SANGATTA – Minimnya kesadaran penggunaan elpiji tiga kilogram di beberapa warung makan berpenghasilan di atas Rp.1 juta, di kawasan Sangatta Kabupaten Kutai Timur (Kutim) menjadi perhatian khusus bagi Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag).
Kepala Bidang Perdagangan Dalam Negeri Disperindag Kutim, Achmad Dony Evriady mengatakan dirinya sering menjumpai warung makan bahkan restoran nakal yang masih menggunakan gas melon dengan jumlah yang banyak.
Dirinya mengatakan hal seperti ini merupakan penyebab utama terjadinya kelangkaan gas dikalangan masyarakat berekonomi rendah. Sehingga pihaknya terus melakukan pergerakan untuk mencegah kejadian itu terulang kembali.
“Saya juga terkadang geram dengan penjual makanan yang berpenghasilan jutaan setiap harinya tapi minim kesadaran. Masih sangat banyak di Sangatta ini yang saya dapati menggunakan gas hak rakyat. Padahal kan mereka terbilang mampu untuk membeli gas non subsidi,” katanya.
Dony menjelaskan kejadian tersebut diketahuinya saat timnya melakukan sidak di semua warung makan. “Saya baru mengetahui warung-warung tersebut menyimpan banyak stok tabung. Padahal kan kalau mereka jujur, masyarakat Kutim tidak akan kekurangan gas. Kita bisa prediksi, jika satu warung memiliki 10 tabung, dikalikan dengan 20 restoran saja, sudah 200 tabung gas melon digunakan oleh yang bukan haknya,” tandasnya.
Dia menceritakan ketika dirinya melakukan sidak kala itu, ia sempat menemukan 50 gas bersubsidi yang dipakai oleh salah satu warung. Atas hal itu, pihaknya memberikan sanski dengan menutup warung sampai mereka mengganti gas elpijinya.
Dia mengimbau pada seluruh pangkalan gas untuk menempel aturan perihal pembeli yang berhak. Agar penggunaan elpiji tiga kilogram tidak salah sasaran.”Tidak hanya warung makan, beberapa waktu lalu, saya pernah mengunjungi pangkalan, saat itu ada seorang wanita mengenakan pakaian PNS membeli dua tabung elpiji subsidi. Kemudian saya tegur, pasalnya mereka sangat dilarang untuk menggunakan gas itu. Jadi semua agen resmi kami beri pengumuman hak. Agar semua bisa saling mengerti dan membantu warga yang berhak tidak kesulitan mendapatkan gas,” tutupnya. (*/la)



