BONTANGPOST.ID, Bontang – Perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia tidak hanya berlangsung di Pulau Jawa. Di Kalimantan Timur (Kaltim), pemuda turut mengambil bagian melalui perlawanan bersenjata, gerakan bawah tanah, hingga penyebaran informasi untuk menjaga semangat rakyat mempertahankan Republik Indonesia.
Salah satu peristiwa penting dalam sejarah perjuangan di Kaltim adalah Peristiwa Merah Putih di Sanga-Sanga pada 27 Januari 1947. Saat itu, para pemuda yang tergabung dalam Badan Pembela Republik Indonesia (BPRI) melakukan perlawanan untuk merebut kendali wilayah dari penjajah.
Perjuangan juga berlangsung di Balikpapan dan Samarinda. Di tengah pengawasan ketat militer NICA, para pejuang menjalankan berbagai kegiatan secara sembunyi-sembunyi, mulai dari menyalurkan logistik hingga menyebarkan pamflet pro-Republik. Upaya tersebut menjadi bagian dari perjuangan menjaga semangat perlawanan masyarakat.
Pergerakan Pemuda Tumbuh di Tengah Keterbatasan Informasi
Kesadaran kebangsaan di Kaltim telah berkembang sebelum Indonesia merdeka. Sejarawan lokal Kaltim, Muhammad Sarip, mencatat keberadaan organisasi kepemudaan yang didirikan Abdul Gafoor. Organisasi tersebut kemudian berganti nama menjadi Persatuan Pemuda Indonesia (PERPI) pada 1938.
Sementara itu, informasi mengenai Sumpah Pemuda yang dicetuskan pada 28 Oktober 1928 tidak langsung menyebar luas di Kaltim. Kondisi geografis dan keterbatasan sarana komunikasi menjadi salah satu penyebab lambatnya informasi dari pusat pergerakan nasional diterima masyarakat di daerah.
“Di Kaltim informasi cukup lambat. Andalan penyebaran informasi nasional masih bergantung koran lintas pulau via laut,” ulas Sarip.
Meski demikian, keterlibatan tokoh dari wilayah Kaltim dalam pergerakan nasional juga tercatat dalam sejarah. AM Sangaji, tokoh Sarekat Islam yang pernah menetap di Tenggarong, disebut turut menghadiri Kongres Pemuda di Jakarta.
Pesan untuk Generasi Muda
Semangat perjuangan para pemuda terdahulu menjadi pengingat bahwa peran generasi muda tidak berhenti pada peringatan Sumpah Pemuda setiap 28 Oktober. Tantangan masa kini menuntut keterlibatan aktif dalam pembangunan, pengabdian kepada masyarakat, serta kemampuan menyikapi informasi secara kritis.
Gubernur Kaltim periode 2018–2023, Isran Noor, mengingatkan pemuda agar tidak hanya menjadi penonton dalam proses pembangunan. Ia mendorong generasi muda untuk berinisiatif dan mengambil bagian sesuai kemampuan masing-masing.
“Harus semangat, jangan merasa santai tapi harus melibatkan diri. Jangan menunggu orang. Bagi masyarakat Kaltim, terutama pemudanya,” tegasnya.
Sejarah perjuangan di Bumi Etam menunjukkan bahwa semangat persatuan dan pengorbanan dapat tumbuh di berbagai daerah. Nilai tersebut menjadi bekal bagi pemuda Kaltim untuk meneruskan perjuangan melalui kontribusi nyata di masa kini. (balpos)







