Teror bom mengguncang Kota Tepian, Senin (13/2). Lokasinya di Kantor Cabang Pembantu Bank Rakyat Indonesia (KCP BRI) Jalan Pangeran Suryanata, Kelurahan Bukit Pinang, Kecamatan Samarinda Ulu. Warga ibu kota Kaltim pun dibuat resah.
Ini adalah untuk kedua kalinya kejadian yang diidentikkan dengan terorisme terjadi di Kota Tepian. Kasus pertama, tentu saja pengeboman di Gereja Oikumene, di Jalan Cipto Mangunkusumo Kelurahan Sengkotek, Kecamatan Loa Janan Ilir, Samarinda, 13 November 2016 pukul 10.10 Wita silam, yang menewaskan balita.
Belum hilang trauma Bubuhan Samarinda, teror serupa kembali terjadi.
Adalah Agus Fitriana yang bikin ulah. Perampok 29 tahun itu mengancam akan meledakkan KCP BRI sekira pukul 11.00 Wita kemarin. Keruan saja, belasan nasabah berhamburan. Aksi Agus benar-benar kayak teroris kelas profesional.
Aksi warga Dusun Pulau Mas, RT 006, Desa Bhuana Jaya, Kecamatan Tenggarong Seberang, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) itu benar-benar nekat. Jelang siang bolong, Agus masuk ke bank.
Dia mengabaikan pertanyaan Bayu Andi Saputra, sekuriti bank yang berjaga seorang diri.
“Seperti biasa, saya menanyakan maksud dan tujuan kepada setiap orang yang masuk ke bank,” jelas Bayu.
Awalnya, tak ada yang curiga dengan Agus. Pasalnya, penampilannya layaknya nasabah yang hendak melakukan transaksi di bank.
“Saya pikir malah dia (pelaku, Red.) orang bisu, karena tidak menjawab dan mengeluarkan kertas,” timpal Bayu.
Namun, mata Bayu sontak terbelalak saat melihat tulisan: “saya minta uang Rp 50 juta, atau saya ledakkan bom ini”.
Jari tangan kanan pelaku lantas menunjukkan tas selempang warna biru gelap berbahan kain.
Bayu pun melawan Agus yang punya badan gempal. Mengenakan hem biru lengan panjang, Agus berusaha mencakar sekuriti bank. Namun, usaha pria yang diketahui sebagai karyawan tambang PT Pama di Site Separi, Kukar itu sia-sia.
Kegaduhan di gedung menambah resah nasabah. Bom rakitan terlempar keluar ketika Bayu dan Agus bergelut. Karyawan bank lantas lari ke atas dan berteriak minta tolong.
“Tolong, ada bom, Pak,” teriak seorang perempuan sembari lari tergesa-gesa berusaha menyelamatkan diri.
Seketika itu, suasana tenang di teller bank berubah panik. Sama halnya Titah. Karyawan BRI yang punya tugas melayani nasabah itu terburu-buru menghubungi keluarganya di kepolisian.
“Uwa, cepat ke sini (BRI, Red.). Ada bom di kantor,” teriaknya. Di ujung telepon, Iptu Hardi sebagai Kasubag Humas Polresta Samarinda adalah pria yang dihubungi tersebut.
Di atas lantai, sekuriti Bayu terduduk. Seragamnya kusut. Di sudut lain, belasan nasabah berhamburan menyelamatkan diri. Namun, ada pula yang mencoba mengamankan Agus.
Tak sampai 10 menit, jajaran Polsekta Samarinda Ulu sudah tiba di tempat kejadian perkara (TKP). Dengan kedua tangan terborgol, pria gempal berambut lurus belah kiri itu dibawa ke Polsekta Samarinda Ulu.
Dengan wajah lebam dan lecet di beberapa badan, Agus tak bisa melawan. Puluhan warga yang tersulut emosi karena ulahnya mendaratkan bogem mentah. Dari tas yang berisikan bom, pelaku kedapatan membawa pisau dapur, obeng, dan rompi seragam tempatnya bekerja.
