• Indeks Berita
  • Redaksi
  • Mitra
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber
  • Pedoman Pemberitaan Ramah Anak
  • Kontak
Bontang Post
  • Home
  • Bontang
  • Kaltim
  • Nasional
  • Advertorial
    • Advertorial
    • Pemkot Bontang
    • DPRD Bontang
  • Ragam
    • Infografis
    • Internasional
    • Olahraga
    • Feature
    • Resep
    • Lensa
  • LIVE
No Result
View All Result
  • Home
  • Bontang
  • Kaltim
  • Nasional
  • Advertorial
    • Advertorial
    • Pemkot Bontang
    • DPRD Bontang
  • Ragam
    • Infografis
    • Internasional
    • Olahraga
    • Feature
    • Resep
    • Lensa
  • LIVE
No Result
View All Result
Bontang Post
No Result
View All Result
Home Breaking News

Serial Karang Mumus (13) Perahu Pasir

by BontangPost
18 Februari 2017, 13:01
in Breaking News
Reading Time: 3 mins read
0
Ilustrasi(Misman Rsu/Net)

Ilustrasi(Misman Rsu/Net)

Share on FacebookShare on Twitter

 

Saat Sungai Karang Mumus ramai dilewati oleh kapal dan perahu pembawa, kayu dan hasil bumi lainnya bukanlah masa yang dikenali dan dialami oleh Mustofa. Semua itu hanya didengarnya lewat cerita. Mustofa lahir dan besar di tepian Sungai Karang Mumus ketika sungai itu mulai sepi dari perahu dan ramai dengan lumpur, sampah serta limbah.

Kini yang rutin terlihat oleh Mustofa adalah perahu para pemancing yang mulai berangkat sore hari, beberapa perahu barang yang masih sering bolak-balik dari dan ke Pasar Segeri. Sementara perahu yang agak besar adalah perahu pasir yang datang dari Sungai Mahakam ke penumpukan pasir di sebelah Jembatan Baru.

Pagi-pagi perahu-perahu itu sudah datang, bisa puluhan perahu berjajar di penumpukan pasir yang berada di tepian sungai itu. Pasir itu disedot dari Sungai Mahakam dan kemudian dibawa masuk ke Sungai Karang Mumus dari muaranya.

Jika air Sungai Karang Mumus pasang tinggi, perahu-perahu itu terkadang berjajar dahulu di sisi Jalan Tarmidi, menunggu air sedikit surut sehingga atap perahu tak tertahan oleh pipa-pipa yang melintang di bawah Jembatan Baru.

Baca Juga:  Rahmad Mas’ud Jadi Plt Wali Kota 

“Pasir dari mana ini Om,”

“Dari Sungai Mahakam,”

“Ngambilnya bagaimana?”

“Disedot,”

“Pakai mesin?”

“Iya lah masak pakai mulut,”

“Oh, kalau masak di dapur Om, bukan di mulut,” balas Mustofa sekenanya.

Om pembawa perahu hanya tersenyum saja, dia tidak tersinggung dengan jawaban Mustofa, Buat dia memang begitu gaya anak-anak sekarang.

“Kenapa istirahat di sini om, lelah kah?”

“Bukan istirahat tapi nda bisa lewat,”

“Kok bisa, airnya banyak saja itu,”

“Airnya ketinggian, atap kapal sangkut di bawah jembatan,”

Mustofa kemudian melihat ke arah jembatan. Jarak permukaan air dengan bawah jembatan yang juga menjadi tempat untuk melintas pipa memang dekat. Tinggi perahu yang kurang lebih satu setengah meter dari permukaan air memang tak memungkinkan untuk lewat.

“Om itu airnya memang tinggi atau karena sungainya yang dangkal,”

“Betul sudah itu kamu, sungainya yang dangkal karena lumpur. Dulu biar pasang kita masih bisa tetap lewat,”

“Yang bikin dangkal sungai ini apa om,”

“Lumpurlah,”

“Lumpur dari mana om?”

“Dari mana-mana, dari gunung yang dibongkar, bukit yang diratakan untuk perumahan, atau ditambang untuk diambil batubaranya,” jawab Om pembawa perahu pasir.

Baca Juga:  Yayasan Dilarang Gaji Guru di Bawah UMP 

Mustofa ingat pelajaran di sekolah tentang erosi. Tanah, bebukitan atau apapun yang terbuka lantara pohon-pohonnya ditebangi kalau hujan turun, tanah permukaannya bakal terbawa oleh air hujan yang mengalir di permukaan. Kata guru sekolahnya, aliran air hujan yang jatuh ke tanah dan membawa lumpur lalu masuk got atau sungai akan menghasilkan sedimentasi, pendangkalan karena lumpur.

“Jadi menurut om, sungai ini mengalami pendangkalan atau didangkalkan,”

“Aish ….. om nda sekolah, kalau tanya jangan yang bikin om lapar,”

Esok pagi disekolah, sebelum pelajaran mulai, Mustofa bertanya pada gurunya.

“Guru, boleh tanya lebih dahulu apa tidak?”

Guru tidak menjawab namun Mustofa langsung mengajukan pertanyaan “Apa beda pendangkalan dan didangkalkan?”

