan Orangutan di Kutim Jadi Cermin Kondisi Krisis Lingkungan, FRK: Narasi Konservasi Bisa Jadi Greenwashing
Kaltim

Penyelamatan Orangutan di Kutim Jadi Cermin Kondisi Krisis Lingkungan, FRK: Narasi Konservasi Bisa Jadi Greenwashing

23 Februari 2025, 15:09
Viral Orangutan Menyeberang Jalan, BKSDA; Jangan Beri Makan
Kaltim

Viral Orangutan Menyeberang Jalan, BKSDA; Jangan Beri Makan

2 Februari 2022, 11:58

Terpopuler

  • 25 Atlet Bontang Dicoret dari Porprov Kaltim 2026, Terbukti Cabutan dari Luar Daerah

    25 Atlet Bontang Dicoret dari Porprov Kaltim 2026, Terbukti Cabutan dari Luar Daerah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bontang Berharap Masuk Daftar Penerima Tambahan Dana Rp20,5 Triliun dari Pusat

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seng Penutup Jalan Gotong Royong Dibongkar Paksa, Wali Kota Neni; Fasilitas Publik Tidak Boleh Ditutup

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Empat Hari Diburu, Maling Motor Petani Marangkayu Ditangkap di Tanjung Laut Indah Bontang

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sudah Puluhan Tahun Berdiri, Perusahaan Daerah Bontang Belum Bisa Kelola Solar Nelayan Sendiri

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Kategori

Arsip

  • Indeks Berita
  • Redaksi
  • Mitra
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber
  • Pedoman Pemberitaan Ramah Anak
  • Kontak

© 2020 Bontangpost.id - Developed by Vision Web Development.

No Result
View All Result
  • Home
  • Bontang
  • Kaltim
  • Nasional
  • Advertorial
    • Advertorial
    • Pemkot Bontang
    • DPRD Bontang
  • Ragam
    • Infografis
    • Internasional
    • Olahraga
    • Feature
    • Resep
    • Lensa
  • LIVE

© 2020 Bontangpost.id - Developed by Vision Web Development.