Beberapa taman di Samarinda tampak sepi. Selain dikarenakan rusaknya beberapa ornamen penghias taman, juga dikarenakan minimnya fasilitas yang tersedia. Sehingga, membuat sebagian warga mulai meninggalkan ruang publik tersebut.
DEVI NILA SARI, Samarinda
Taman Cerdas salah satunya. Menurut pantauan media ini, banyak ornamen patung penghias yang rusak. Mulai dari beberapa bagian patung seperti mulut, telinga, hidung atau tangan yang patah, hingga patung yang hanya menyisakan kakinya saja. Dengan kata lain badannya raib.
Selain itu, fasilitas olahraga yang terletak di pinggir taman pun hanya menjadi mainan anak-anak. Tidak digunakan sebagaimana fungsinya yaitu untuk berolahraga.
Salah seorang pengunjung Taman Cerdas, Indriyani mengatakan, ia menyukai taman yang terletak di samping rumah jabatan Wali Kota Samarinda tersebut. Karena lebih rindang jika dibandingkan taman-taman lainnya. Walaupun diakui, kurangnya fasilitas membuat taman yang yang diresmikan sejak 2014 itu semakin sepi peminat.
“Tamannya minim fasilitas. Harusnya ada wahana edukasi lain. Seperti panggung yang bisa digunakan anak-anak berkreativitas. Jadi tamannya tidak sekadar kursi, patung, dan taman bermain. Apalagi patung-patungnya sudah banyak yang rusak,” ungkap mahasiswi Unmul itu, Rabu (4/7) kemarin.
Miris memang, mengingat di masa jayanya ketika banyak patung tokoh kartun masih terpajang rapi di sekeliling taman, setiap senja ruang publik di Jalan S Parman ini tak pernah sepi peminat. Tempat ini masih eksis jika dijadikan tempat untuk sekadar berfoto dan bersantai bersama teman maupun keluarga.
Terlebih ketika malam hari. Kurangnya penerangan membuat tempat yang seharusnya menjadi salah satu tempat wahana edukasi ini sering dicurigai sebagai tempat mesum beberapa anak muda. Ya, penampakan Taman Cerdas ketika malam hari memang terlihat seram dan remang-remang.
Lain halnya dengan Taman Cerdas yang mulai sepi peminat, Samarinda memiliki ikon baru yang pembangunannya menjadi sorotan setiap warga Kota Tepian yaitu Taman Samarendah. Selain letaknya di tengah kota, taman yang dalam pembangunannya menggeser dua sekolah tersebut juga memiliki daya tarik sendiri berupa museum yang terletak tepat di sebelahnya dan menara lampu.
Walaupun Museum Samarendah belum dibuka untuk umum, namun keindahan lampu hias yang pembangunannya menggunakan dana corporate social responsibility (CSR) itu mulai memancarkan pesonanya sejak beberapa hari lalu.
Hal itu diakui salah seorang pengunjungnya yaitu Ani. Ia mengatakan, jika dilihat saat siang hari lampu hias yang menjadi salah satu daya tarik taman tersebut memang biasa saja. Namun, ketika malam hari, keindahannya tidak perlu diragukan. Mengingat, PT Vista Media yang menangani proyek tersebut jauh-jauh memesan lampu hias dari luar negeri.
Walau demikian, Ani mengungkapkan untuk saat ini Taman Samarendah masih sepi pengunjung. Selain karena masih kurangnya fasilitas. Ia pun menyoroti jalan di sekitar taman yang masih belum rata.
“Jalannya masih rusak. Museumnya juga belum dibuka. Harapannya semoga pemerintah kota dapat lebih memperhatikan hal ini agar Taman Samarendah semakin ramai,” ujarnya. (***)







