Subhan Albanjari, S.Ag, M.Pd
Ketua Majelis Tabligh PD Muhammadiyah Kutim
SERING kita mendengar orang mengatakan bahwa kesempatan menghampiri kita hanya sekali, takkan kita jumpai lagi hal yang sama pada waktu lain.
Pendekatan ini mungkin benar bila kita memakai logika alam dunia yang sangat dipengaruhi oleh kebendaan dan nafsu manusia yang sangat serakah. Orang yang demikian, akan menganggap dia berhak akan kesempatan itu sehingga cenderung mendorong ke sikap aji mumpung.
Misal, mumpung dia menduduki jabatan atau memegang kekuasaan, dia habiskan sisa hidupnya untuk mengumbar hawa nafsu kebinatangannya, bahkan tidak jarang menjadikan nafsunya sebagai Tuhannya. Hal ini persis sebagaimana yang Al Quran gambarkan :
“ Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya dan Allah membiarkannya berdasarkan ilmu Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya?. Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran? “. ( Q.S. Al Jaatsiyah 23 )”
Potret manusia yang digambarkan oleh Al Quran di atas adalah lantaran ada di antara manusia yang keasyikannya dalam mengejar dunia yang mempesona, sehingga lepas control tanpa memperhatikan kaidah agama, sehingga tanpa disadari pada mengikuti hawa nafsunya, ini bisa berakibat jauh dari petunjuk Allah.
Agar kesesatan manusia tidak terlampau jauh akibat mengumbar hawa nafsunya, maka setiap kita perlu mengambil kesempatan yang diberikan Allah. Filosofi yang mengatakan “kesempatan yang datang kepada kita itu hanya satu kali” , cara pandangnya harus kita rubah.
Bagi saya pribadi kesempatan itu bisa datang berkali-kali, banyak kali, karena memang Allah selalu menyediakan kesempatan bagi kita umat manusia. Kesempatan tidak pernah dibatasi oleh Allah kepada makhluknya. Seluruh makhluk di muka bumi ini diberikan kesempatan yang sama oleh Allah untuk memiliki keberhasilan.
Salah satu kesempatan dimaksud adalah ketika kita berada di bulan Ramadan. melalui hikmah dan momentum Ramadhan, kesadaran tersebut bisa ditransformasikan ke dalam sikap dan perilaku yang serba baik.
Kesadaran akan kekurangan, kealpaan dan kesalahan masa lampau harus melahirkan kesadaran untuk perbaikan dan penyempurnaan di masa kini dan masa depan. Apalagi, di bulan Ramadhan yang penuh dengan rahmat, maghfirah dan janji kebahagiaan dan kesejahteraan, seharusnya menjadi landasan dan momentum menuju perubahan melalui aktualisasi berbagai amalan Ramadhan.
Dapat diambil contoh dalam bidang sosial-ekonomi, ibadah puasa harus menjadikan setiap pelakunya mampu melihat dan tergerak untuk mengentaskan kemiskinan. Sebab, tanpa ada kesadaran seperti itu, maka ibadah puasa selama satu bulan penuh tersebut hanya menjadi kesalehan individual semata, tanpa munculnya kesalehan yang lebih kolektif atau kesalehan sosial.
Kemudian di bidang politik, pelaksanaan puasa harus dapat menelurkan pribadi-pribadi muslim yang peka terhadap persoalan yang dihadapi oleh masyarakat di sekitarnya, serta mengubah pribadi muslim menjadi seseorang yang mampu menahan dan mengekang dirinya dari tindakan yang semata-mata hanya demi kepentingan sendiri dan kelompoknya.
Jika ibadah puasa ternyata tidak mampu menimbulkan perubahan sosial, memunculkan pribadi-pribadi muslim yang memiliki kepekaan dan solidaritas sosial, maka konsekuensinya adalah puasa hanya sebagai ajang menahan lapar dan dahaga saja. Rasulullah bersabda, yang artinya: “Betapa banyak orang yang berpuasa, yang diperolehnya dari puasa itu hanya lapar dan dahaga saja.”
Oleh sebab itu, Ramadhan yang datang setahun sekali ini adalah sebagai bukti Allah memberikan kesempatan yang untuk kesekian kalinya yang diberikan kepada kita, dan sudah barang tentu kita harus memanfaatkan kesempatan itu dengan sebaik-baiknya.
Setiap kita harus bisa memetik pelajaran dari datangnta Ramadan ini. Pelajaran yang paling utama selama Ramadhan adalah pembentukan diri.
Langkah yang paling utama dalam proses pembentukan diri adalah membiasakan diri berbuat baik, menjaga akhlak dan kelakuan. Mengintropeksi diri dari setiap kesalahan yang pernah diperbuat, menyibukkan diri untuk mencari tahu aib-aib sendiri dan berusaha keras untuk menyembuhkannya. Inilah kewajiban yang harus ditunaikan. Inilah tugas yang tersimpan di pundak kita untuk kita tuntaskan.
Di bulan Ramadhan perintah dan kehendak Allah kepada setiap insan mukmin adalah dengan segenap kemampuannya, perhatiannya, kesungguhannya, tekad dan konsentrasi penuh untuk bersegera menempa dan membentuk diri.
Tujuan dari Ramadhan adalah kesempatan besar bagi setiap mukmin untuk mencuci dan mensucikan dirinya dari berbagai dosa dan kesalahan. Manusia tidak bisa luput sepenuhnya dari kelalaian dan alpa, kadang baik terpaksa ataupun karena khilaf terjebak pada perbuatan dosa ataupun karena memang sengaja melakukannya.
Dengan datangnya bulan Ramadhan, kesempatan besar bagi mukmin untuk memperbaiki kesalahannya dan mengejar ketertinggalannya. Dan Ramadhanlah sebaik-baiknya kesempatan meraih ketinggian derajat spritual. (*)