“Pendangangkalan itu artinya kejadian dangkal yang tidak disengaja, bersifat alami. Sementara didangkalkan mengandung arti aktif, sengaja. Kata lain dari didangkalkan itu ya pengurukan, kalau sampai airnya hilang dan jadi daratan itu reklamasi,” terang Guru panjang lebar.

“Nah kalau Karang Mumus itu pendangkalan atau didangkalkan?”

“Menurut kamu?” Guru balik bertanya untuk menguji daya kritis Mustofa.

Baca Juga:  Relokasi Warga Bantaran SKM Jalan di Tempat

“Kalau dari cerita tukang perahu pasir ya didangkalkan. Dia bilang bukit atau gunung di sekitar Sungai Karang Mumus banyak yang dibongkar, ada yang untuk perumahan dan banyak yang jadi tambang.” jawab Mustofa ingat ceritanya dengan tukang perahu pasir.

“Nah, itu kamu tahu. Apalagi coba,”

“Orang buang sampah sembarang. Sampah itu lalu mengendap di dasar sungai,”

“Nah, masih ada lagi nggak?”

“Ya perahu pasir itu,”

“Kok bisa?”

“Perahu pasir itu setelah bongkar muatan di penumpukan akan dibersihkan dengan disemprot, nah sisa pasirnya jatuh ke sungai. Kalau sehari ada 10 lebih perahu pasir yang dibersihkan di Sungai Karang Mumus berarti berkarung-karung pasir terbuang ke sungai. Kalau sebulan kan lumayan banyak, apalagi setahun,” terang Mustofa.

“Lah, kalau kamu sudah tahu apa maksudmu tadi bilang bertanya?”

“Ya biar bisa kasih tahu ke yang lainnya. Kalau saya bilang mau bikin pengumuman kan nggak enak,”

“Mumus, kelakuanmu ini modus namanya,” ujar Guru.

“Iya, tapi nggak mainstream kan,” kata Mustofa, entah paham atau tidak artinya.

@yustinus_esha

Print Friendly, PDF & Email
Tags: Metro SamarindaSerial Karang Mumus
ShareTweetSendShare

Bergabung dengan WhatsApp Grup Bontang Post untuk mendapatkan informasi terbaru: Klik di Sini. Simak berita menarik bontangpost.id lainnya di Google News.

Ikuti berita-berita terkini dari bontangpost.id dengan mengetuk suka di halaman Facebook kami berikut ini:


Previous Post

Jelang Pusamania Borneo FC vs Sriwijaya FC, Menang atau Pulang

Next Post

Posisi Adi Darma Menurun, Nusyirwan Mengancam

Related Posts

Kontrak LNG Habis, Isran: Tak Masalah
Kaltim

Kontrak LNG Habis, Isran: Tak Masalah

23 Desember 2018, 16:30
Bisnis Hotel Diprediksi Terus Tumbuh 
Kaltim

Bisnis Hotel Diprediksi Terus Tumbuh 

22 Desember 2018, 16:30
Pemprov Ingin Pembangunan Masjid Tetap Dilanjutkan, Kinibalu Bakal Dicarikan Pengganti 
Kaltim

Pekerja Berhak Atas Jaminan Sosial

22 Desember 2018, 16:10
Gelar Kegiatan Donor Darah, Libatkan Semua Kalangan Masyarakat
Kaltim

Gelar Kegiatan Donor Darah, Libatkan Semua Kalangan Masyarakat

22 Desember 2018, 16:00
Isran Pastikan Harga Sembako di Batas Wajar 
Kaltim

Isran Pastikan Harga Sembako di Batas Wajar 

21 Desember 2018, 16:30
2019, Ekonomi Tumbuh Lambat 
Kaltim

2019, Ekonomi Tumbuh Lambat 

21 Desember 2018, 16:20

Terpopuler

  • Proyek Renovasi Rujab Kaltim Rp25 Miliar Sampai ke Pusat, Kemendagri Turunkan Tim Periksa Belanja

    Proyek Renovasi Rujab Kaltim Rp25 Miliar Sampai ke Pusat, Kemendagri Turunkan Tim Periksa Belanja

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Satpol PP dan Dishub Kembali Tertibkan PKL dan Parkir Liar di Trotoar Bontang

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • 1.700 Personel Kawal Demo 21 April di Samarinda, Kantor Gubernur dan DPRD Jadi Sasaran Aksi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Resep Cumi Hitam, Lezat dan Memanjakan Lidah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Jalan Amblas di KM 6 Bontang Ditambal Sementara, Perbaikan Total Tunggu Pusat

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Kategori

Arsip

  • Indeks Berita
  • Redaksi
  • Mitra
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber
  • Pedoman Pemberitaan Ramah Anak
  • Kontak

© 2020 Bontangpost.id - Developed by Vision Web Development.

No Result
View All Result
  • Home
  • Bontang
  • Kaltim
  • Nasional
  • Advertorial
    • Advertorial
    • Pemkot Bontang
    • DPRD Bontang
  • Ragam
    • Infografis
    • Internasional
    • Olahraga
    • Feature
    • Resep
    • Lensa
  • LIVE

© 2020 Bontangpost.id - Developed by Vision Web Development.