Berhasil diamankan, petugas lantas memasang kursi plastik dan tali rafia menandakan ada bom di tengah jalan. Lalu lintas kawasan tersebut pun tak bisa dilintasi, baik dari arah Tenggarong menuju Samarinda Kota, maupun sebaliknya.
Di tengah jalan, delapan pipa berukuran 15 sentimeter dibalut lakban putih berlilitkan kabel merah, biru, dan hitam menambah kecemasan. Pemicunya diketahui menggunakan PCB (printed circuit board) powerbank yang disambung dengan baterai berukuran sedang.
Sementara di bagian lain, kertas aluminium foil dibungkus berisikan pasir basah.
Untuk menjinakkan bom, tim Gegana Brimob Polda Kaltim dikerahkan. Brigpol Saidi Amri Ritonga yang mengenakan baju antipeledak, dibantu rekan-rekannya berusaha menjinakkan rangkaian bom.
Media ini menelusuri bagaimana pembuatan bom oleh Agus. Bak pelaku profesional, pria kelahiran Karawang, Jawa Barat, itu menyusun rangkaian bom dari sebuah video tutorial.
Berdurasi sekira 3 menit, video yang diketahui dari sebuah film layar lebar Bollywood itu ditonton dari komputer di indekosnya. Sayang, polisi belum berani membeberkan keseluruhan terkait rakitan bom.
Berdasarkan penelusuran, bom tersebut dirakit pelaku sejak 10 hari lalu. Nah, jika berhasil meledak, jarak ledaknya bisa sampai 25 meter.
Kapolresta Samarinda Kombes Pol Eriadi, menjelaskan, aksi Agus tergolong teror namun dengan keperluan untuk pribadi.
“Pelaku dililit utang, dia mencoba mengancam pihak bank untuk mendapatkan uang Rp 50 juta,” ujar Eriadi.
Perwira berpangkat melati tiga itu menegaskan bakal menyelidiki kehidupan pelaku. Lanjut dia, bank sudah bekerja sama dengan baik dengan menempatkan anggota yang bertugas menjaga keamanan.
GEMAR JUDI ONLINE
Setelah sukses membuat geger lewat ancaman bom pipa, Agus mendadak terkenal. Dia merupakan perantauan asal Jawa Barat. Selama beberapa tahun terakhir, dia bekerja di sebuah perusahaan tambang di Tenggarong Seberang.
Berdasarkan alamat kartu tanda penduduk (KTP) yang dimiliki, dia bermukim di RT 006, Dusun Pulau Mas, Desa Bhuana Jaya, Kecamatan Tenggarong Seberang. Setelah dilakukan pengecekan oleh petugas, rupanya tersangka sudah sekira 1,5 tahun terakhir tak lagi tinggal di rumah tersebut.
Dia rupanya menyewa sebuah bangsal milik warga berinisial EF No 65, RT 001, Desa Bukit Pariaman, Kecamatan Tenggarong Seberang.
Informasi yang dihimpun dari kepolisian, Agus selama ini bekerja di PT Tekindo Mitra Mandiri, tepatnya di subkontraktor PT Pama sebagai operator unit. Berdasarkan keterangan seorang sumber, tersangka dikenal sebagai sosok yang tertutup, pendiam serta jarang bergaul dengan warga sekitar.
Dari sumber yang sama, tersangka juga kerap didatangi oleh sejumlah temannya serta pihak leasing sepeda motor lantaran tagihan bulanan yang menunggak.
Selain itu, tersangka memiliki hobi judi online dengan sistem tanam saham melalui gadget. Hal itulah yang diduga kuat menyebabkan tersangka memiliki banyak utang setelah menanggung banyak kerugian.
Berdasarkan sumber di Polres Kukar, Agus rupanya juga sudah sepekan tak masuk kerja serta tidak pulang ke indekos.
