BONTANG – Wakil Wali Kota (Wawali) Bontang, Basri Rase membuka Pelatihan Pendampingan anak Disabilitas Korban Kekerasan Tahun 2018 di Ballroom Hotel Tiara Surya, Senin (17/9) pagi. Kegiatan ini diikuti perwakilan Sekolah Luar Biasa (SLB) se-Bontang, penyandang disabilitas dan Lembaga Pencegahan, Penanganan Perempuan dan Anak yang mengalami trauma dan tindak kekerasan (Teripang Laut) di beberapa kelurahan.
Dalam arahannya, Basri menekankan bahwa anak penyandang disabilitas memiliki hak yang sama dengan anak normal lainnya. Namun kenyataannya dalam kehidupan sehari-hari, anak disabilitas belum sepenuhnya mendapatkan haknya untuk berpartisipasi secara penuh dalam kehidupan bermasyarakat.
“Hal ini karena masih adanya stigmatisasi, terbatasnya layanan pendidikan, layanan kesehatan, akses pada sarana dan prasarana lingkungan, transportasi dan kesempatan untuk bekerja,” kata Basri.
Atas pertimbangan ini, dia pun menyebut orang tua dan masyarakat di lingkungan bertanggung jawab memenuhi hak anak penyandang disabilitas. Menurutnya, perlu dilakukan upaya penanganan yang meliputi hak untuk hidup, hak tumbuh berkembang secara optimal, hak berpartisipasi sesuai dengan minat dan potensi.

“Keberadaan pendamping bagi anak berkebutuhan khusus pun memiliki makna yang berarti bagi proses perlindungan dan tumbuh kembang anak,” sebut Basri.
Karena itu, perlu adanya peningkatan kapasitas pendamping. Sehingga pendamping memiliki keterampilan mengasuh dan melayani. Dalam hal ini peningkatan kapasitas yang dimaksud yaitu di bidang kesehatan, pendidikan, unit pelayanan pengaduan di masyarakat. Yang diharapkan memberikan dampak positif dalam merawat, memelihara, mendidik, dan meramu bakat atau potensi yang dimiliki setiap anak disabilitas.
“Anak-anak kita ini perlu dorongan, tuntunan dan praktik langsung secara bertahap. Saya yakin potensi yang dimiliki anak-anak kita ini akan tumbuh berkembang seiring keberhasilan peran pendamping dalam memahami dan memupuk potensi anak tersebut,” ujar Basri.
“Didukung dengan kesiapan orang tua, ditambah masyarakat dan pemerintah dalam menyediakan lingkungan dan fasilitas yang ramah anak dengan disabilitas,” sambungnya.
Usai pelatihan ini, Basri berharap semakin banyak SDM yang memiliki pandangan positif dalam memandang anak dengan disabilitas. “Semakin banyaknya orang yang memiliki perspektif positif terkait disabilitas, secara otomatis akan mendorong kepekaan orang, maupun pengambil kebijakan untuk mau ikut serta dan berkontribusi positif dalam pemenuhan hak anak dengan disabilitas,” tutupnya.
Pada kesempatan ini pula Basri Rase menyerahkan alat bantu dengar, kursi roda, dan Alquran Braille kepada penyandang disabilitas. Narasumber yang dihadirkan adalah Ketua Himpunan Wanita Disabilitas Indonesia dan Psikolog Klinis P2TP2A Provinsi DKI Jakarta, Muliani beserta tim. (hms8)