“Informasinya karena di indekos sering didatangi teman juga leasing yang menagih utang,” ujar sumber yang namanya enggan dikorankan.
Selama ini, tersangka hanya bergaul dengan lingkungan sesama pekerja di perusahaan. Sedangkan untuk aktivitas keagamaan disebut tidak terlalu fanatik serta jarang terlihat melakukan ibadah.
Sekira pukul 14.00-16.30 Wita, tim gabungan TNI dan Polri mendatangi lokasi rumah tersangka. Sejumlah perwira hadir dalam kegiatan tersebut. Seperti Danramil Tenggarong Seberang Kapten (Inf) Masrum, Kabag Ops Polres Kukar Kompol Andin Wisnu, Kasat Intel AKP Rustam, Kapolsek Teluk Dalam AKP Supriadi, serta Tim Inafis Sat Reskrim Polres Kukar.
Di kediaman pelaku, petugas menyita sejumlah barang bukti. Di antaranya, pipa paralon ukuran 1 meter dan 20 sentimeter, alat solder berwarna biru, obeng, rangkaian elektronik, kertas aluminium foil, gayung mandi yang di dalamnya terdapat bungkusan kertas aluminium foil, tiga buku tabungan, kartu keluarga, ijazah SMP, sertifikat pengalaman kerja, akta kelahiran serta komputer putih.
Barang tersebut akan diserahkan kepada Polsekta Samarinda Ulu untuk penyelidikan lebih lanjut. (*/dra/qi/rom/kpg/gun)
TEROR BOM IBU KOTA
Tentang Agus Fitriana
– Sesuai KTP, pria kelahiran Karawang 29 tahun silam tinggal di Dusun Pulau Mas, RT 006, Desa Bhuana Jaya, Kecamatan Tenggarong Seberang, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar).
– Namun setelah dicek petugas, sudah sekira 1,5 tahun pelaku tidak tinggal sesuai alamatnya. Melainkan menyewa bangsal milik warga berinisial EF, nomor 65, RT 001, Desa Bukit Pariaman, Kecamatan Tenggarong Seberang.
– Sebelumnya dia bekerja di PT Tekindo Mitra Mandiri, tepatnya di subkontraktor PT Pama sebagai operator unit.
– Agus Fitriana dikenal sebagai sosok yang tertutup, pendiam, serta jarang bergaul dengan warga. Tersangka juga diketahui hanya bergaul dengan lingkungan sesama pekerja di perusahaan. Sedangkan untuk aktivitas keagamaan disebut tidak terlalu fanatik serta jarang terlihat melakukan ibadah.
– Tersangka diketahui gemar bermain judi online dengan sistem tanam saham melalui gadget. Hal itulah yang diduga kuat menyebabkan tersangka memiliki banyak utang setelah menanggung banyak kerugian.
Tentang Bom
– Delapan pipa berukuran 15 sentimeter dibalut lakban putih yang dililit kabel merah, biru, dan hitam. Pemicu bom menggunakan PCB (printed circuit board) powerbank yang disambung dengan baterai berukuran sedang. Kemudian, ada kertas aluminium foil berisikan pasir basah.
– Bom buatan Agus Fitriana disimpan dalam tas selempang warna biru gelap berbahan kain.
– Tersangka menyusun rangkaian bom dari sebuah video tutorial berdurasi sekira 3 menit. Video diketahui dari sebuah film layar lebar Bollywood di komputer tersangka.
– Di kediaman pelaku, petugas menyita pipa paralon ukuran 1 meter dan 20 sentimeter, alat solder berwarna biru, obeng, rangkaian elektronik, kertas aluminium foil, gayung mandi yang di dalamnya terdapat bungkusan kertas aluminium foil, tiga buku tabungan, kartu keluarga, ijazah SMP, sertifikat pengalaman kerja, akta kelahiran serta komputer putih.







